Waspada Kebangkrutan Amal, Penghulu KUA Haranggaol Horison Ingatkan Pentingnya Kesalehan Sosial
Daerah

Waspada Kebangkrutan Amal, Penghulu KUA Haranggaol Horison Ingatkan Pentingnya Kesalehan Sosial

  10 Apr 2026 |   42 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Pematangsiantar, (Humas). Suasana khidmat menyelimuti Masjid Jami' Assa'idah yang berlokasi di Jalan Siatas Barita, Siantar Timur, saat pelaksanaan ibadah salat Jumat (10/04). Ratusan jamaah yang memadati masjid tersebut tampak antusias mendengarkan pesan-pesan spiritual yang disampaikan oleh khotib mengenai esensi keselamatan seorang hamba di akhirat kelak agar tidak berakhir dalam kerugian yang nyata.

Bertindak sebagai khotib pada kesempatan tersebut adalah Hamidi Asgori Lubis, yang merupakan Penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Haranggaol Horison. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema sentral mengenai bahaya menjadi golongan orang yang bangkrut dalam amal ibadah atau "muflis" saat menghadap Sang Pencipta, sebuah kondisi yang sering kali tidak disadari oleh banyak ahli ibadah.

Mengawali narasinya, Hamidi mengajak jamaah untuk merenungkan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut menceritakan dialog antara Rasulullah ﷺ dengan para sahabat mengenai definisi orang yang paling merugi di hari kiamat, yang memberikan gambaran jelas mengenai keadilan di pengadilan Ilahi.

Ia menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut, para sahabat menjawab dengan perspektif duniawi yang umum. Mereka mengira orang yang bangkrut di antara mereka hanyalah orang yang tidak lagi memiliki uang dirham maupun harta benda materi untuk mendukung kehidupan ekonominya.

Namun, Hamidi menekankan bahwa Rasulullah ﷺ kemudian meluruskan pandangan tersebut dengan perspektif ukhrawi. Beliau menjelaskan bahwa kebangkrutan yang sesungguhnya bukan terjadi di pasar atau dalam perniagaan dunia, melainkan kebangkrutan yang dialami oleh umatnya di hadapan pengadilan Allah Ta'ala setelah seluruh amal diperhitungkan secara saksama.

Khotib memaparkan bahwa orang yang bangkrut tersebut sebenarnya adalah orang yang rajin menjalankan syariat Islam secara ritual. Mereka datang membawa pahala salat yang terjaga, puasa yang tertunai dengan baik, serta zakat yang rutin dikeluarkan, sehingga secara lahiriah mereka tampak seperti hamba yang sukses dalam mengumpulkan pundi-pundi pahala. 


Sayangnya, tumpukan amal baik tersebut tergerus habis oleh perilaku buruk dalam interaksi sosial. Hamidi merinci berdasarkan hadits tersebut bahwa pahala orang tersebut akan terkuras karena semasa hidupnya ia gemar mencaci orang lain, melontarkan tuduhan atau fitnah, memakan harta orang lain secara bathil, bahkan sampai menumpahkan darah dan melakukan kekerasan fisik kepada sesama.

Secara mendalam, Hamidi menggambarkan prosesi keadilan Allah di mana pahala kebaikan sang ahli ibadah akan dipotong dan diberikan secara otomatis kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Satu per satu korban kezaliman tersebut datang menuntut hak mereka, sehingga simpanan pahala yang telah dikumpulkan bertahun-tahun akhirnya habis tak bersisa demi membayar "hutang" perilaku buruk tersebut.

Lebih mengerikan lagi, jika pahala kebaikan tersebut telah habis sementara hutang kezalimannya belum terlunasi, maka dosa-dosa dari orang yang pernah dizalimi akan diambil dan ditimpakan kepadanya. Akibatnya, orang yang semula datang membawa tumpukan pahala justru harus menanggung beban dosa orang lain hingga akhirnya ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Menutup khutbahnya, Hamidi Asgori Lubis memberikan kesimpulan krusial bagi para jamaah agar senantiasa menjaga keseimbangan dalam beragama. Ia mengingatkan dengan tegas bahwa sangat penting bagi setiap Muslim untuk menjadi saleh secara ritual, namun jangan sampai hal itu dirusak oleh masalah sosial, karena ibadah kepada Allah tidak akan sempurna jika hubungan dengan sesama manusia masih diwarnai kezaliman. (MHS/HAL)

Bagikan Artikel Ini

Infografis