Opini
Tugas Penghulu di Era Digital: Menggeser Fokus dari Wedding Planning ke Marriage Preparation
28 Apr 2026 | 18 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Tugas Penghulu di Era Digital: Menggeser Fokus dari Wedding Planning ke Marriage Preparation
Oleh :
Ilham Syahjalil, S.Ag*
Di era gempuran tren Wedding Aesthetic di sosial media, seringkali kita melupakan bahwa pernikahan itu akhir dari segalanya padahal ia adalah awal dari segalanya. Kita sering kali lupa bahwa pernikahan bukanlah garis finis, melainkan garis start. Banyak pasangan menghabiskan waktu berbulan-bulan merencanakan satu malam pesta, namun lupa merencanakan puluhan tahun hidup bersama. Menikah di era modern bukan lagi sekadar mengikuti tuntutan umur atau status sosial. Ia adalah sebuah kemitraan strategis.
Di dalamnya ada negosiasi finansial, pembagian peran domestik yang adil, hingga penyelarasan visi tentang kesehatan mental. Kita perlu berhenti memuja "cinta buta" dan mulai menghargai "kesadaran penuh" dalam memilih pasangan. Pernikahan yang tangguh tidak dibangun di atas pasir perasaan yang pasang surut, melainkan di atas batu karang komitmen dan komunikasi yang logis.
Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan sebuah pembentukan institusi terkecil dalam masyarakat yang membutuhkan manajemen, visi, dan kerja sama tim yang solid. Saat ini, kita terjebak dalam budaya "pesta satu malam" yang menguras energi dan finansial secara besar-besaran. Media sosial memperparah ini dengan standarisasi estetika pernikahan yang sering kali mengaburkan substansi dari apa yang terjadi setelah lampu dekorasi dipadamkan. Kita perlu menggeser fokus dari sekadar merencanakan hari pernikahan (wedding planning) menuju persiapan kehidupan pernikahan (marriage preparation) yang jauh lebih panjang dan menantang.
Melihat pernikahan sebagai "kemitraan strategis" bukan berarti menghilangkan nilai kesakralan atau kasih sayang di dalamnya. Sebaliknya, cara pandang ini justru memuliakan komitmen dengan meletakkannya di atas fondasi yang rasional. Dalam kemitraan ini, cinta adalah bahan bakar, namun komunikasi dan kesepakatan nilai adalah mesin yang menjalankan kendaraan rumah tangga agar tidak mogok di tengah jalan. Salah satu pilar utama dalam kemitraan ini adalah transparansi finansial. Di masa lalu, membicarakan uang sebelum menikah dianggap tabu atau tidak romantis, padahal masalah ekonomi adalah salah satu pemicu utama keretakan rumah tangga. Pasangan harus mampu duduk bersama untuk memetakan aset, utang, hingga gaya hidup yang akan dijalani, sehingga tidak ada bom waktu yang meledak di kemudian hari.
Selain finansial, pembagian peran domestik menjadi krusial untuk dibahas secara strategis. Era di mana beban rumah tangga hanya bertumpu pada satu pundak telah berlalu. Kemitraan yang sehat mengharuskan adanya negosiasi yang adil mengenai siapa yang melakukan apa, tanpa terjebak pada stereotip gender yang kaku. Hal ini memastikan bahwa tidak ada pihak yang merasa dieksploitasi atau kehilangan ruang untuk berkembang secara pribadi. Pernikahan juga merupakan penyelarasan dua manajemen risiko. Setiap individu membawa "bagasi" masa lalu, trauma, hingga kebiasaan buruk masing-masing. Sebagai mitra strategis, pasangan harus sepakat bagaimana mengelola konflik yang muncul. Alih-alih saling menyalahkan saat badai datang, mitra yang baik akan fokus pada solusi dan bagaimana menjaga agar organisasi keluarga tetap stabil di tengah ketidakpastian.
Visi tentang masa depan, termasuk pola asuh anak dan pengembangan karier, harus menjadi bagian dari kesepakatan kerja sama ini. Tanpa visi yang selaras, dua orang yang tinggal di bawah satu atap bisa saja berjalan ke arah yang berlawanan. Sinkronisasi tujuan jangka panjang inilah yang mengubah hubungan dari sekadar "hidup bersama" menjadi "berjuang bersama" menuju satu titik yang disepakati. Kemitraan ini juga menuntut adanya pemeliharaan kesehatan mental masing-masing individu. Pasangan yang baik mengerti bahwa rumah tangga tidak akan kuat jika salah satu pondasinya rapuh. Oleh karena itu, memberikan ruang bagi pasangan untuk memiliki waktu bagi diri sendiri, hobi, dan aktualisasi diri adalah langkah strategis untuk menjaga keharmonisan jangka panjang agar tidak terjadi kejenuhan yang toksik.
Lebih jauh lagi, pernikahan sebagai kemitraan strategis mengajarkan kita untuk tidak bergantung sepenuhnya pada perasaan yang bisa pasang surut. Ada hari-hari di mana rasa cinta mungkin meredup karena kelelahan atau rutinitas, namun di situlah "perjanjian kemitraan" bekerja. Komitmen untuk tetap berfungsi sebagai tim meski sedang tidak dalam kondisi emosional yang ideal adalah bentuk kedewasaan tertinggi dalam sebuah hubungan.
Sebagai penutup, sudah saatnya kita melihat pernikahan dengan kacamata yang lebih jernih dan jujur. Pernikahan yang tangguh tidak dibangun hanya dengan tumpukan janji manis, melainkan dengan diskusi-diskusi berat yang tuntas sebelum langkah pertama diambil. Dengan memandang pasangan sebagai mitra strategis, kita sedang membangun sebuah benteng yang tidak hanya indah dipandang dari luar, tetapi juga kokoh dan fungsional di dalamnya.
*Penulis adalah Penghulu Ahli Pertama KUA Nagajuang, Kemenag Kabupaten Mandailing Natal
Kepala KUA Sukadana Hadiri Halal Bihalal PCNU
28 Apr 2026
KUA Tuhemberua Laksanakan Opname Fisik BMN
28 Apr 2026