Sebelum Berakhir: Saatnya Evaluasi Diri di Penghujung Pertengahan Ramadan
09 Mar 2026 | 139 | Penulis : Humas Cabang APRI Deli Serdang | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Hari ini kita telah memasuki hari ke-16 Ramadhan 1447 H. Artinya, kita sudah melewati lebih dari setengah perjalanan bulan suci ini. Tanpa terasa, sesion II Ramadhan—yakni fase pertengahan bulan yang biasanya berlangsung dari hari ke-11 hingga hari ke-20—perlahan-lahan akan segera berakhir.
Bagi orang yang memahami makna Ramadhan, momen ini bukan sekadar pergantian hari. Ini adalah titik evaluasi penting. Karena setelah fase ini berlalu, kita akan memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, fase yang paling menentukan dalam perjalanan ibadah seorang mukmin.
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan muhasabah. Bulan untuk melihat kembali perjalanan spiritual kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat: seorang mukmin harus mampu mengevaluasi dirinya sendiri. Ia tidak menunggu orang lain menilai amalnya. Ia tidak menunggu Ramadhan berakhir baru menyadari kekurangannya. Justru di tengah perjalanan, ia berhenti sejenak untuk melihat apakah langkahnya sudah berada di jalan yang benar.
Karena itu, ketika sesion II Ramadhan hampir selesai, pertanyaan besar yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah: bagaimana kualitas Ramadhan kita sejauh ini?
Rasulullah ﷺ pernah memberikan peringatan yang sangat serius dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
Hadits ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk introspeksi. Puasa bisa saja sah secara hukum, tetapi kosong secara nilai spiritual jika tidak diiringi dengan perubahan sikap dan perilaku.
Evaluasi Ramadhan bukan hanya tentang berapa hari kita berpuasa, tetapi lebih jauh dari itu: apa yang berubah dalam diri kita selama Ramadhan?
Jika perubahan itu mulai terasa, maka Ramadhan sedang bekerja dalam diri kita. Tetapi jika tidak ada perubahan sama sekali, maka kita harus segera memperbaiki sebelum Ramadhan berakhir.
Karena waktu yang tersisa tidaklah banyak. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Baru terasa kemarin kita menyambut awal Ramadhan, kini kita sudah berada di pertengahan bulan. Sebentar lagi kita akan memasuki fase paling istimewa, yaitu sepuluh malam terakhir.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas tentang bagaimana memanfaatkan akhir Ramadhan. Dalam riwayat yang disampaikan oleh Aisha radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir tiba, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
Ini menunjukkan bahwa menjelang akhir Ramadhan, semangat ibadah Nabi ﷺ justru semakin meningkat. Artinya, jika di awal Ramadhan kita belum maksimal, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum memasuki fase terakhir.
Sesion II Ramadhan yang hampir berakhir ini seharusnya menjadi alarm spiritual bagi kita. Alarm yang mengingatkan bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Jika kita tidak segera melakukan evaluasi, maka kita akan kehilangan momentum terbaik untuk memperbaiki ibadah kita.
Evaluasi Ramadan setidaknya bisa dimulai dari beberapa hal sederhana
Pertama, evaluasi hubungan kita dengan Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185. Apakah kita sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian? Ataukah mushaf masih lebih sering tertutup daripada terbuka?
Kedua, evaluasi kualitas shalat kita. Apakah kita lebih menjaga shalat berjamaah selama Ramadhan? Apakah kita mulai membiasakan diri dengan shalat tarawih dan qiyamul lail?
Ketiga, evaluasi hubungan kita dengan sesama manusia. Ramadhan seharusnya membuat kita lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih mudah membantu orang lain.
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi ketika Ramadhan. Hal ini diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari.
Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang kepedulian sosial.
Keempat, evaluasi hati kita. Apakah hati kita menjadi lebih tenang selama Ramadhan? Apakah kita lebih mudah beristighfar? Apakah kita lebih sering mengingat Allah?
Jika semua itu mulai berubah, maka Ramadhan telah memberikan pengaruh besar dalam kehidupan kita.
Namun jika belum, jangan putus asa. Justru karena sesion II Ramadhan belum sepenuhnya berakhir, kita masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri.
Masih ada beberapa hari sebelum kita memasuki sepuluh malam terakhir.
Gunakan waktu ini sebagai persiapan spiritual. Perbaiki niat. Perbaiki ibadah. Tingkatkan tilawah. Perbanyak sedekah. Dan latih diri untuk bangun di malam hari.
Karena ketika sepuluh malam terakhir tiba, kita akan menghadapi malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar.
Kesempatan seperti ini tidak datang setiap hari. Ia hanya datang sekali dalam setahun. Dan tidak ada yang bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan berikutnya.
Oleh karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar berlalu, lakukan evaluasi diri sejak sekarang.
Semoga Allah menjadikan sisa Ramadhan ini sebagai kesempatan terbaik bagi kita untuk memperbaiki diri, menghapus dosa-dosa, dan kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Aamiin.