Opini
RENUNGAN PETANG: "Sikap Mulia Menghadapi Musibah"
24 Apr 2026 | 47 | Penulis : Biro Humas APRI Gorontalo | Publisher : Biro Humas APRI Gorontalo
Oleh: Marton Abdurrahman, S.Ag., M.HI (Kepala KUA Kec. Kota Tengah)
Disiarkan dalam Program Tausyiah Risalah, RRI Pro 1 Gorontalo – Jumat, 24 April 2026
"EDISI PEMBINAAN UMMAT"
Gorontalo, 24 April 2026 – Menjelang waktu Maghrib yang tenang, udara di studio RRI Gorontalo terasa lebih hening dari biasanya. Di sana, Marton Abdurrahman, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Tengah, duduk bersiap mengisi program rutin "Tausyiah Risalah".
Dengan suara yang lembut namun penuh ketegasan, Marton membawakan sebuah tema yang sangat relevan dengan kondisi hati manusia di tengah dinamika kehidupan: "Sikap Mulia Menghadapi Musibah".
Musibah : Ujian atau Hukuman?
Dalam tausyiah berdurasi 15 menit tersebut, Marton membuka renungannya dengan sebuah pertanyaan reflektif: "Apakah setiap musibah yang menimpa kita adalah tanda kemarahan Allah?"
"Janganlah buru-buru berprasangka buruk kepada Allah," ujar Marton mengutip semangat ayat Al-Qur'an. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, musibah memiliki banyak wajah. Bisa jadi ia adalah teguran karena kelalaian, namun seringkali ia adalah tanda cinta. Seperti emas yang harus dibakar api untuk menghilangkan kotorannya, seorang mukmin pun diuji untuk mengangkat derajatnya dan menghapus dosa-dosanya.
"Rasulullah SAW bersabda, 'Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya' (HR. Bukhari & Muslim)," kutip Marton dengan khidmat.
Marton Abdurrahman merumuskan tiga sikap mulia yang harus dimiliki umat Islam saat ditimpa ujian:
1. Sabar yang Aktif, Bukan Pasif
Sabar bukan berarti diam tanpa daya. Sabar adalah menahan hati dari keluh kesah, menahan lisan dari kata-kata yang memarahi takdir, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah. Sabar adalah kekuatan untuk bangkit kembali setelah terjatuh.
2. Husnuzan (Berprasangka Baik) kepada Allah
"Kita sering hanya melihat ujung dari sebuah cerita," tutur Marton. "Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Mungkin hari ini kita kehilangan sesuatu, karena Allah ingin memberikan sesuatu yang jauh lebih baik di masa depan. Keyakinan inilah yang akan menenangkan jiwa yang gelisah."
3. Segera Kembali kepada Allah (Inabah)
Musibah adalah "panggilan telepon" dari Langit. Saat itu terjadi, segeralah perbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Perbanyak istighfar, shalat, dan sedekah. Sedekah, menurut Marton, memiliki keistimewaan untuk menolak bala dan menyembuhkan hati yang luka.
Pesan Penutup di Senja Hari
Menjelang akhir sesi, tepat ketika adzan Maghrib mulai berkumandang di kejauhan, Marton menutup tausyiahnya dengan pesan yang menyentuh hati para pendengar RRI Gorontalo.
"Saudaraku, jika hari ini Anda sedang menangis karena ujian, ketahuilah bahwa Allah sedang memeluk Anda erat-erat. Jangan putus asa. Rahmat Allah selalu lebih dekat daripada yang kita duga. Ubahlah air mata menjadi doa, ubahlah keluh kesah menjadi dzikir. Karena sesungguhnya, bersama kesulitan, ada kemudahan."
Rekaman tausyiah ini diharapkan tidak hanya menjadi siaran radio sesaat, tetapi menjadi bekal spiritual bagi masyarakat Kota Tengah dan Gorontalo pada umumnya untuk menghadapi segala tantangan hidup dengan hati yang lapang dan iman yang kokoh.
Program Tausyiah Risalah di RRI Gorontalo ini merupakan salah satu upaya KUA Kecamatan Kota Tengah dalam memperluas dakwah melalui media massa, menjangkau umat di rumah-rumah mereka, membawa sejuk di kala petang, dan menguatkan mental spiritual masyarakat di era modern.
Jadwal Risalah ini merupakan tugas yang diberikan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo melalui Bimas Islam. dan dapat diakses kembali melalui arsip digital RRI Gorontalo atau laman media sosial KUA Kota Tengah.
Tags:
KUA Batanghari Gelar GEMAH ASRI Bersih Jumat
24 Apr 2026
KUA Sekampung Udik Gelar Bersih Jumat GEMAH ASRI
24 Apr 2026