Ramadhan Bulan Al-Qur'an, Penuntun Jiwa Menuju Kebahagiaan
08 Mar 2026 | 28 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Ramadhan Bulan Al-Qur'an, Penuntun Jiwa Menuju Kebahagiaan
Oleh :
Hamidi Asgori Lubis, S.H*
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah panggung agung di mana langit dan bumi bertemu dalam peristiwa Nuzulul Qur'an. Di malam yang penuh kemuliaan itu, Sang Pencipta menurunkan mukjizat terbesar sebagai lentera yang menembus kegelapan jahiliah. Ketika kalam Ilahi menyentuh sanubari, ia tidak hanya menjadi sekumpulan ayat yang dibaca, tetapi bertransformasi menjadi penuntun jiwa yang sedang gundah. Melalui peringatan turunnya Al-Qur'an di bulan suci ini, kita diajak untuk kembali menyelami setiap hurufnya demi menemukan peta jalan hakiki menuju kebahagiaan yang abadi di dunia maupun akhirat.
Peristiwa Nuzulul Qur’an merupakan salah satu momen paling agung dalam sejarah umat manusia. Ia bukan sekadar peristiwa turunnya kitab suci, tetapi juga menjadi titik awal perubahan peradaban dari kegelapan menuju cahaya. Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, pembeda antara yang benar dan yang salah, sekaligus rahmat bagi seluruh alam. Allah menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan tentang petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil (QS. Al-Baqarah: 185). Karena kemuliaan Al-Qur’an inilah, segala sesuatu yang berkaitan dengannya ikut menjadi mulia.
Malaikat Jibril menjadi makhluk yang sangat dimuliakan karena ia mendapatkan tugas agung sebagai perantara wahyu. Allah menyebut bahwa Al-Qur’an dibawa turun oleh Ruhul Amin (malaikat yang terpercaya) ke dalam hati Nabi agar beliau menjadi pemberi peringatan (QS. Asy-Syu‘ara: 193-194). Ini menunjukkan bahwa kedudukan menjadi tinggi karena keterlibatan dengan wahyu Allah.
Demikian pula manusia terbaik sepanjang zaman, Muhammad ﷺ. Beliau menjadi manusia paling mulia karena menjadi penerima Al-Qur’an. Bahkan akhlak beliau disebut sebagai Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia sangat erat dengan kedekatannya terhadap wahyu.
Tempat turunnya Al-Qur’an juga mendapatkan kemuliaan. Kota Makkah menjadi kota paling suci karena di sanalah wahyu pertama turun. Sementara Madinah menjadi kota penuh berkah karena menjadi tempat penyempurnaan syariat Islam. Bahkan Allah bersumpah dengan negeri Makkah sebagai tanda kemuliaannya: “Aku bersumpah dengan negeri ini (Makkah)” (QS. Al-Balad: 1).
Waktu turunnya Al-Qur’an pun menjadi waktu yang paling mulia. Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan, dan malam itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 1-3). Karena itulah Ramadhan menjadi bulan terbaik sepanjang tahun. Rasulullah setiap Ramadhan memperbanyak membaca Al-Qur’an bersama Jibril, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari.
Bahkan benda-benda sederhana seperti kertas dan tinta ikut mendapatkan kemuliaan ketika digunakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Allah menyebut bahwa Al-Qur’an berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan (QS. ‘Abasa: 13-14). Padahal secara materi, kertas dan tinta hanyalah benda biasa, namun karena berkaitan dengan kalam Allah, nilainya menjadi luar biasa.
Dari sini kita belajar sebuah pelajaran besar, kemuliaan tidak selalu berasal dari zat sesuatu itu sendiri, tetapi dari hubungannya dengan Al-Qur’an. Jika malaikat, nabi, tempat, waktu, dan benda bisa menjadi mulia karena Al-Qur’an, maka manusia pun bisa menjadi mulia dengan sebab yang sama.
Manusia yang membaca Al-Qur’an akan dimuliakan. Manusia yang mempelajarinya akan ditinggikan derajatnya. Manusia yang mengamalkannya akan diberi keberkahan hidup. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Bahkan disebutkan bahwa orang tua dari penghafal Al-Qur’an kelak akan dipakaikan mahkota cahaya pada hari kiamat sebagai bentuk kemuliaan dari Allah.
Namun kenyataannya, banyak orang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan ritual tanpa kedekatan hati. Padahal Allah menegaskan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Dan tidak ada jalan menuju ketakwaan yang lebih jelas selain mengikuti petunjuk Al-Qur’an.
Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya memperbanyak bacaan, tetapi juga memahami maknanya, mengamalkan ajarannya, dan menjadikannya pedoman hidup sehari-hari. Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an akan dipenuhi ketenangan. Hati yang dekat dengan Al-Qur’an akan mendapatkan cahaya. Kehidupan yang diatur oleh Al-Qur’an akan mendapatkan keberkahan.
Kesimpulan
Akhirnya, pesan terpenting dari Nuzulul Qur’an adalah bahwa kemuliaan terbuka bagi siapa saja. Siapa pun yang melibatkan dirinya dengan Al-Qur’an akan diangkat derajatnya oleh Allah, tanpa memandang latar belakang, pendidikan, atau status sosialnya. Selama ia dekat dengan Al-Qur’an, maka ia sedang berjalan menuju kemuliaan sejati.
Semoga kita termasuk orang-orang yang hidup bersama Al-Qur’an, dimuliakan karena Al-Qur’an, dan kelak dikumpulkan bersama para pecinta Al-Qur’an di surga Allah. Aamiin.
*Penulis adalah Penghulu CPNS KUA Haranggaol Horisan - Kemenag Kabupaten Simalungun.