PUASA ITU WAJIB, MENGHAKIMI ITU TIDAK
Opini

PUASA ITU WAJIB, MENGHAKIMI ITU TIDAK

  23 Feb 2026 |   91 |   Penulis : Biro Humas APRI Gorontalo |   Publisher : Biro Humas APRI Gorontalo

PUASA ITU WAJIB, MENGHAKIMI ITU TIDAK
Oleh Hasan Dau.S.Fil.I,MH
Ketua PW APRI Prov Gorontalo.
 
Setiap kali bulan Ramadan tiba, suasana berubah. Restoran atau Rumah makan menutup tirainya di siang hari, unggahan media sosial dipenuhi kutipan religius, dan seruan untuk meningkatkan ibadah terdengar di mana-mana. Ramadan adalah bulan yang mulia, bulan latihan spiritual, bulan di mana umat Muslim berusaha menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, di tengah semangat itu, ada satu hal yang kerap luput kita renungkan: puasa memang wajib bagi yang memenuhi syarat, tetapi menghakimi orang lain yang tidak puasa jelas tidak pernah menjadi kewajiban.
 
Puasa adalah ibadah personal yang memiliki syarat dan ketentuan. Tidak semua orang yang tampak tidak berpuasa benar-benar meninggalkan kewajiban ibadahnya Ada yang sedang sakit, dalam perjalanan, hamil, menyusui, atau memiliki kondisi tertentu yang membuatnya mendapat keringanan. Bahkan ada pula yang mungkin sedang berjuang dengan kondisi spiritualnya sendiri. Sayangnya, tidak semua orang mau berhenti sejenak untuk memahami kemungkinan-kemungkinan itu. Sebagian lebih cepat memberi label daripada memberi empati.
 
Fenomena menghakimi orang yang tidak berpuasa sering muncul dalam bentuk sindiran, cibiran, bahkan kemarahan terbuka. Ada yang memotret orang makan di siang hari dan menyebarkannya di media sosial. Ada yang melontarkan komentar tajam tanpa mengetahui latar belakangnya. Seolah-olah menjaga “kesucian” Ramadan harus dilakukan dengan cara mempermalukan orang lain. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, sikap seperti itu justru bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri.
Bukankah tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa? Dan takwa tidak hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan (Hablu Minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia (Hablu Minannas). Menahan lapar dan dahaga hanyalah sarana. Intinya adalah melatih kesabaran, mengendalikan emosi, menjaga lisan, dan membersihkan hati dari prasangka buruk. Jika seseorang mampu menahan lapar selama belasan jam, tetapi tidak mampu menahan diri untuk tidak mencela orang lain, maka ada yang perlu dievaluasi dari cara ia memaknai puasanya.
Kita juga hidup dalam masyarakat yang majemuk. Tidak semua orang di sekitar kita beragama Islam. Di ruang publik—kantor, sekolah, pusat perbelanjaan—akan selalu ada orang yang makan atau minum di siang hari. Menghormati orang yang berpuasa memang penting, tetapi menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya juga tidak kalah penting. Toleransi bukanlah konsep satu arah. Ia adalah jembatan dua sisi yang menuntut kedewasaan bersama.
Ada pula realitas yang lebih sunyi: sebagian orang mungkin tidak berpuasa karena imannya sedang goyah. Dalam kondisi seperti itu, yang mereka butuhkan bukanlah penghakiman, melainkan dukungan dan doa. Sikap keras dan cemoohan justru bisa menjauhkan mereka lebih jauh lagi. Alih-alih menjadi jalan kembali, kita malah menjadi tembok penghalang. Sering kali, dorongan untuk menghakimi muncul dari rasa superioritas moral. Kita merasa sudah menjalankan kewajiban, lalu tanpa sadar memosisikan diri lebih tinggi dari orang lain. Padahal, dalam ajaran agama, kesombongan adalah penyakit hati yang berbahaya. Tidak ada jaminan bahwa orang yang hari ini terlihat lalai tidak akan menjadi lebih baik esok hari. Dan tidak ada jaminan pula bahwa kita yang hari ini merasa taat akan selalu berada di posisi yang sama.
 
Ramadan seharusnya menjadi momentum memperluas empati. Saat kita merasakan lapar, kita diajak memahami penderitaan mereka yang kekurangan. Saat kita menahan amarah, kita dilatih menjadi pribadi yang lembut dan pemaaf. Semua itu adalah latihan batin. Maka, logisnya, semakin dalam seseorang menjalani puasa, semakin halus pula sikapnya terhadap orang lain. Menghargai orang yang tidak berpuasa bukan berarti meremehkan kewajiban puasa. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan dalam beragama. Kita tetap meyakini kewajiban tersebut, tetapi tidak menjadikannya alat untuk menghakimi.
Kita menjaga diri sendiri tanpa merasa perlu merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, puasa adalah urusan antara hamba dan Tuhannya. Yang bisa kita pastikan hanyalah kualitas ibadah kita sendiri. Apakah kita sudah benar-benar menahan lisan? Sudahkah kita menundukkan ego? Sudahkah kita mengganti prasangka dengan doa?
Puasa itu wajib bagi yang memenuhi syarat. Namun menghakimi tidak pernah menjadi bagian dari rukun iman maupun rukun Islam. Jika Ramadan ingin benar-benar kita jadikan sebagai bulan pembinaan diri, maka mari kita mulai dengan satu langkah sederhana: berhenti menghakimi, dan mulai memahami. Karena bisa jadi, ujian terbesar dalam puasa bukanlah rasa lapar—melainkan kemampuan kita menjaga hati.
“Wallahu a’lam bish-shawab”

Bagikan Artikel Ini

Infografis