Dulu Penjaga Masjid, Kini Doktor: Kisah Inspiratif Zulkifli Ritonga, Ka KUA Parlilitan Humbang Hasundutan
15 Feb 2026 | 44 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Di balik riuhnya deru angin yang membelah perbukitan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, terselip sebuah kisah yang melampaui batas-batas logika tentang nasib. Di sana, di sebuah wilayah yang jauh dari gemerlap ibu kota provinsi, Dr. Zulkifli Ritonga menghabiskan hari-harinya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Namun, gelar mentereng di depan namanya bukanlah sebuah pemberian cuma-cuma dari langit. Gelar itu adalah kristalisasi dari keringat, air mata, dan aroma debu sajadah yang ia bersihkan belasan tahun silam.
Zulkifli Ritonga adalah bukti hidup bahwa garis tangan bisa diubah dengan genggaman tekad yang kuat. Putra asli Labuhanbatu ini kini resmi menyandang gelar Doktor pada Program Studi S-3 Hukum Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan. Sebuah pencapaian yang mungkin terdengar mustahil bagi mereka yang mengenal sosoknya di masa lalu sebagai seorang marbot atau penjaga masjid.
Mengenang masa-masa awal merintis pendidikan menjadi Marbot di Kota Medan selama studi awal perkuliahan S1 dulu, Zulkifli tidak pernah malu mengakui akar kehidupannya yang sederhana. Baginya, menjadi marbot bukanlah sekadar pekerjaan untuk menyambung hidup, melainkan sekolah pertama tentang kedisiplinan dan kerendahhatian.
Saat teman-teman sebayanya menghabiskan waktu dengan bersantai, Zulkifli harus memastikan lantai masjid bersih mengkilap sebelum fajar menyapa. Di antara rutinitas menyapu halaman dan membersihkan tempat wudhu, ia menyelipkan kitab-kitab dan buku-buku di sela-sela waktu istirahatnya. Suara azan yang ia kumandangkan setiap lima waktu bukan hanya panggilan salat bagi warga, tapi juga pengingat bagi dirinya sendiri bahwa "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri."
Keterbatasan ekonomi tidak pernah ia jadikan alasan untuk berhenti melangkah. Baginya, setiap sudut masjid adalah saksi bisu betapa ia haus akan ilmu. Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil. Langkah demi langkah ia tempuh, mulai dari menyelesaikan pendidikan sarjana hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berkarier di Kementerian Agama.
Puncaknya terjadi dalam sidang promosi doktor yang berlangsung khidmat di UIN Sumatera Utara. Di hadapan para penguji yang kritis, Zulkifli berdiri tegak mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Inklusifitas Pelayanan Perkawinan di Kementerian Agama Republik Indonesia (Studi Kritik terhadap Konsep Pelayanan Perkawinan di Indonesia)”.
Penelitian ini bukan sekadar syarat administratif untuk meraih gelar. Sebagai seorang praktisi yang bertugas di KUA Parlilitan, Zulkifli melihat langsung bagaimana birokrasi dan regulasi sering kali bersentuhan dengan realitas sosial yang kompleks di lapangan. Ia menawarkan sebuah paradigma baru: Pelayanan perkawinan yang inklusif.
Melalui pendekatan Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat) dan perlindungan hak warga negara, Zulkifli berargumen bahwa negara harus hadir memberikan kemudahan bagi setiap pasangan tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi, dengan tetap memegang teguh prinsip hukum Islam. Ia membedah bagaimana sistem pelayanan nasional perlu diperbarui agar lebih ramah, adil, dan menjamin hak-hak sipil setiap individu.
Pendidikan bukan tentang mengumpulkan gelar untuk dipajang, tapi tentang bagaimana ilmu tersebut menjadi solusi bagi keresahan umat di akar rumput," ungkapnya dalam sebuah kesempatan.
Keputusannya untuk tetap mengabdi di Parlilitan, meski telah menyandang gelar doktor, menunjukkan integritas seorang abdi negara. Humbang Hasundutan dengan kontur geografisnya yang menantang membutuhkan sosok seperti Zulkifli seorang intelektual yang tidak kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Perjalanan dari seorang marbot masjid menjadi seorang Doktor Hukum Islam adalah sebuah narasi tentang ketekunan. Zulkifli telah membuktikan bahwa: Kemiskinan bukanlah takdir permanen, melainkan ujian daya tahan. Pendidikan adalah jembatan paling efektif untuk memutus rantai keterbatasan. Pengabdian yang tulus akan membawa seseorang pada derajat yang ditinggikan oleh-Nya.
Kisah Zulkifli Ritonga kini menjadi obor penyemangat, tidak hanya bagi putra-putri di Labuhanbatu dan Humbang Hasundutan, tetapi bagi seluruh anak bangsa yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. Ia mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun terbang, kaki harus tetap menginjak bumi, dan sehebat apa pun gelar yang disandang, semangat melayani masyarakat adalah muara yang sesungguhnya.
Kini, setiap kali ia melayani masyarakat di KUA Parlilitan, warga tidak hanya melihat seorang pejabat atau seorang doktor, tetapi mereka melihat sebuah harapan. Harapan bahwa anak seorang penjaga masjid pun bisa menjadi mercusuar ilmu bagi bangsanya. (MHS/ZUL)