Tauhid Sebagai Fitrah Manusia: Perjanjian Azali dan Rekonstruksi Jiwa di Era Modern
Opini

Tauhid Sebagai Fitrah Manusia: Perjanjian Azali dan Rekonstruksi Jiwa di Era Modern

  09 Jan 2026 |   21 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Tauhid Sebagai Fitrah Manusia: Perjanjian Azali dan Rekonstruksi Jiwa di Era Modern

Oleh :

Muhammad Hisyamsyah Dani, S.H., M.H*

Tauhid bukanlah sekadar konsep teoretis yang dipelajari di bangku madrasah atau ruang kuliah filsafat. Ia adalah "DNA spiritual" yang tertanam jauh di dalam relung jiwa setiap manusia. Al-Qur'an menegaskan bahwa pengakuan terhadap keesaan Allah bukanlah hasil dari proses belajar semata, melainkan sebuah pengaktifan kembali memori manusia yang sudah ada. 

Dalam Surah Al-A’raf ayat 172-173, Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami lengah terhadap ini,'" (QS. 7:172). 

Secara tematik, para mufassir seperti Ibnu Katsir dan Thabathaba'i menjelaskan bahwa momen ini adalah Mithaq (Perjanjian Agung). Sebelum raga ini menyentuh bumi, ruh manusia telah dikumpulkan di alam Dzar. Di sana, tidak ada ego, tidak ada jabatan, dan tidak ada materi. Yang ada hanyalah kejujuran ruhani yang mengakui otoritas Ilahi.

Secara etimologi, fitrah berasal dari kata fathara yang berarti "membelah" atau "menciptakan pertama kali". Ini menyiratkan bahwa manusia diciptakan dengan rancang bangun yang sudah "terinstal" perangkat lunak ketuhanan. Tauhid adalah orisinalitas kita; sedangkan kesyirikan dan ateisme adalah distorsi. 

Mengapa manusia, secara universal, cenderung mencari "Sesuatu yang Lebih Tinggi" terutama saat terjepit dalam situasi keputusasaan? Mengapa peradaban kuno yang terisolasi secara geografis dan tidak tersentuh wahyu nabi tetap memiliki struktur penyembahan? Jawabannya terletak pada fungsi Tauhid sebagai fondasi kesadaran. Tauhid bukan sekadar keyakinan eksternal, melainkan kebutuhan eksistensial yang mendikte cara manusia mempersepsi realitas.

Dalam perspektif psikologi transpersonal Islam, terutama yang dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali, hati (qalb) digambarkan memiliki cermin alami. Jika cermin ini tetap jernih dan tidak tertutup debu kemaksiatan, ia akan secara otomatis memantulkan cahaya kebenaran Ilahi. Kesadaran manusia pada dasarnya bersifat teosentris. Ketika seseorang mengakui "La ilaha illallah", ia sebenarnya sedang melakukan sinkronisasi antara akal pikiran dengan kecenderungan alami jiwanya.

Ayat 172-173 dalam Surah Al-A'raf menegaskan bahwa ateisme atau ketidakpercayaan bukanlah sebuah kondisi alami, melainkan sebuah anomali atau distorsi. Secara terminologis, kata kufr (kafir) berarti "menutup". Hal ini menyiratkan bahwa seorang yang mengingkari Tuhan sebenarnya sedang melakukan upaya aktif untuk menutup-nutupi pengetahuan yang sudah ada di alam bawah sadarnya. Ketidakpercayaan adalah proses penolakan terhadap memori kolektif ruhani yang bersifat apriori. Oleh karena itu, dakwah Islam pada hakikatnya adalah tadhkirah atau "peringatan", sebuah upaya untuk memanggil kembali ingatan yang tertimbun oleh hiruk-pikuk kehidupan duniawi, agar manusia kembali pada struktur kesadaran orisinalnya yang damai dan bertauhid.  

Tantangan Kekinian: Deformasi Fitrah di Era Digital

Jika Tauhid adalah fitrah yang bersifat pasti, mengapa masyarakat global saat ini tampak semakin menjauh dari nilai-nilai ketuhanan? Jawaban atas paradoks ini sebenarnya telah diisyaratkan dalam kelanjutan ayat di Surah Al-A'raf: "Atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang datang setelah mereka...'" (Ayat 173). Ayat ini memperingatkan tentang bahaya hegemoni lingkungan yang dapat mendeformasi (mengubah bentuk) fitrah asli manusia.

Wawasan Kekinian dan Pergeseran Berhala: Di era digital, "berhala" telah mengalami evolusi bentuk. Ia tidak lagi berupa patung yang disembah secara fisik, melainkan manifes dalam bentuk Syirik Khafi (kesyirikan yang samar) yang merasuki algoritma berpikir manusia modern:

Materialisme Ekstrem: Budaya konsumerisme yang agresif menciptakan doktrin bahwa kebahagiaan dan keamanan mutlak hanya bisa dicapai melalui akumulasi materi. Dalam konteks ini, benda-benda seringkali menjadi "tuhan baru" yang kepadanya manusia menggantungkan harapan dan rasa takutnya.

Scientism (Saintisme): Berbeda dengan sains yang merupakan alat, saintisme adalah ideologi yang mendewakan rasio. Paham ini mengecilkan realitas hanya pada apa yang bisa diukur di laboratorium, sehingga memutus akses manusia terhadap memori spiritual azali yang bersifat metafisik.

Self-Worship (Pemujaan Ego): Era media sosial memaksa individu untuk terus-menerus memoles citra diri. Narsisme akut ini sering kali membuat manusia menjadikan hawa nafsunya sebagai otoritas tertinggi (ilah). Sebagaimana diingatkan dalam QS. Al-Jathiyah: 23, orang yang mempertuhankan hawa nafsunya akan mengalami kebutaan batin; meski matanya melihat keajaiban dunia, hatinya tetap gagal mengenali jejak Sang Pencipta. Deformasi ini menyebabkan manusia modern kehilangan orientasi, menganggap diri sebagai "pencipta" bagi nasibnya sendiri tanpa melibatkan campur tangan Ilahi.

Saat ini, kita menyaksikan fenomena paradoksal di mana masyarakat di negara-negara maju yang secara materi telah mencapai puncak kenyamanan justru mengalami gelombang depresi, kecemasan, dan kesepian yang hebat. Kondisi ini sering disebut dalam psikologi sebagai existential void atau kehampaan eksistensial.

Tanpa Tauhid, individu kehilangan "jangkar identitas" yang paling mendasar. Blaise Pascal, seorang filsuf, pernah menyebut adanya "The God-shaped hole" (lubang berbentuk Tuhan) di dalam hati setiap manusia yang tidak bisa diisi oleh apapun kecuali oleh Sang Pencipta.

Dalam banyak kasus, manusia modern mencoba mengisi lubang ini dengan "makanan" yang salah: kecanduan media sosial, konsumerisme kompulsif, hingga pelarian pada zat adiktif. Namun, karena kebutuhan dasarnya adalah kebutuhan ruhani (fitrah), maka cara-cara materialistik tersebut justru semakin memperlebar lubang kehampaan tersebut. Ruh manusia, yang pernah bersaksi di hadapan Allah dalam QS. Al-A'raf: 172, memiliki "lapar spiritual" yang hanya bisa dipuaskan dengan Dzikrullah (mengingat Allah).

Solusi Al-Qur'an: Kembali ke Titik Nol (Inabah)

Menghadapi deformasi fitrah, Al-Qur'an menawarkan mekanisme pemulihan yang komprehensif agar manusia dapat kembali selaras dengan perjanjian azalinya. Solusi ini tidak bersifat superfisial, melainkan menyentuh akar kesadaran melalui tiga pilar utama:

Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Al-Qur'an menekankan bahwa keberuntungan hanya milik mereka yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams: 9). Proses ini adalah upaya aktif membersihkan "karat" duniawi yang menutupi cermin fitrah. Dengan membuang penyakit hati seperti kesombongan dan keterikatan berlebih pada materi, frekuensi ruhani manusia akan kembali jernih untuk menangkap sinyal ketuhanan yang selama ini terabaikan.

Tafakkur (Aktivasi Akal): Al-Qur'an mengajak manusia untuk menggunakan akal guna melihat ayat-ayat Allah di alam semesta (ayat kauniyah). Tafakkur adalah jembatan intelektual untuk memicu kembali ingatan bawah sadar tentang Sang Pencipta. Dengan merenungi keteraturan galaksi hingga kerumitan sel tubuh, manusia dipaksa mengakui secara logis apa yang sebenarnya sudah diakui ruhnya di alam Mithaq.

Syariat sebagai Penjaga: Ibadah formal bukan sekadar beban hukum, melainkan teknologi spiritual untuk menjaga konsistensi fitrah. Shalat lima waktu, misalnya, adalah mekanisme sinkronisasi rutin agar manusia tidak hanyut dalam "lupa" (nisyan). Setiap sujud adalah pengulangan komitmen atas janji "Bala Syahidna" (Ya, kami bersaksi), yang berfungsi sebagai jangkar agar jiwa tetap kokoh di tengah badai distraksi modernitas. Melalui langkah-langkah inilah, manusia melakukan Inabah kembali ke titik nol penciptaan yang murni, damai, dan bertauhid.

Tauhid bukanlah dogma yang terisolasi dalam ruang ibadah, melainkan prinsip pengorganisasian hidup yang memberikan solusi konkret bagi tantangan sosiologis masa kini. Ketika manusia mengintegrasikan kembali fitrah azalinya ke dalam keseharian modern, ia akan melahirkan tiga kekuatan fundamental:

Kemerdekaan Sejati: Pribadi yang bertauhid secara fitrah tidak akan mudah diperbudak oleh tekanan opini publik, tren konsumerisme, atau otoritas manusia yang tiran. Ia merdeka karena hanya menggantungkan nilai dirinya pada penilaian Sang Pencipta, bukan pada jumlah pengikut di media sosial atau akumulasi aset.

Resiliensi dan Ketangguhan: Di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis global, Tauhid berfungsi sebagai peredam guncangan (shock absorber). Kesadaran bahwa Allah adalah pemegang kendali mutlak (QS. Al-A'raf: 172) memberikan ketenangan batin yang tidak dimiliki oleh mereka yang merasa memikul beban dunia sendirian.

Etika Lingkungan dan Kemanusiaan: Tauhid melahirkan kesadaran bahwa seluruh alam semesta adalah sesama ciptaan yang bertasbih. Menjaga lingkungan dan menghargai nyawa manusia lainnya bukan lagi sekadar aktivisme, melainkan perwujudan dari rasa hormat kepada Sang Pencipta yang telah mengambil sumpah kita di alam ruh.

Kesimpulan:

Surah Al-A'raf 172-173 adalah proklamasi bahwa setiap individu lahir membawa benih kebenaran. Perjalanan hidup di dunia ini bukanlah pencarian terhadap Tuhan yang asing, melainkan sebuah kepulangan dan upaya mengingat kembali jati diri yang sudah kita miliki sejak sebelum dilahirkan. Dengan menjaga Tauhid sebagai fitrah, kita tidak hanya menyelamatkan iman, tetapi juga mengembalikan martabat manusia sebagai khalifah yang harmonis dengan dirinya, sesamanya, dan Tuhannya. Wallahu ‘alam.

 

*Penulis adalah Penghulu Ahli Muda, KUA Sidikalang, Kantor Kemenag Kabupaten Dairi

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini

Infografis