Nasional
*Silaturahmi Kabid Urais bersama Kasi Bimas Islam dan Ka KUA sekab Sanggau.*
23 Jan 2026 | 9 | Penulis : pc apri sanggau | Publisher : Biro Humas APRI Kalimantan Barat
Pembinaan Kepala KUA se-Kabupaten Sanggau oleh Kabid Urais Kanwil Kemenag Kalbar pada Kamis, 22 Januari 2026, rasanya seperti charging ulang HP yang hampir lowbat—bukan karena colokannya baru, tapi karena diingatkan lagi untuk apa HP itu dipakai.
Di ruangan pembinaan itu, para Kepala KUA duduk rapi. Sebagian membawa map, sebagian membawa catatan, dan sebagian lagi—jujur saja—membawa beban kerja yang tak kelihatan tapi terasa. Mulai dari urusan nikah, rujuk, wakaf, sampai urusan umat yang kadang datang bukan dengan senyum, tapi dengan emosi.
Gaya pembinaan yang disampaikan Kabid Urais Kalbar terasa berbeda. Tidak menggurui, tidak pula sok tinggi. Lebih seperti senior yang menepuk bahu sambil berkata, “Kita ini pelayan umat, bukan petugas stempel.” Kalimatnya sederhana, tapi menohok halus. Satirnya halus—tidak menertawakan, tapi menyadarkan.
Pesan pentingnya jelas: Kepala KUA bukan sekadar administrator pernikahan, tapi wajah negara di level paling dekat dengan masyarakat. Kalau wajah itu cemberut, kaku, dan sibuk sendiri, jangan heran kalau masyarakat merasa jauh dari negara—padahal jaraknya cuma satu gang.
Yang menarik, pembinaan ini tidak hanya bicara regulasi, tapi juga etos. Tentang kehadiran, keteladanan, dan keberanian berubah. Tentang bagaimana KUA harus rapi bukan cuma bangunannya, tapi juga cara berpikir dan cara melayani. Karena pelayanan yang baik tidak lahir dari aturan tebal, tapi dari hati yang mau belajar dan rendah diri.
Satire kecilnya terasa ketika diingatkan bahwa “digitalisasi” bukan berarti KUA hanya aktif di grup WhatsApp, sementara loket pelayanan tetap sunyi dari senyum. Teguran ringan, tapi semua paham maksudnya.
Pembinaan ini seperti alarm pagi: tidak selalu enak didengar, tapi perlu agar kita tidak kesiangan dalam menjalankan amanah. Kepala KUA diingatkan bahwa jabatan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menghadirkan maslahat.
Dan mungkin, pulang dari pembinaan ini, para Kepala KUA membawa satu kesadaran yang sama:
bahwa menjadi Kepala KUA itu capek—iya.
Tapi menjadi Kepala KUA yang bermanfaat—itu berkah.
Kalau semangat ini dijaga, bukan mustahil KUA di Kabupaten Sanggau akan dikenal bukan hanya karena layanannya cepat, tapi karena manusianya hangat.
Dan itu, rasanya, tujuan pembinaan yang sesungguhnya.