Penghulu Menembus Batas: H. Joni Syuryaman, ASN yang Menjaga Amanah di Tengah Jarak dan Pengorbanan
Inspirasi

Penghulu Menembus Batas: H. Joni Syuryaman, ASN yang Menjaga Amanah di Tengah Jarak dan Pengorbanan

  23 Jan 2026 |   168 |   Penulis : pc_apri_ pdpariaman |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Barat

Padang Pariaman — Jarak, medan berat, dan waktu tempuh panjang tak pernah menjadi alasan bagi H. Joni Syuryaman, M.Ag untuk mengendurkan pengabdian. Kepala KUA Ulakan Tapakis ini adalah potret nyata ASN yang setia menjaga amanah, meski harus menjalani kehidupan long distance marriage demi tugas negara.

Joni Syuryaman tinggal bersama anak dan Istrinya di Kabupaten Solok Selatan, daerah paling ujung Provinsi Sumatera Barat yang dikenal dengan julukan Negeri Seribu Rumah Gadang. Sementara itu, tempat tugasnya berada ratusan kilometer jauhnya, di Kabupaten Padang Pariaman. Dua wilayah yang dipisahkan jarak sekitar 225 kilometer dengan medan perjalanan yang tak bisa dibilang ramah.

Setiap akhir pekan, Joni menyempatkan diri pulang ke Solok Selatan untuk bertemu istri tercinta yang bekerja di sana serta dua anaknya yang masih menempuh pendidikan. Namun, Senin pagi selalu menjadi awal perjuangan panjang. Ia berangkat dari Solok Selatan pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 WIB dan baru tiba di Kantor KUA Ulakan Tapakis sekitar pukul 07.00 WIB keesokan harinya.

Pasca bencana longsor yang melanda Sumatera Barat pada November lalu, perjalanan dari rumah ke kantor bisa memakan waktu lebih dari 10 jam. Bahkan, Joni pernah terjebak macet parah di kawasan Sitinjau Lauik selama 15 hingga 20 jam — sebuah pengalaman yang hanya bisa dilewati dengan kesabaran dan keikhlasan luar biasa.

Perjalanan itu bukan sekadar jauh, tapi juga penuh tantangan. Kabut tebal di Alahan Panjang, udara dingin menusuk tulang bak negeri Swiss, jalanan bergelombang dan berlubang, hingga ancaman longsor yang selalu membayangi. Ban mobil dan kampas rem menjadi “korban rutin” yang harus diganti demi keselamatan perjalanan.

Namun, semua itu dijalani dengan satu prinsip: lelah dan lillah. Lelah secara fisik, lillah karena Allah dan pengabdian. “Sungguh luar biasa pengorbanan menjadi penghulu di kampung tercinta Kabupaten Padang Pariaman,” ungkap rekan-rekan Penghulu yang menyaksikan langsung dedikasi Joni.

Menariknya, status long distance marriage yang dijalani Joni kerap menjadi bahan candaan para calon pengantin (catin) di KUA Ulakan Tapakis.
“Apak je ba jauh jo bini apak, dima lo latak sakinah heee. Indak bisa apak ma agiah penasehat ka kami doh,” ujar seorang catin sambil tersenyum.

Candaan itu justru menjadi pengingat bahwa di balik tawa, ada keteladanan. Joni Syuryaman membuktikan bahwa sakinah bukan soal jarak, melainkan komitmen, kepercayaan, dan tanggung jawab — baik dalam keluarga maupun dalam tugas sebagai ASN dan penghulu.

Di tengah keterbatasan dan tantangan, Joni Syuryaman tetap hadir melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Sebuah kisah pengabdian yang layak menjadi inspirasi, bahwa tugas negara sering kali menuntut pengorbanan besar, namun selalu bermakna bagi mereka yang menjalaninya dengan ikhlas.



Bagikan Artikel Ini

Infografis