PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN  (Menyelaraskan Nilai-Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan)
Opini

PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN (Menyelaraskan Nilai-Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan)

  01 Oct 2024 |   11488 |   Penulis : Humas Cabang APRI Lampung |   Publisher : Biro Humas APRI Lampung


Oleh: Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

Kepala KUA Way Sulan Kab. Lampung Selatan

 

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki dasar negara yang unik, yaitu Pancasila. Lima sila dalam Pancasila merupakan pondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, mencakup berbagai aspek kehidupan, dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga hubungan manusia dengan sesamanya. Banyak pihak, terutama umat Islam, sering bertanya mengenai keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam. Apakah Pancasila bertentangan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur'an, atau justru Pancasila menjadi bentuk implementasi dari ajaran Al-Qur'an yang mulia?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk menelaah masing-masing sila dalam Pancasila dan bagaimana sila-sila ini selaras dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam Al-Qur'an. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia dapat lebih memahami bahwa Pancasila tidak hanya selaras dengan Islam, tetapi juga merupakan cerminan dari ajaran Islam yang universal.

 

Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa

 

Sila pertama dari Pancasila adalah "Ketuhanan yang Maha Esa." Prinsip ini jelas memiliki kesesuaian yang kuat dengan ajaran tauhid dalam Islam. Tauhid adalah esensi ajaran Islam, yang menekankan bahwa hanya ada satu Tuhan, Allah SWT, yang patut disembah. Al-Qur'an dengan tegas menekankan hal ini dalam banyak ayat, salah satunya adalah: QS. Al-Ikhlas: 1

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas: 1)

 

Ketuhanan yang Maha Esa dalam Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus beriman kepada Tuhan yang satu, terlepas dari agama atau keyakinan yang dianut. Konsep ini juga menuntut penghormatan atas keyakinan setiap individu dalam beragama, sesuai dengan firman Allah:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah." (QS. Al-Baqarah: 256)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun Pancasila mengakui adanya Tuhan yang satu, namun kebebasan dalam memilih agama dan keyakinan adalah bagian dari hak asasi manusia yang dijunjung tinggi dalam Islam. Oleh karena itu, Ketuhanan yang Maha Esa dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam yang menekankan monoteisme dan kebebasan beragama.

 

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

 

Sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," menekankan pentingnya keadilan dan kemanusiaan dalam kehidupan. Nilai ini juga memiliki pijakan yang kuat dalam Al-Qur'an, yang secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bersikap adil dalam segala hal, sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an Surat An Nahl ayat 90:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

" Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.." (QS. An-Nahl: 90)

 

Konsep keadilan tidak hanya berlaku pada individu, tetapi juga pada masyarakat dan negara. Islam sangat menganjurkan sikap adil dalam segala aspek kehidupan, baik dalam hubungan sesama manusia, maupun dalam pemerintahan. Selain itu, Al-Qur'an juga menekankan pentingnya akhlak yang beradab, yang merupakan bagian dari kemanusiaan yang beradab. Salah satu contoh dari hal ini adalah perintah untuk menghormati orang tua dan sesama manusia, seperti yang difirmankan dalam Al-Qur'an:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak." (QS. Al-Isra': 23)

 

Dengan demikian, nilai kemanusiaan dalam Pancasila tidak hanya mencakup hubungan antarmanusia, tetapi juga mengajarkan untuk hidup beradab dan berakhlak mulia, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

 

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

 

Sila ketiga, "Persatuan Indonesia," merupakan cerminan dari semangat ukhuwah (persaudaraan) dalam Islam. Al-Qur'an menekankan pentingnya persatuan di antara umat manusia, terutama di kalangan umat Muslim. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

 

Islam sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, baik dalam lingkup umat Islam maupun dalam masyarakat yang lebih luas. Persatuan dalam Islam bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga melibatkan persatuan hati dan tujuan untuk mencapai kebaikan bersama. Oleh karena itu, semangat persatuan Indonesia yang terdapat dalam Pancasila sangat selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan kerukunan di antara sesama manusia.

 

Selain itu, Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa keberagaman dalam bangsa adalah salah satu tanda kebesaran Allah, yang harus dijaga dan dirawat. Hal ini disebutkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)

 

Ayat ini mengingatkan bahwa perbedaan bangsa dan suku bukanlah alasan untuk berselisih, melainkan sarana untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan. Dengan demikian, persatuan Indonesia yang ditekankan dalam Pancasila merupakan manifestasi dari ajaran Islam tentang persaudaraan dan kerukunan.

 

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

 

Sila keempat Pancasila menekankan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat menghargai musyawarah atau syura sebagai salah satu cara untuk mencapai kesepakatan bersama. Al-Qur'an menyebutkan pentingnya musyawarah dalam beberapa ayat, salah satunya adalah:

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ

"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Asy-Syura: 38)

 

Dalam Islam, keputusan yang diambil melalui musyawarah akan lebih adil dan bijaksana, karena mempertimbangkan berbagai pandangan dan pendapat dari para peserta. Oleh karena itu, prinsip musyawarah yang ditekankan dalam sila keempat Pancasila memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an.

 

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila terakhir dalam Pancasila adalah "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya keadilan sosial, di mana setiap individu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlakuan yang adil, serta akses terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan. Al-Qur'an berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)

 

Keadilan sosial dalam Islam juga mencakup distribusi kekayaan yang adil, serta perhatian terhadap kaum fakir miskin. Islam mengajarkan pentingnya membagi kekayaan kepada mereka yang membutuhkan melalui zakat, sedekah, dan bentuk-bentuk amal lainnya. Oleh karena itu, sila kelima Pancasila selaras dengan prinsip-prinsip keadilan dalam Islam yang menekankan pentingnya memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

 

Dari uraian di atas, jelas bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an dan ajaran Islam. Pancasila bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan refleksi dari nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Al-Qur'an. Bagi umat Islam di Indonesia, Pancasila dapat menjadi panduan untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan ajaran agama.

💬 Komentar Pembaca
F
Fadhilah 05 Dec 2025 09:44

Bagus, menambah referensi dan perspektif terhadap keselarasan nilai-nilai Pancasila dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Terimakasih.Jazakumullah khoiran katsiira.

A
Ajang Saepudin, S.Pd.M.Pd 02 Dec 2025 08:08

Para pendahulu kita telah sepakat bersama bahwa pancasila dan UUD 45 adalah dasar negara yang diilhami dari piagam jakarta, sebagian bersar yang terlibat dalam kesepakatan itu umat, dan organisasi yang berdiri sebelum merdeka ada syarikat islam, NU dan ada Muhamadiyah

Y
yusuf 25 Oct 2025 20:55

Terimakasih baapk atas pemaparan materinya, saya sangat terbantu

Bagikan Artikel Ini

Infografis