PAI KUA Sidikalang : Menjaga Asa Harapan, Lewat Doa dan Dukungan Kesembuhan
Daerah

PAI KUA Sidikalang : Menjaga Asa Harapan, Lewat Doa dan Dukungan Kesembuhan

  12 Dec 2025 |   43 |   Penulis : Humas Cabang APRI Dairi |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Sidikalang, (Humas). Di balik tirai privasi dan bau antiseptik yang khas, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang bukan hanya arena pertarungan medis melawan penyakit fisik. Lebih dari itu, ia adalah medan perjuangan batin, tempat harapan dan keputusasaan sering berganti peran. Di tengah suasana yang rentan ini, dua sosok berseragam rapi hadir membawa bekal yang tak tertera dalam resep dokter: kekuatan mental dan penguatan rohani, Kamis (11/12). 

Mereka adalah Karimin Silalahi, S.Ag, dan Sawal Dabutar, S.Sos.I, dua Penyuluh Agama Islam (PAI) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Sidikalang yang mengemban tugas mulia. Tugas mereka melampaui ceramah di masjid atau pengajian rutin. Kali ini, mimbar mereka adalah ranjang pasien, dan audiens mereka adalah jiwa-jiwa yang sedang diuji oleh sakit.

Kunjungan mereka bukanlah sekadar formalitas. Setiap langkah yang mereka ambil, setiap senyuman yang terukir, dan setiap kata yang terucap diwarnai oleh keramahan yang tulus dan kasih sayang yang mendalam. Mereka memasuki ruangan dengan kesadaran penuh bahwa di hadapan mereka terbaring seseorang yang mungkin merasa sendiri, takut, atau bahkan marah terhadap takdir yang menimpa.

Karimin dan Sawal menunjukkan pemahaman yang luar biasa terhadap kondisi pasien yang terbaring. Mereka tidak memaksakan dakwah, melainkan mendekati dengan empati, seolah ikut merasakan beratnya beban fisik dan mental yang ditanggung. Komunikasi mereka dibangun atas dasar belas kasih, menciptakan ruang aman bagi pasien untuk terbuka.

Fokus utama penyuluhan ini adalah penanaman nilai-nilai kesabaran (sabar). Dalam ajaran Islam, sakit dipandang bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai ujian, bahkan sebagai penggugur dosa. Para PAI ini dengan lembut mengingatkan bahwa musibah adalah bagian dari ketetapan Ilahi.

Mereka menyampaikan sebuah filosofi yang menenangkan: "Apapun yang datang dari Tuhan, pasti akan datang pula penawarnya." Pesan ini ditekankan sebagai jangkar spiritual. Dalam keyakinan ini, proses penyembuhan medis dan ikhtiar yang dilakukan adalah bagian dari penawar yang diturunkan oleh-Nya.

Sambil duduk di sisi ranjang, Karimin dan Sawal mengajak pasien untuk menjadikan doa sebagai sumber kekuatan batin yang tak terbatas. Doa bukan hanya permohonan, tetapi juga sarana komunikasi terdekat dengan Sang Pencipta, tempat menumpahkan segala keluh kesah tanpa batas.

Penyuluhan ini secara efektif meniupkan optimisme rohani. Mereka menjelaskan bahwa kesembuhan tidak melulu hanya tentang obat; ia juga tentang kemauan jiwa untuk bangkit dan menerima takdir. Ketika hati tenang dan berserah diri, tubuh akan merespons positif terhadap pengobatan.

Suasana di kamar pasien menjadi penuh keintiman. Tidak ada jarak atau formalitas antara penyuluh dan yang disuluh. Sawal Dabutar, dengan pembawaannya yang menenangkan, mungkin berbagi kisah inspiratif tentang para pendahulu yang berhasil melewati ujian terberat dalam hidup.

Sementara itu, Karimin Silalahi, dengan tutur katanya yang santun, mungkin mengutip ayat-ayat suci yang secara spesifik berbicara tentang keutamaan orang-orang yang bersabar, memberikan bukti tekstual atas janji-janji Tuhan bagi hamba-Nya yang sedang sakit.
Respons dari pasien sering kali mengharukan. Wajah yang sebelumnya tegang atau sedih, perlahan menunjukkan senyum tipis atau mata yang berkaca-kaca, menandakan beban emosional yang terangkat berkat sentuhan rohani ini. Mereka merasa diakui dan dikuatkan, bukan hanya sebagai pasien, tetapi sebagai manusia.

Para PAI ini telah memahami bahwa peran mereka adalah terapi non-medis yang vital. Ketika ilmu kedokteran bekerja pada raga, penyuluhan agama bekerja pada jiwa, memastikan keduanya saling mendukung dalam proses pemulihan. Jiwa yang kuat adalah setengah dari kesembuhan.

Penyuluhan ini juga memiliki dampak tak terucapkan bagi keluarga pasien. Melihat orang terkasih mereka mendapatkan penguatan spiritual, kekhawatiran keluarga juga ikut mereda. Para PAI memberikan dukungan yang membantu keluarga untuk juga menjadi pilar kesabaran dan harapan.  Kegiatan ini menunjukkan sinergi yang harmonis antara institusi keagamaan, dalam hal ini KUA Sidikalang, dan institusi kesehatan, RSUD Sidikalang. Ini adalah pengakuan bahwa kesehatan sejati mencakup fisik, mental, dan spiritual secara utuh. Sebuah model pelayanan publik yang patut ditiru.

Ketika Karimin Silalahi dan Sawal Dabutar, berpamitan, mereka meninggalkan lebih dari sekadar nasihat. Mereka meninggalkan seberkas cahaya harapan, penguatan jiwa, dan keyakinan bahwa penawar sejati atas segala penyakit berakar pada keikhlasan hati dan kepasrahan kepada Tuhan. Mereka adalah perawat jiwa di tengah hiruk pikuk perjuangan fisik. (MHS/SD/PKS)

Bagikan Artikel Ini

Infografis