Moh. Daproji, Disabilitas Juga Bisa Berkualitas
01 Dec 2025 | 727 | Penulis : APRI mBanjar | Publisher : Biro Humas APRI Jawa Tengah
Banjarnegara - Lahir di Pemalang pada tahun 1975, Moh. Daproji tumbuh di tengah keluarga yang penuh kasih sayang dan nilai-nilai kesederhanaan. Meski hidupnya tidak selalu mudah, semangatnya untuk terus belajar dan berjuang tidak pernah padam. Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Bekasi pada tahun 1994, ia melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang sebuah tempat yang kelak membentuk karakter religius, sabar, dan teguh yang ia miliki hingga hari ini.
Tahun 2002 menjadi titik awal pengabdian Daproji di masyarakat. Ia mengikuti program Dai Romadlon dan ditugaskan selama sebulan di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Tak disangka, langkah kecil itu mengantarnya pada keputusan besar: menetap di Banjarnegara dan melanjutkan perjuangan di sana. Pada tahun pertamanya, ia fokus mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan majelis taklim, memberi cahaya ilmu kepada generasi kecil dan masyarakat sekitar.
Pada tahun kedua, tepatnya 2003, Daproji mulai mencoba berbagai usaha sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup. Ia memulai dari mencari pasir di sungai, kemudian mencoba membudidayakan lebah madu dan beternak kelinci. Meski belum membuahkan hasil, ia tidak pernah menganggap itu sebagai kegagalan. Baginya, kegigihan dan keberanian mencoba adalah kemenangan tersendiri. Tahun keempat, ia bekerja sebagai pelayan toko perabot rumah tangga peran sederhana, namun dijalaninya dengan penuh rasa syukur.
Setelah bertahun-tahun tinggal di Susukan, Daproji akhirnya menemukan tambatan hatinya dan membangun keluarga kecil yang penuh kasih. Tanggung jawab dan kebutuhan hidup yang meningkat membuatnya terus berikhtiar mencari penghasilan tambahan. Ia mencoba menjual es gosrok, batagor, hingga aksesori keliling. Namun karena kesibukannya mengajar di TPQ, usaha itu perlahan ia tinggalkan dan ia kembali pada pekerjaan sebelumnya.
Tahun 2016 menghadirkan kabar baik. Ada lowongan sebagai Penyuluh Agama Islam honorer di KUA Susukan. Ia mendaftar dan—alhamdulillah—diterima. Meski honor yang diterimanya belum mencukupi kebutuhan keluarga, ia tetap bersyukur dan tetap bekerja di toko perabot untuk menambah penghasilan.
Namun tahun 2018 datang membawa ujian besar. Dalam perjalanan menuju rumah pelanggan toko perabot, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan luka parah pada kaki kanannya. Dokter memutuskan amputasi di bawah lutut sebagai pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Dunia seakan runtuh seketika. Kesedihan menghinggapi keluarganya, memikirkan masa depan Daproji sebagai penyandang disabilitas.
Namun di tengah kesedihan itu, Daproji berdiri paling tegar. Ia menenangkan keluarganya dengan kata penuh iman:
“Kita harus husnudzon kepada Allah. Di balik setiap takdir pasti ada hikmah. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya”
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan tetapi prinsip hidup yang benar-benar ia pegang.
Setelah amputasi, Daproji tidak menyerah. Ia belajar menyesuaikan diri dengan kaki palsu yang membantunya beraktivitas di luar rumah dan di kantor. Di rumah, ia menggunakan alat bantu agar tetap bisa bergerak. Untuk menunjang mobilitas, ia memodifikasi motor roda dua menjadi motor roda tiga—bukti bahwa kreativitas dan tekad mampu mengatasi keterbatasan fisik.
Tak berhenti di sana, Daproji mengikuti kursus menjahit. Ia membuat kesed, cempal, dan berbagai produk dari perca kain. Meski sederhana, karya-karyanya menjadi simbol kemandirian dan kerja kerasnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2025, Daproji resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di KUA Susukan sebagai Pengadministrasi Perkantoran. Dalam perannya ini, kondisinya sebagai penyandang disabilitas justru menjadi dorongan baginya untuk lebih teliti dan fokus. Ia ditugaskan untuk melakukan digitalisasi dokumen-dokumen KUA, pekerjaan penting yang tidak membutuhkan mobilitas tinggi, namun membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab.
Dengan penuh dedikasi, ia menata, memindai, dan menyelamatkan dokumen-dokumen lama, termasuk register nikah yang sudah rapuh dimakan usia. Berkat kerja kerasnya, arsip-arsip berharga itu kini tersimpan rapi dalam bentuk digital dan mudah diakses kapan saja dibutuhkan.
Kisah hidup Moh. Daproji adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membatasi kualitas diri seseorang. Dengan semangat pantang menyerah, pikiran yang positif, kemampuan melihat hikmah di balik ujian, serta keyakinan kepada takdir Allah, ia membuktikan bahwa siapa pun dapat mencapai hal-hal luar biasa.
Hidup memang penuh ujian—namun dengan kesabaran, syukur, dan usaha tanpa henti, setiap tantangan dapat menjadi batu loncatan menuju keberhasilan.
Moh. Daproji telah membuktikan bahwa “Disabilitas Juga Bisa Berkualitas”
Membaca artikel ini sungguh bergetar hati ini.... Sabar Tangguh dan tak kenal menyerah adalah karakter terbaikmu Mas....
I love you full....... 😍😍🤩👍👍👍💚
Sangat meng inspurasi...🙏👍
Masyaallah tabarokalloh., luar biasa sangat menginspirasi pak..
Tetap semangap pak daproji, smg tambah berkah, selalu bs berkarya dan menebar manfaat bagi yg lain
Semangat berkah selalu Pak Daf
MasyaAlloh..,berkah selalu pak Dap..