Isra’ Mi’raj: Perjalanan Iman yang Menguji Kualitas Umat
Opini

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Iman yang Menguji Kualitas Umat

  13 Jan 2026 |   114 |   Penulis : Humas Cabang APRI Deli Serdang |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad . Masjid-masjid dipenuhi jamaah, mimbar-mimbar dihiasi tausiyah, dan media sosial ramai dengan kutipan religius. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah Isra’ Mi’raj benar-benar hidup dalam kesadaran umat, ataukah hanya berhenti sebagai seremoni tahunan tanpa transformasi nyata?

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad  bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang dipenuhi tausiyah dan spanduk ucapan. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung yang menyimpan pesan mendalam tentang iman, ketaatan, dan kualitas spiritual umat Islam di setiap zaman. Ia bukan hanya kisah perjalanan Nabi, melainkan cermin keimanan umat dalam menyikapi perintah Allah SWT yang melampaui logika manusia.

Di tengah krisis moral, krisis keteladanan, dan melemahnya komitmen beragama, Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum perenungan kolektif: ke mana arah umat Islam hari ini? Apakah shalat—sebagai hadiah terbesar Isra’ Mi’raj—masih menjadi pusat kehidupan, atau justru sekadar kewajiban yang dikerjakan tanpa ruh dan penghayatan?

Isra’ Mi’raj dalam Fase Terberat Kehidupan Nabi

Isra’ Mi’raj terjadi pada fase yang sangat berat dalam kehidupan Nabi Muhammad , yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan). Pada masa itu, Nabi kehilangan dua sosok pelindung utama dalam hidupnya: Khadijah binti Khuwailid ra., istri tercinta sekaligus pendukung dakwah paling setia, serta Abu Thalib, paman yang selama ini menjadi tameng sosial dan politik dari gangguan kaum Quraisy.

Secara manusiawi, kondisi ini merupakan titik terendah dalam perjuangan dakwah. Seruan kebenaran ditolak, Nabi dihina, bahkan diusir dan dilempari batu saat berdakwah ke Thaif. Namun justru dalam situasi keterpurukan inilah Allah SWT memperjalankan Nabi-Nya dalam sebuah perjalanan luar biasa, melampaui dimensi ruang dan waktu.

Pesan penting dari peristiwa ini sangat jelas: ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru paling dekat. Isra’ Mi’raj menjadi bukti bahwa pertolongan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan material, tetapi sering datang sebagai penguatan iman dan pengangkatan derajat spiritual.

Makna Isra’: Perjalanan Horizontal Penuh Pesan

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad  dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sarat dengan pesan teologis dan historis yang sangat kuat.

Masjidil Haram melambangkan pusat tauhid, sementara Masjidil Aqsha merupakan simbol kesinambungan risalah para nabi terdahulu. Melalui Isra’, Allah menegaskan bahwa Islam bukan agama yang terputus dari sejarah, melainkan penyempurna ajaran tauhid yang telah dibawa oleh Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa ‘alaihimussalam.

Dalam konteks kekinian, Isra’ mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan Palestina, bukan semata sebagai isu politik global, tetapi sebagai bagian dari kesadaran akidah umat Islam. Mengabaikan Masjidil Aqsha berarti mengabaikan salah satu simbol persatuan umat dan sejarah panjang kenabian.

Mi’raj: Ujian Iman yang Melampaui Akal

Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad  dari Masjidil Aqsha menembus lapisan demi lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Nabi menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril.

Secara logika manusia, peristiwa ini sulit diterima. Namun justru di sinilah letak ujian keimanan. Sejarah mencatat bahwa sebagian orang memilih murtad setelah mendengar kisah Isra’ Mi’raj. Sebaliknya, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. justru semakin kokoh imannya dan membenarkan peristiwa tersebut tanpa ragu. Dari sinilah beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa iman bukanlah hasil perhitungan logika semata, melainkan buah dari kepercayaan total kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Shalat: Hadiah Langit yang Kerap Diabaikan

Salah satu inti terpenting dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah perintah shalat. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan melalui wahyu di bumi, shalat diperintahkan langsung di langit. Hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah tiang agama, penghubung antara langit dan bumi, serta tolok ukur kualitas keimanan seorang muslim.

Ironisnya, shalat sering menjadi ibadah yang paling ringan diucapkan, tetapi paling berat dilaksanakan dengan khusyuk dan konsisten. Banyak yang menunaikan shalat, namun shalatnya belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruh Isra’ Mi’raj belum sepenuhnya hidup dalam diri umat.

Shalat yang benar seharusnya melahirkan kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Jika shalat tidak berdampak pada akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan syariatnya, melainkan kualitas pelaksanaannya.

Isra’ Mi’raj dan Krisis Spiritual Umat Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba rasional dan materialistis, pesan Isra’ Mi’raj terasa semakin relevan. Manusia hari ini cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, keuntungan, dan efisiensi. Bahkan agama pun sering dinilai dari manfaat pragmatis semata.

Banyak umat Islam mengaku beriman, namun masih menimbang kebenaran agama dengan logika untung-rugi duniawi. Padahal, iman sejati menuntut kepasrahan total kepada ketetapan Allah SWT, meskipun belum sepenuhnya dapat dipahami oleh akal.

Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik keras terhadap cara berpikir yang terlalu membatasi realitas pada apa yang kasat mata. Ia mengajarkan bahwa ada dimensi kehidupan yang tidak dapat dijangkau oleh sains, tetapi hanya dapat dirasakan oleh hati yang beriman.

Dari Langit ke Bumi: Akhlak sebagai Tujuan

Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang naik ke langit, tetapi tentang membumikan nilai-nilai langit. Nabi Muhammad  tidak tinggal di Sidratul Muntaha, melainkan kembali ke bumi untuk membimbing umat manusia.

Hal ini menegaskan bahwa kesalehan spiritual harus bermuara pada kesalehan sosial. Orang yang benar-benar memahami Isra’ Mi’raj akan tampil sebagai pribadi yang rendah hati, adil, jujur, dan peduli terhadap sesama.

Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur dari jabatan, kekuasaan, atau popularitas, melainkan dari ketaatan dan keteguhan iman. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj juga menjadi kritik terhadap budaya pencitraan religius yang miskin keteladanan.

Momentum Evaluasi dan Panggilan Perubahan

Oleh karena itu, peringatan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum evaluasi diri, baik secara individu maupun kolektif. Sudahkah shalat kita menjadi penopang akhlak? Sudahkah iman kita tetap kokoh di tengah ujian zaman? Ataukah Isra’ Mi’raj hanya berhenti sebagai cerita indah yang diulang setiap tahun tanpa perubahan nyata?

Umat Islam tidak kekurangan ritual, tetapi sering kekurangan substansi. Tidak kekurangan ceramah, tetapi kekurangan keteladanan. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa kualitas iman jauh lebih penting daripada kuantitas aktivitas keagamaan.

Jika Isra’ Mi’raj benar-benar dihayati, ia akan melahirkan umat yang disiplin dalam ibadah, jujur dalam perbuatan, kuat menghadapi tantangan, dan lembut dalam bermuamalah. Inilah esensi Isra’ Mi’raj: perjalanan spiritual yang mengangkat derajat manusia—bukan hanya ke langit, tetapi juga ke puncak kemuliaan akhlak.

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan panggilan abadi bagi umat Islam untuk terus naik—meninggalkan kemalasan spiritual, kebekuan akal, dan kerusakan moral—menuju kehidupan yang lebih bermakna di bawah ridha Allah SWT.


Penulis : Boby Marfansyah Maduwu, S.H (CPNS Penghulu Ahli Pertama, KUA Pancur Batu, Kemenag Deli Serdang)



Bagikan Artikel Ini

Infografis