Diplomasi di Meja Akad: Kala Penghulu Medan dan Jakarta Memartabatkan Bangsa Lewat Bahasa
02 Feb 2026 | 108 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Di bawah temaram lampu ruang prosesi, suasana mendadak hening. Seorang pria berkebangsaan asing tampak menarik napas panjang, jemarinya sedikit bergetar saat berhadapan dengan wali nikah. Di sisi lain meja, duduk seorang pria berseragam resmi dengan tatapan teduh namun berwibawa. Ia tidak hanya membawa buku nikah dan pena, tetapi juga membawa sebuah "senjata" yang melintasi batas-batas teritorial: kefasihan berbahasa asing.
Momen ini bukan sekadar urusan administrasi negara. Di tangan para Penghulu masa kini, meja akad telah bertransformasi menjadi panggung diplomasi. Inilah kisah kolaborasi inspiratif antara dua putra terbaik Kementerian Agama, H. Ramlan, MA (Penghulu KUA Medan Perjuangan, Kota Medan) dan H. Muhammad Zidni Ilmi, Lc (Penghulu KUA Setiabudi, Jakarta Selatan), yang membuktikan bahwa pelayanan publik di Indonesia telah naik kelas menuju level dunia.
Menembus Sekat Bahasa, Melayani WNA Menuju 'Sah'
Selama ini, citra Penghulu sering kali terjebak dalam stigma tradisional—sosok sepuh yang hanya fasih berbahasa daerah atau Indonesia. Namun, Ramlan dan Zidni meruntuhkan tembok persepsi tersebut. Keduanya menyadari bahwa di era globalisasi, mobilitas manusia antarnegara adalah keniscayaan. Kota besar seperti Jakarta dan Medan menjadi titik temu berbagai budaya, di mana pernikahan lintas negara (Warga Negara Asing/WNA) bukan lagi pemandangan langka.
H. Ramlan, MA, yang bertugas di jantung Kota Medan, memahami betul posisi strategis wilayahnya. Medan sebagai kota niaga internasional menuntut layanan yang tidak kaku. "Pelayanan nikah untuk WNA bukan hanya soal sah secara syariat dan hukum positif, tapi bagaimana mereka merasa dihargai dan dipahami prosesinya," ungkapnya dalam satu kesempatan.
Sementara itu, di pusat gravitasi ekonomi dan diplomatik Indonesia, H. Muhammad Zidni Ilmi, Lc, menghadapi tantangan serupa di Setiabudi, Jakarta Selatan. Wilayah yang dikelilingi kedutaan besar dan perkantoran multinasional ini membuat Zidni kerap bertemu dengan calon pengantin dari berbagai belahan dunia. Berbekal latar belakang pendidikan tinggi (gelar Licence yang mencerminkan kedalaman ilmu agama dan bahasa), Zidni membawa standar baru dalam melayani ekspatriat.
Meski terpisah jarak ribuan kilometer antara Medan dan Jakarta, Ramlan dan Zidni terhubung dalam satu visi: Diplomasi Bahasa. Mereka sering berbagi pengalaman dan metode dalam memandu akad nikah menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa Arab secara fasih.
Praktik yang mereka jalankan bukan sekadar menerjemahkan kata-kata. Saat memandu rangkaian acara, mulai dari pembukaan, khutbah nikah, hingga prosesi ijab kabul, keduanya menggunakan diksi yang tepat secara teologis namun tetap menyentuh secara emosional.
Bayangkan seorang pengantin asal Eropa atau Timur Tengah yang awalnya tegang karena kendala bahasa, tiba-tiba merasa "teduh" saat mendengar sang Penghulu menjelaskan hak dan kewajiban suami-istri dalam bahasa ibu mereka atau bahasa internasional yang mereka pahami. Di sinilah letak magisnya: bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan sakralitas ibadah dengan legalitas negara.
Memartabatkan Bangsa Lewat Profesionalisme
Mengapa penguasaan bahasa asing oleh Penghulu dianggap sebagai prestasi yang membanggakan? Jawabannya terletak pada martabat bangsa.
Ketika seorang Penghulu mampu memandu akad nikah WNA dengan bahasa asing yang fasih, ia sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia: "Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia adalah profesional yang kompeten, berwawasan luas, dan siap melayani siapa saja tanpa sekat komunikasi."
Ini adalah bentuk diplomasi soft power. Bagi pengantin WNA dan keluarga besar mereka yang hadir, sosok Ramlan dan Zidni adalah wajah Indonesia. Keramahan yang dibalut kecerdasan linguistik menciptakan impresi positif bahwa institusi keagamaan di Indonesia, khususnya KUA, telah bertransformasi menjadi lembaga yang modern dan inklusif.
"Kecakapan bahasa asing bagi Penghulu adalah kebutuhan mendesak. Ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk memastikan pesan-pesan suci dalam pernikahan tersampaikan dengan akurat kepada mereka yang tidak berbahasa Indonesia," ujar salah satu rekan sejawat mereka yang terinspirasi.
Tantangan dan Dedikasi Tanpa Batas
Perjalanan Ramlan dan Zidni mencapai titik ini tentu tidak instan. Di balik kefasihan mereka, ada dedikasi untuk terus belajar (long-life learning). H. Ramlan dengan gelar Magister-nya terus mendalami literatur kontemporer, sementara H. Zidni memanfaatkan latar belakang pendidikan Timur Tengah-nya untuk memberikan layanan prima.
Mereka seringkali harus menghadapi situasi kompleks, seperti menjelaskan prosedur hukum perkawinan di Indonesia kepada warga asing yang memiliki latar belakang hukum berbeda. Di sinilah kemampuan bahasa asing bertemu dengan kecakapan negosiasi dan edukasi hukum. Mereka menjadi konsultan, mediator, sekaligus pemimpin prosesi ritual.
Apa yang dilakukan oleh dua Penghulu ini menjadi pemantik semangat bagi ribuan Penghulu lainnya di seluruh pelosok negeri. Prestasi mereka membuktikan bahwa KUA bukan lagi "kantor pinggiran", melainkan garda terdepan dalam pelayanan publik yang mampu bersaing secara global.
Menuju Masa Depan : Penghulu World Class
Kolaborasi dan praktik baik yang ditunjukkan oleh H. Ramlan dan H. Muhammad Zidni Ilmi adalah prototipe dari "Penghulu World Class". Mereka adalah bukti nyata dari transformasi layanan yang diusung Kementerian Agama. Di bawah kepemimpinan yang progresif, Penghulu kini didorong untuk tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga mampu menggenggam dunia melalui penguasaan bahasa.
Keberhasilan mereka melayani akad nikah WNA dengan bahasa asing adalah sebuah oase inspirasi. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah profesi yang sering dianggap konvensional mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas spiritualnya.
Sebagai penutup, kutipan klasik mengatakan bahwa "Bahasa menunjukkan bangsa." Melalui lisan Ramlan di Medan dan Zidni di Jakarta, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi menjadi instrumen untuk memartabatkan bangsa di hadapan warga dunia. Di meja akad yang sederhana, mereka telah menuliskan catatan emas tentang profesionalisme, integritas, dan cinta pada tanah air. (MHS)