Daerah
Setiap pekan, tak kurang dari 40 jamaah, didominasi oleh kaum ibu, berkumpul setelah waktu shalat Ashar. Dinginnya udara Lae Parira yang menusuk tulang tak sedikit pun menyurutkan semangat mereka untuk menyimak tausiyah dan memperdalam ilmu agama, bukan Sekadar Pengajian Biasa Ustadzah Asiyah Pandiangan salah satu Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lae Parira menjelaskan bahwa kegiatan Majelis Taklim Sigundur dirancang untuk tidak hanya menyampaikan materi agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial (silaturahmi) antar warga.

"Di sini, kami tidak hanya membahas fikih atau hadits, tetapi juga mencari solusi atas masalah-masalah sosial yang dihadapi warga. Mulai dari manajemen rumah tangga Islami, pendidikan anak, hingga cara bertani yang berkah. Ini adalah majelis yang hidup, yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di kaki bukit ini," ujar salah satu jema'ah
Keunikan lain dari majelis ini adalah sesi "Bincang Santai Setelah Ngaji". Setelah tausiyah utama selesai, jamaah disajikan teh hangat dan makanan ringan hasil swadaya, membuka ruang diskusi informal yang lebih akrab. Menjaga semangat di perbatasan Desa Sigundur, yang terletak di kawasan perbatasan dan perbukitan, seringkali menghadapi tantangan akses informasi dan fasilitas umum. Kehadiran Majelis Taklim Sigundur dianggap sebagai pilar penting yang menjaga moral dan kebersamaan warga.
Salah satu jamaah rutin, mengungkapkan rasa syukurnya. "Udara di sini memang dingin, tapi hati kami jadi hangat setelah berkumpul dan mendengarkan ilmu. Kalau dulu kami merasa jauh dari kota dan sulit mencari tempat belajar, sekarang majelis ini hadir tepat di depan rumah kami. Ini adalah sumber semangat kami," katanya.
Pihak KUA Kecamatan Lae Parira mengapresiasi inisiatif swadaya Majelis Taklim Sigundur. Mereka berharap kegiatan ini dapat terus menjadi contoh bagaimana komunitas lokal dapat secara mandiri menciptakan pusat pendidikan dan spiritualitas yang berdampak positif bagi kesejahteraan mental dan sosial masyarakat. Dengan suasana syahdu yang diiringi lantunan doa dan hawa dingin perbukitan, Majelis Taklim Sigundur terus menjadi saksi bisu upaya warga Lae Parira dalam merajut keimanan dan kebersamaan. (ZA)
Syahdu di Kaki Bukit Lae Parira: Majelis Taklim Sigundur, Oase Ilmu di Tengah Dinginnya Udara
10 Dec 2025 | 40 | Penulis : Humas Cabang APRI Dairi | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Lae Parira, (Humas). Di antara deru angin yang membawa hawa sejuk dari perbukitan, sebuah kegiatan rutin menjadi penyejuk hati bagi puluhan warga Desa Sigundur, Kecamatan Lae Parira. Majelis Taklim Sigundur, yang secara konsisten mengadakan pertemuan di masjid setempat, telah menjelma menjadi 'oase ilmu' yang syahdu dan menenangkan di tengah kesibukan sehari-hari sebagai petani dan peladang, Senin (08/12).
Setiap pekan, tak kurang dari 40 jamaah, didominasi oleh kaum ibu, berkumpul setelah waktu shalat Ashar. Dinginnya udara Lae Parira yang menusuk tulang tak sedikit pun menyurutkan semangat mereka untuk menyimak tausiyah dan memperdalam ilmu agama, bukan Sekadar Pengajian Biasa Ustadzah Asiyah Pandiangan salah satu Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lae Parira menjelaskan bahwa kegiatan Majelis Taklim Sigundur dirancang untuk tidak hanya menyampaikan materi agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial (silaturahmi) antar warga.

"Di sini, kami tidak hanya membahas fikih atau hadits, tetapi juga mencari solusi atas masalah-masalah sosial yang dihadapi warga. Mulai dari manajemen rumah tangga Islami, pendidikan anak, hingga cara bertani yang berkah. Ini adalah majelis yang hidup, yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di kaki bukit ini," ujar salah satu jema'ah
Keunikan lain dari majelis ini adalah sesi "Bincang Santai Setelah Ngaji". Setelah tausiyah utama selesai, jamaah disajikan teh hangat dan makanan ringan hasil swadaya, membuka ruang diskusi informal yang lebih akrab. Menjaga semangat di perbatasan Desa Sigundur, yang terletak di kawasan perbatasan dan perbukitan, seringkali menghadapi tantangan akses informasi dan fasilitas umum. Kehadiran Majelis Taklim Sigundur dianggap sebagai pilar penting yang menjaga moral dan kebersamaan warga.
Salah satu jamaah rutin, mengungkapkan rasa syukurnya. "Udara di sini memang dingin, tapi hati kami jadi hangat setelah berkumpul dan mendengarkan ilmu. Kalau dulu kami merasa jauh dari kota dan sulit mencari tempat belajar, sekarang majelis ini hadir tepat di depan rumah kami. Ini adalah sumber semangat kami," katanya.
Pihak KUA Kecamatan Lae Parira mengapresiasi inisiatif swadaya Majelis Taklim Sigundur. Mereka berharap kegiatan ini dapat terus menjadi contoh bagaimana komunitas lokal dapat secara mandiri menciptakan pusat pendidikan dan spiritualitas yang berdampak positif bagi kesejahteraan mental dan sosial masyarakat. Dengan suasana syahdu yang diiringi lantunan doa dan hawa dingin perbukitan, Majelis Taklim Sigundur terus menjadi saksi bisu upaya warga Lae Parira dalam merajut keimanan dan kebersamaan. (ZA)