Suluh KUA Sidikalang Digugu dan Ditiru : Lentera Berantas Buta Aksara Alquran
Daerah

Suluh KUA Sidikalang Digugu dan Ditiru : Lentera Berantas Buta Aksara Alquran

  28 Nov 2025 |   34 |   Penulis : Humas Cabang APRI Dairi |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Hembusan udara sejuk khas Sidikalang menyapa lembut wajah-wajah belia yang berkumpul di pelataran Masjid Jabal Nur, Sidiangkat. Di bawah naungan atap rumah ibadah yang kokoh ini, Selasa pagi itu terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Tidak ada keriuhan upacara seremonial yang kaku, melainkan sebuah kehangatan interaksi yang dibangun di atas lantai masjid. Momentum 25 November yang lazim diperingati sebagai Hari Guru, dirayakan dengan cara yang paling purba namun mulia: membebaskan jiwa dari belenggu ketidaktahuan.


Di sudut ruang utama masjid, puluhan pasang mata menatap antusias. Mereka adalah anak-anak usia emas, rentang 10 hingga 14 tahun, yang sedang berada di fase krusial pembentukan karakter. Masa-masa ini ibarat tanah liat yang masih basah, siap dibentuk menjadi bejana yang indah atau dibiarkan mengeras tanpa rupa. KUA Sidikalang hadir di tengah mereka, membawa misi agung untuk memastikan bejana-bejana muda ini terisi oleh cahaya Al-Qur'an.

Program pemberantasan buta aksara Al-Qur'an ini bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban dinas. Ini adalah sebuah gerakan kultural untuk menghidupkan kembali tradisi "mengaji" yang perlahan mulai tergerus gawai. Targetnya jelas dan terukur: memastikan setiap anak mampu melafalkan huruf hijaiyah dari Iqra' hingga lancar menelusuri ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil yang benar.

Tiga sosok pegiat literasi agama tampil sebagai nahkoda hari itu. Mereka adalah Sawal Dabutar, S.Sos.I dan Dian Mahardika, S.S, yang merupakan Penyuluh Agama Islam, serta didampingi oleh Nurul Ella Pratiwi Padang, S.Pd, staf KUA Sidikalang yang berdedikasi. Ketiganya hadir bukan sebagai pejabat yang berjarak, melainkan sebagai kakak, orang tua, sekaligus sahabat bagi anak-anak Sidiangkat.

Sawal Dabutar membuka sesi dengan pendekatan yang persuasif. Dengan latar belakang sosialnya, ia paham betul bagaimana menyentuh hati anak-anak sebelum menyentuh akal mereka. Ia tidak langsung menghujani mereka dengan teori tajwid yang rumit, melainkan membangun jembatan komunikasi agar anak-anak merasa nyaman dan tidak terintimidasi oleh materi pelajaran.

Di sisi lain, Dian Mahardika membawa presisi dalam pengenalan aksara. Sebagai seorang sarjana sastra, ia memahami bahwa setiap huruf memiliki "ruh" dan tempat keluarnya masing-masing. Dengan telaten, ia memperbaiki pelafalan makhraj huruf yang seringkali tertukar di lidah anak-anak, memastikan 'Ain tidak terdengar seperti Ngain, dan Ha terdengar bersih dari tenggorokan.

Kehadiran Nurul Ella Pratiwi Padang memberikan sentuhan kelembutan yang menyeimbangkan suasana. Ia dengan sabar membimbing anak-anak yang masih terbata-bata mengeja Iqra' jilid awal. Ketelatenannya menjadi kunci bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, membuktikan bahwa pendidikan bukan tentang seberapa cepat seseorang berlari, tetapi seberapa konsisten ia melangkah. Suara dengungan bacaan mulai memenuhi ruang akustik Masjid Jabal Nur. Lantunan Alif, Ba, Ta bersahutan dengan ayat-ayat pendek, menciptakan simfoni spiritual yang menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya.

Di momen inilah, esensi pendidikan Islam menemukan bentuknya yang paling nyata: transfer adab dan ilmu secara langsung, face to face, dari hati ke hati. Bagi anak-anak usia 10-14 tahun, belajar membaca Al-Qur'an memiliki tantangan tersendiri. Di usia ini, logika mereka mulai berkembang kritis, namun rasa malu juga mulai tumbuh. Tim pengajar dari KUA Sidikalang menyadari psikologis ini. Mereka tidak menghardik ketika salah, melainkan memberikan koreksi dengan senyuman, membuat anak-anak tetap tegak kepalanya untuk mencoba lagi.

Gerakan ini menyasar fondasi dasar keimanan. Ketika seorang anak mampu membaca Al-Qur'an, ia tidak hanya sekadar membunyikan huruf, tetapi ia sedang memegang kunci untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan hidup. Sidiangkat, dengan segala kearifan lokalnya, sedang menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mapan secara spiritual. Filosofi jawa kuno yang sering kita dengar, "Guru digugu dan ditiru", benar-benar teranulir secara positif di sini. Sawal, Dian, dan Nurul tidak hanya memerintah anak-anak untuk membaca, tetapi mereka sendiri mencontohkan kecintaan terhadap kitab suci.

Sikap mereka, tutur kata mereka, dan kesabaran mereka menjadi kurikulum tersirat yang direkam kuat oleh memori anak-anak tersebut. Wajah-wajah polos itu perlahan menampakkan rona kepercayaan diri. Ada kebanggaan tersendiri ketika seorang anak yang sebelumnya asing dengan sambungan huruf Arab, kini bisa merangkainya menjadi kata yang bermakna. Momen kecil keberhasilan ini adalah kemenangan besar bagi masa depan mereka, sebuah bekal yang tidak akan pernah habis dimakan zaman.

Masjid Jabal Nur hari itu benar-benar menjadi "Gunung Cahaya" dalam arti yang sesungguhnya. Bukan karena lampu kristal yang megah, melainkan karena cahaya ilmu yang dipantik oleh para penyuluh dan staf KUA. Mereka menyalakan obor di tengah tantangan zaman yang serba instan, mengajak anak-anak untuk mau berproses dan bersabar dalam menuntut ilmu. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa merayakan Hari Guru tidak harus dengan karangan bunga atau pidato berapi-api. Justru dengan turun ke bawah, duduk bersila bersama anak-anak, dan menuntun lisan mereka menyebut asma Allah, adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap profesi keguruan.

KUA Sidikalang telah memilih jalan sunyi namun berdampak nyata. Saat kegiatan berakhir menjelang siang, gema bacaan mungkin telah senyap, namun jejaknya tertinggal di sanubari. Anak-anak Sidiangkat pulang dengan membawa satu huruf, satu kata, atau satu ayat baru di dada mereka. Di tangan para penyuluh dan staf inilah, harapan akan generasi yang qurani di Sidikalang terus dijaga nyalanya, agar tak pernah padam ditiup angin perubahan zaman. (MHS/SD)

Bagikan Artikel Ini

Infografis