Daerah
Staf KUA Bandar Khalifah Tanamkan Kesadaran Ekoteologi dalam Pembinaan Umat
02 Oct 2025 | 111 | Penulis : Humas Cabang APRI Serdang Bedagai | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Bandar Khalifah, (Humas). Staf Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bandar Khalifah terus berupaya menghadirkan inovasi dalam pembinaan umat. Salah satu langkah terbarunya adalah mengintegrasikan konsep ekoteologi atau teologi lingkungan ke dalam materi keagamaan yang disampaikan kepada masyarakat, Kamis, (02/10).
Program ini dipimpin langsung oleh staf KUA Bandar Khalifah, yaitu Usman Nizar, Ponijan, dan Mhd. Riduansyah. Mereka tidak hanya mengajarkan nilai-nilai ibadah dan akhlak, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual seorang Muslim.
Menurut para Staf KUA Bandar Khalifah, ekoteologi dipahami sebagai upaya menghubungkan ajaran agama dengan kesadaran ekologis. Dengan pendekatan ini, masyarakat diingatkan bahwa menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, dan memanfaatkan alam secara bijak merupakan wujud nyata dari ibadah kepada Allah SWT.
Kegiatan pembinaan berbasis ekoteologi dilaksanakan di masjid, majelis taklim, hingga balai desa. Selain mendengarkan ceramah dan diskusi, warga juga diajak terlibat dalam aksi nyata seperti gotong royong membersihkan lingkungan, penanaman pohon, hingga pengelolaan sampah berbasis masjid.
“Islam menekankan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Karena itu, menjaga bumi bukan hanya kebutuhan hidup, tetapi juga ibadah yang harus dipahami dan dipraktikkan umat,” ujar Ponijan, salah Staf KUA yang aktif dalam program ini.Tak hanya sebatas ceramah, staf KUA Bandar Khalifah juga menyiapkan modul khusus berisi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis tentang pentingnya menjaga lingkungan. Modul ini dipakai sebagai bahan pembinaan rutin dan menjadi pedoman praktis masyarakat dalam menerapkan nilai ekoteologi di kehidupan sehari-hari.
Masyarakat menyambut baik program ini. Beberapa tokoh desa bahkan berharap agar kegiatan ekoteologi dapat dijadikan agenda tetap dalam setiap pembinaan umat, karena dianggap relevan dengan tantangan zaman, terutama maraknya persoalan lingkungan.
Dengan adanya gerakan ini, KUA Bandar Khalifah menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan tidak hanya berfokus pada persoalan ritual, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan ekologis. Harapannya, kesadaran ekoteologi yang ditanamkan dapat membentuk generasi yang religius sekaligus peduli lingkungan, sehingga tercipta kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga membuka ruang dialog antara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Para pemuda dilibatkan secara aktif agar menjadi motor penggerak perubahan dalam gerakan ekoteologi.
Dengan semangat kolaborasi ini, diharapkan tercipta budaya baru di masyarakat yang menempatkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari ibadah kolektif.Dengan demikian, keberadaan staf KUA Bandar Khalifah dalam mengusung konsep ekoteologi menjadi bukti bahwa lembaga keagamaan memiliki peran besar dalam menjawab tantangan zaman. Mereka tidak hanya menjadi pengawal nilai spiritual, tetapi juga agen perubahan sosial yang mendorong lahirnya kehidupan berkelanjutan di tengah masyarakat. (MHS/MIS)