Pernikahan Dini Akar Masalah Lintas Sektoral: Analisis Gunung Es di Cigemblong
30 Sep 2025 | 692 | Penulis : Biro Humas APRI Banten | Publisher : Biro Humas APRI Banten
CIGEMBLONG – Pemerintah Kecamatan Cigemblong menggelar Mini Lokakarya Lintas Sektoral pada Senin, 29 September, untuk menyelaraskan upaya pencegahan pernikahan dini. Acara yang diinisiasi bersama Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) ini menekankan bahwa pernikahan dini merupakan sumber berbagai masalah pembangunan yang kompleks di daerah tersebut.
Lokakarya ini dihadiri oleh jajaran penting lintas sektor, termasuk Kepala Desa dan perangkat desa, Plt Kepala Puskesmas Cigemblong, Sekretaris Kecamatan (Sekmat), dan seluruh Kepala Seksi (Kasi). Plt Kepala KUA Cigemblong, Zita Fahmi Alfarizi, bertindak sebagai fasilitator utama.
Zita Fahmi Alfarizi memaparkan bahwa masalah yang muncul di permukaan—seperti tingginya angka cerai atau kasus KDRT—hanyalah puncak dari "gunung es".
“Semua masalah yang dialami oleh lintas sektoral, akarnya hanya satu: pernikahan dini,” tegas Zita Fahmi Alfarizi.
Ia kemudian mengajak peserta untuk melihat lebih dalam menggunakan Analisis Gunung Es (Iceberg Analysis). Menurutnya, pernikahan dini yang tampak di permukaan adalah Peristiwa (Event) yang terlihat. Namun, untuk mengatasinya, perlu digali komponen yang berada di bawah permukaan laut:
Pola (Patterns): "Kita harus melihat pola yang terjadi, misalnya pola pengiriman anak untuk bekerja atau pola kecenderungan putus sekolah di usia muda," jelasnya.
Sistem (Structures): "Di bawah pola, ada sistem yang memungkinkan ini terjadi, seperti kemudahan akses informasi negatif atau masih ada celah dalam regulasi yang membolehkan pernikahan dini," tambah Zita.
Mental Model: "Dan yang paling dalam adalah mental model atau paradigma berpikir. Misalnya, anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak penting bagi anak perempuan, atau keyakinan bahwa menikah muda adalah cara menghindari zina. Inilah yang paling sulit diubah dan menjadi kunci terjadinya pernikahan dini," tutupnya.
Ia menegaskan bahwa pernikahan dini memicu rantai masalah. "Pernikahan dini akan mengakibatkan anak stunting, setelah itu hasilnya SDM rendah, lalu pendapatan rendah, dan akhirnya kembali lagi ke pernikahan dini. Rantainya akan terus berputar di situ."
Camat Cigemblong, H. Sardi, menekankan bahwa penanganan masalah kompleks ini memerlukan sinergi yang kuat dari semua pihak.
“Penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ibarat sapu lidi, ia hanya kuat jika digunakan bersama-sama. Oleh karena itu, kolaborasi seluruh sektor adalah kunci. Mari kita jadikan hasil lokakarya ini sebagai panduan untuk bergerak serentak, dari tingkat kecamatan hingga perangkat desa, demi masa depan generasi kita,” ujar Camat H. Sardi.
Senada dengan Camat, Plt Kepala Puskesmas Cigemblong H Susilo, yang baru bertugas, menyatakan kesiapan instansinya. “Kami dari Puskesmas siap mendukung penuh program dan langkah-langkah positif yang sudah berjalan di Cigemblong, khususnya dalam upaya pencegahan pernikahan dini. Ini sejalan dengan upaya kami untuk meningkatkan kesehatan reproduksi remaja dan mencegah stunting sejak dini.”
Mini lokakarya ini diharapkan menjadi pondasi untuk merumuskan program kerja terpadu, berfokus pada perubahan mental model dan sistem sosial, guna menekan angka pernikahan dini di Cigemblong.