Daerah
Penghulu Pertama KUA Borbor Merajut Indahnya Ukhuwah di Tengah Demam Piala Dunia
16 Jul 2026 | 8 | Penulis : Humas Cabang APRI Toba | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Piala Dunia selalu berhasil menyedot perhatian miliaran pasang mata di seluruh jagat raya. Turnamen sepak bola terbesar di dunia ini bukan sekadar panggung unjuk gigi bagi para bintang lapangan hijau, melainkan juga festival emosi yang masif. Ada euforia kemenangan, ada tangis kekalahan, dan tak jarang, ada gesekan serta perdebatan panas antar pendukung tim nasional.
Di sinilah kedewasaan kita sebagai seorang muslim diuji. Bagaimana kita menyikapi perbedaan dukungan? Apakah sebuah turnamen olahraga yang berlangsung selama beberapa pekan boleh mengoyak ikatan persaudaraan yang telah dibangun seumur hidup? tentu saja tidak. Momentum Piala Dunia justru harus kita jadikan sebagai ladang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).
Menyadari Hakikat Persaudaraan
Dalam Islam, persaudaraan antar sesama mukmin dipandang seperti satu tubuh. Fanatisme buta (ashabiyah) terhadap suatu tim sepak bola hingga memicu caci maki, saling merendahkan, atau permusuhan, sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar iman.
Allah SWT telah menegaskan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ikatan keimanan jauh lebih tinggi dan suci daripada sekat-sekat geopolitik, negara, apalagi sekadar tim sepak bola pilihan. Ketika ada gesekan antar teman karena berbedanya tim yang didukung, tugas kita adalah mendinginkan suasana, bukan malah mengomporinya.
Menjaga Lisan dan Sikap Saat Nobar
Acara "Nonton Bareng" (Nobar) adalah pemandangan lumrah selama Piala Dunia. Nobar bisa menjadi sarana silaturahmi yang menyenangkan, namun juga bisa menjadi sumbu konflik jika tidak diiringi dengan adab. Psywar atau saling lempar candaan antar pendukung memang biasa, tetapi batasannya adalah jangan sampai menjurus pada penghinaan (tasykhir) dan ghibah.
Rasulullah SAW telah memberikan panduan moral yang sangat tegas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim:
"Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mengusik muslim lainnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, Nabi SAW juga bersabda: "Bukanlah seorang mukmin, jika ia suka mencela, melaknat, berkata-kata keji, dan berlidah kotor." (HR. Tirmidzi)
Ketika tim jagoan kita menang, rayakanlah dengan sewajarnya tanpa harus mengejek pendukung tim yang kalah. Sebaliknya, saat tim jagoan kita kalah, terimalah dengan lapang dada tanpa harus mencari-cari kesalahan atau meluapkan emosi dengan kata-kata kasar.
Meneladani Sifat Saling Menguatkan
Sepak bola adalah permainan tim. Keberhasilan mencetak gol lahir dari kerja sama yang solid, saling percaya, dan saling menutupi kelemahan posisi masing-masing pemain. Filosofi sepak bola ini sebenarnya sangat sejalan dengan bagaimana Islam memandang hubungan antar umatnya.
Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat satu sama lain." Kemudian beliau SAW menyilangkan jari-jarinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika di lapangan hijau para pemain bekerja sama demi sebuah trofi, maka di kehidupan nyata kita harus saling menguatkan demi meraih rida Allah SWT. Jadikan momentum Piala Dunia ini untuk berkumpul, mempererat komunikasi, dan berbagi kebahagiaan. Jika ada taruhan atau judi bola, tegaslah untuk menolaknya, karena hal tersebut justru merusak keberkahan dan memicu permusuhan.
Kesimpulan
Piala Dunia hanyalah sebuah hiburan di dunia yang sifatnya sementara. Skor akhir pertandingan akan tercatat di papan skor, namun setiap ucapan, ketikan di media sosial, dan sikap kita terhadap sesama saudara akan tercatat abadi di buku amal kita.
Mari kita nikmati indahnya permainan sepak bola dengan tetap menjaga indahnya akhlak Islam. Jangan biarkan fanatisme sepak bola meruntuhkan ukhuwah yang bernilai pahala.
JADIKAN LAPANGAN HIJAU SEBAGAI TONTONAN, DAN JADIKAN UKHUWAH ISLAMIYAH SEBAGAI TUNTUNAN