Penghulu KUA Alasa Wujudkan Rumah Ibadah Asri melalui Ekoteologi
Daerah

Penghulu KUA Alasa Wujudkan Rumah Ibadah Asri melalui Ekoteologi

  06 May 2026 |   16 |   Penulis : Humas Cabang APRI Nias Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Alasa (Humas). Suasana pagi hari yang cerah di halaman Masjid Ulfatun Taqwa, Desa Walo, Kecamatan Afulu, tampak berbeda. Di sela aktivitas ibadah, dua penghulu dari KUA Alasa hadir bukan dengan berkas atau buku nikah, melainkan dengan bibit pohon di tangan. Sebuah pemandangan sederhana, namun sarat makna.

Melalui aksi penanaman pohon, Penghulu KUA Alasa, Sarwan Lubis, S.H. dan Reski Suhendra Yanto, S.H. menghadirkan wajah lain dari peran penghulu bukan hanya sebagai pelayan administrasi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keimanan.

Langkah kecil ini menjadi cerminan bahwa dakwah tidak selalu disampaikan dari mimbar. Di tanah yang ditanami, tersimpan pesan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ketaatan. Ekoteologi, dalam hal ini, hadir bukan sebagai konsep, tetapi sebagai praktik yang menyatu dengan kehidupan umat.

Rumah ibadah dipilih bukan tanpa alasan. Masjid bukan sekadar tempat beribadah, tetapi juga ruang pembelajaran sosial. Ketika lingkungan masjid tampak asri, sejuk, dan tertata, maka secara tidak langsung ia mengajarkan nilai bahwa kebersihan, keindahan, dan keseimbangan alam adalah bagian dari ajaran agama itu sendiri.

Bagi penghulu, peran ini adalah panggilan. Di tengah tantangan zaman, isu lingkungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembinaan umat. Penghulu dituntut hadir dengan pendekatan yang lebih kontekstual menyentuh, memberi contoh, dan menggerakkan.

Kegiatan ini juga menjadi refleksi rasa syukur atas perjalanan pengabdian yang sedang dilalui. Bukan sekadar ungkapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang memberi dampak nyata bagi sekitar. Sebab pada akhirnya, setiap amanah bukan hanya untuk dijalani, tetapi juga untuk memberi arti.

Dengan langkah sederhana ini, Penghulu KUA Alasa menegaskan bahwa ekoteologi bukan sekadar wacana. Ia hidup dalam tindakan, tumbuh bersama pohon yang ditanam, dan diharapkan mengakar dalam kesadaran masyarakat menuju lingkungan yang asri, harmonis, dan berkelanjutan. (MHS/SL)

Bagikan Artikel Ini

Infografis