Penghulu dan Ekoteologi: Integrasi Otoritas Keagamaan dalam Membangun Kesadaran Ekologis Berbasis Nilai-Nilai Islam
Inspirasi

Penghulu dan Ekoteologi: Integrasi Otoritas Keagamaan dalam Membangun Kesadaran Ekologis Berbasis Nilai-Nilai Islam

  26 Feb 2026 |   8 |   Penulis : Humas Cabang APRI Kab Gorontalo |   Publisher : Biro Humas APRI Gorontalo

Penghulu dan Ekoteologi: Integrasi Otoritas Keagamaan dalam Membangun Kesadaran Ekologis Berbasis Nilai-Nilai Islam


Abstrak
Tulisan ini mengkaji peran penghulu sebagai representasi otoritas keagamaan dalam perspektif ekoteologi Islam. Di tengah krisis lingkungan global, diperlukan pendekatan integratif yang menghubungkan dimensi teologis dengan tanggung jawab ekologis. Penghulu, sebagai aktor sosial-religius yang berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui layanan pernikahan, bimbingan keluarga, dan edukasi keagamaan, memiliki posisi strategis dalam mentransformasikan nilai-nilai spiritual menjadi kesadaran ekologis. Kajian ini menegaskan bahwa internalisasi konsep khalifah, amanah, dan mizan dalam Islam dapat menjadi fondasi normatif bagi gerakan pelestarian lingkungan berbasis komunitas.

Pendahuluan
Krisis ekologis kontemporer—meliputi deforestasi, perubahan iklim, dan degradasi sumber daya alam—bukan semata problem teknis, melainkan juga problem etis dan teologis. Ekoteologi hadir sebagai disiplin interdisipliner yang menghubungkan teologi dengan etika lingkungan. Dalam konteks Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) yang memikul tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ciptaan.

Sebagai pejabat fungsional keagamaan di lingkungan Kementerian Agama, penghulu tidak hanya menjalankan tugas administratif pencatatan nikah, tetapi juga mengemban misi pembinaan moral dan spiritual masyarakat. Peran ini dapat diperluas dalam kerangka ekoteologi untuk membangun paradigma keberagamaan yang ramah lingkungan.

Kerangka Teoretis: Ekoteologi dalam Perspektif Islam
Ekoteologi Islam berakar pada tiga konsep utama:

Khalifah – manusia sebagai pengelola bumi yang bertanggung jawab.

Amanah – mandat ilahi untuk menjaga keseimbangan alam.

Mizan – prinsip keseimbangan kosmik yang melarang eksploitasi berlebihan.

Ketiga konsep tersebut menegaskan bahwa relasi manusia dengan alam bersifat etis-transendental. Kerusakan lingkungan (fasad fil ardh) dipandang sebagai konsekuensi dari pengingkaran terhadap nilai-nilai tersebut.

Penghulu sebagai Agen Transformasi Ekologis
Penghulu memiliki ruang intervensi sosial yang luas, khususnya dalam:

Bimbingan Perkawinan (Bimwin)
Materi tentang keluarga sakinah dapat diperluas dengan perspektif keluarga berwawasan lingkungan—misalnya pengelolaan sampah rumah tangga, pola konsumsi berkelanjutan, dan pendidikan ekologis bagi anak.

Khutbah dan Tausiyah
Pesan-pesan keagamaan dapat mengintegrasikan dalil-dalil tentang larangan merusak bumi dan kewajiban menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman.

Keteladanan Sosial
Implementasi praktik ramah lingkungan dalam kegiatan keagamaan, seperti pengurangan penggunaan plastik dalam acara akad nikah, dapat menjadi model konkret bagi masyarakat.

Dengan demikian, penghulu tidak hanya berfungsi sebagai legal formalizer akad nikah, tetapi juga sebagai moral educator yang membumikan nilai-nilai ekoteologis.

Implikasi Sosial dan Kelembagaan
Integrasi ekoteologi dalam praksis kepenghuluan memerlukan dukungan kebijakan institusional, seperti penyusunan modul bimbingan keluarga berbasis lingkungan dan pelatihan peningkatan kapasitas penghulu dalam isu keberlanjutan. Pendekatan ini akan memperkuat posisi lembaga keagamaan sebagai mitra strategis dalam pembangunan berkelanjutan.

Kesimpulan
Penghulu memiliki potensi strategis dalam mengartikulasikan ekoteologi Islam ke dalam praktik sosial masyarakat. Melalui internalisasi nilai khalifah, amanah, dan mizan, peran penghulu dapat berkembang dari sekadar pejabat pencatat nikah menjadi agen transformasi ekologis berbasis spiritualitas. Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada ritus, tetapi menjelma menjadi etika kosmik yang menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.
By : Zulkifli Tolinggi ( Z.T )

Bagikan Artikel Ini

Infografis