Daerah
Menjemput Berkah di Ujung Senja: Strategi Cerdas Pernikahan Ramadan KUA Sidikalang
25 Feb 2026 | 7 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Suasana syahdu menyelimuti Desa Bintang Mersada pada Senin sore (23/02), saat semburat cahaya matahari mulai meredup menuju ufuk barat. Di tengah khidmatnya ibadah puasa, Kantor Urusan Agama (KUA) Sidikalang melaksanakan tugas mulia mencatatkan janji suci pernikahan yang tidak biasa. Bukan sekadar soal administrasi, namun ada sebuah kebijaksanaan mendalam di balik pemilihan waktu akad yang digelar sesaat sebelum azan Magrib berkumandang.
Pernikahan yang menyatukan komitmen Kuhniate Bintang ini dipandu langsung oleh Penghulu KUA Sidikalang, Muhammad Hisyamsyah Dani, S.H. Di hadapan saksi dan keluarga yang menanti waktu berbuka, prosesi ijab kabul berlangsung lancar dan penuh haru. Namun, yang menarik perhatian adalah alasan di balik penetapan waktu "mepet" berbuka puasa ini, sebuah pendekatan yang jarang terpikirkan namun sangat sarat akan makna syariat.
Muhammad Hisyamsyah Dani menegaskan bahwa pemilihan waktu sore hari menjelang berbuka bukanlah tanpa alasan teknis semata. Beliau menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk proteksi atau perlindungan bagi pasangan pengantin baru. Dengan melangsungkan akad di penghujung hari puasa, pasangan tersebut dapat terhindar dari risiko melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadan, yang mana secara hukum Islam berkonsekuensi pada denda berat atau kafarat.
Sesuai aturan syariat, pasangan yang dengan sengaja melakukan hubungan badan pada siang hari saat berpuasa di bulan Ramadan diwajibkan membayar kafarat berupa puasa selama dua bulan berturut-turut. "Kami ingin pasangan ini mengawali hidup baru dengan tenang tanpa dihantui kekhawatiran melanggar batas-batas ibadah. Memilih waktu di ujung sore adalah solusi cerdas untuk menjaga kesucian puasa sekaligus merayakan kebahagiaan," ujar Hisyamsyah di sela-sela kegiatannya.
Selain pertimbangan syariat yang sangat hati-hati tersebut, momen pernikahan ini juga bertransformasi menjadi sarana silaturahmi yang luar biasa hangat. Alih-alih menggelar pesta besar yang melelahkan, akad nikah ini langsung disambung dengan agenda buka puasa bersama. Kehadiran keluarga besar di Desa Bintang Mersada memberikan nuansa kebersamaan yang lebih intim, di mana doa-doa keberkahan untuk mempelai dipanjatkan bertepatan dengan waktu mustajab menjelang berbuka.
Inisiatif dari KUA Sidikalang ini seolah memberikan perspektif baru bagi masyarakat bahwa Ramadan bukanlah penghalang untuk menyempurnakan ibadah pernikahan. Justru dengan manajemen waktu yang tepat, nilai-nilai sakral dari sebuah pernikahan dapat berjalan beriringan dengan kedisiplinan berpuasa. Hal ini membuktikan bahwa pelayanan KUA tidak hanya bersifat kaku, melainkan sangat adaptif terhadap kebutuhan spiritual dan kondisi sosial masyarakat.
Bagi pasangan Kuhniate Bintang, momen ini tentu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Menandatangani buku nikah di saat perut menahan lapar dan dahaga, lalu sesaat kemudian merayakan kemenangan puasa bersama pasangan halal untuk pertama kalinya, menjadi kado Ramadan yang paling indah. Kehangatan takjil dan hidangan berbuka menjadi saksi bisu dimulainya perjalanan baru mereka sebagai sepasang suami istri yang sah di mata negara dan agama.
Pelaksanaan pernikahan di Desa Bintang Mersada ini pun berakhir sukses dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajah semua yang hadir. KUA Sidikalang sekali lagi membuktikan komitmennya dalam memberikan pelayanan prima yang penuh pertimbangan moral dan edukasi. Melalui tangan dingin para penghulunya, urusan duniawi dan ukhrawi berhasil diselaraskan dengan begitu indah di bawah langit Sidikalang. (MHS)