Menjemput Ampunan di Bulan Berkah: Menjaga Waktu, Hati, dan Lisan
25 Feb 2026 | 12 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Setiap tahun, Allah menghadirkan satu bulan yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Bulan itu bukan sekadar pergantian tanggal dalam kalender hijriyah, melainkan musim kebaikan, ladang pahala, dan kesempatan emas untuk kembali kepada-Nya. Bulan itu adalah Ramadan.
Ramadan datang membawa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya doa-doa diijabah, pahala dilipatgandakan, dan pintu-pintu surga dibuka lebar.
Namun, Ramadan bukan hanya tentang suasana religius, buka puasa bersama, atau tradisi tahunan. Ramadhan adalah momentum perubahan. Ia adalah madrasah yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.
Dalam menyambut bulan suci ini, Abuya Al-Habib Abdullah Baharun memberikan wasiat yang singkat namun sangat mendalam: “Jagalah waktumu, jagalah hatimu, jagalah lisanmu, dan jangan engkau sibukkan waktumu dengan keburukan.”
Wasiat yang pertama adalah dalam Menjaga Waktu. Waktu adalah nikmat yang paling sering dilalaikan. Ia berjalan tanpa suara, tanpa bisa dihentikan, dan tanpa bisa diulang. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang berkurang.
Ramadan adalah waktu yang sangat mahal. Ia hanya datang sekali dalam setahun. Bahkan tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu kembali dengannya di tahun depan. Betapa banyak orang yang Ramadan tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini telah kembali kepada Allah. Rasulullah bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Menjaga waktu di bulan Ramadan berarti menyadari bahwa setiap menit memiliki nilai ibadah. Bahkan tidur orang yang berpuasa bernilai pahala. Namun, itu bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Ramadan adalah bulan percepatan. Jika di bulan biasa kita membaca Al-Qur’an satu halaman sehari, maka di bulan ini kita tingkatkan menjadi satu juz atau lebih. Jika di bulan biasa kita jarang bangun malam, maka di bulan ini kita latih diri untuk bangun sebelum sahur dan bermunajat kepada Allah. Firman Allah: “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia”. (QS. Al-Baqarah: 185)
Abuya mengingatkan: “Sibukkan waktumu dengan kebaikan. Jika tidak, maka waktu itu akan sibuk dengan keburukan.”
Waktu yang kosong tanpa arah sering kali diisi dengan hal-hal yang melalaikan: media sosial berlebihan, tontonan tanpa manfaat, perbincangan yang tidak perlu, bahkan maksiat yang merusak pahala puasa. Ramadan adalah kesempatan emas. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan nyata dalam hidup kita.
Wasiat Kedua Adalah Menjaga Hati. Hati adalah raja dalam diri manusia. Ia menentukan arah hidup, kualitas ibadah, dan kedekatan dengan Allah. Jika hati bersih, maka amal menjadi ringan. Jika hati kotor, maka ibadah terasa berat. “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi hatinya masih dipenuhi amarah dan kebencian? Berapa banyak yang membaca Al-Qur’an, tetapi masih sulit memaafkan? Ramadan seharusnya menjadi momen rekonsiliasi hati. Memaafkan sebelum meminta maaf. Membersihkan sebelum dibersihkan. Menjaga hati berarti: Memperbaiki niat dalam setiap amal, Menghadirkan rasa diawasi oleh Allah, Memperbanyak istighfar, Menumbuhkan rasa Syukur. Mendoakan kebaikan bagi orang lain
Hati yang bersih akan mudah tersentuh ayat-ayat Allah. Hati yang bersih akan mudah menangis dalam doa. Hati yang bersih akan merasakan manisnya sujud. Jika kita ingin Ramadan terasa indah, maka bersihkan hati sebelum memasuki hari-harinya. Allah berfirman: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Wasiat terakhir Adalah Menjaga Lisan. Lisan adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan lisan, seseorang bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah. Dengan lisan pula, seseorang bisa terjerumus dalam dosa yang besar.
Ramadan adalah bulan latihan pengendalian diri, termasuk dalam berbicara. Tidak cukup hanya menahan makan dan minum, tetapi juga harus menahan ucapan. Menjaga lisan berarti: Menghindari ghibah (membicarakan keburukan orang lain), Menjauhi fitnah dan adu domba, Tidak berkata kasar atau menyakiti, Tidak berdebat tanpa manfaat, Mengisi lisan dengan dzikir dan shalawat.
Berapa banyak pahala puasa yang hilang karena satu kalimat yang tidak dijaga? Betapa mudahnya jari mengetik komentar yang menyakitkan, terutama di era media sosial. Rasulullah bersabda dalam hadisnya: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh pada puasanya dari makan dan minum.”(HR. Bukhari)
Ramadan mengajarkan kita untuk berpikir sebelum berbicara. Jika tidak bermanfaat, lebih baik diam. Diam yang diniatkan karena Allah adalah ibadah. Lisan yang dipenuhi dzikir akan menghadirkan ketenangan dalam jiwa. Lisan yang terbiasa bershalawat akan melembutkan hati. Namun setiap orang mampu untuk meninggalkan maksiat.
“Jika belum mampu banyak bersedekah, jangan mencuri. Jika belum mampu lama berzikir, jangan mencela. Jika belum mampu rajin tahajud, jangan membuka pintu dosa”. Ramadan adalah tentang perbaikan bertahap. Allah tidak melihat seberapa besar amal kita, tetapi seberapa tulus usaha kita untuk berubah.
Kesimpulan : Ramadan Sebagai Titik Balik Kehidupan
Setiap Ramadan seharusnya lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Jika tidak ada peningkatan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: di mana letak kesalahan kita? Jangan sampai Ramadhan hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa bekas. Jadikan ia sebagai titik balik:
“Dari lalai menjadi sadar, dari malas menjadi rajin, dari keras hati menjadi lembut, dari sibuk dunia menjadi dekat dengan Allah”. “Jagalah waktu agar hidupmu bernilai, Jagalah hati agar ibadahmu diterima, Jagalah lisan agar pahalamu tidak hilang”.
Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita. Ramadan yang meninggalkan bekas dalam akhlak, dalam ibadah, dan dalam kedekatan kita kepada Allah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkan wasiat mulia ini dan menjadikan kita hamba-hamba yang keluar dari Ramadan dalam keadaan suci dan lebih baik dari sebelumnya dan istiqomah setelahnya.
Oleh : Muhammad Rifai, S.H., Penulis adalah Penghulu Ahli Pertama di KUA Tuhemberua, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Utara