Daerah

Mengurai Simpul Kain Kafan, Ikhtiar Belajar Ilmu Akhir Kehidupan
14 Dec 2025 | 41 | Penulis : Humas Cabang APRI Dairi | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Ahad, 14 Desember 2025, bukan sekadar hari libur biasa di Kecamatan Sidikalang. Udara sejuk Dairi menjadi saksi bisu dari sebuah inisiatif mulia yang dilaksanakan oleh Jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Sidikalang. Mereka tidak hanya mengurus pernikahan, tetapi juga berupaya mempersiapkan masyarakat untuk urusan penghabisan: kewajiban terakhir bagi setiap Muslim. Acara bertajuk PEMAKE, singkatan dari Pelatihan Melaksanakan Fardu Kifayah, ini digagas sebagai jembatan ilmu yang seringkali terlupakan.
Fardu Kifayah, sebuah kewajiban kolektif, sering dianalogikan sebagai "ilmu mahal" karena sifatnya yang krusial namun spesifik. Ia adalah benteng terakhir kehormatan seorang Muslim sebelum menghadap Sang Pencipta. Kewajiban ini, yang mencakup memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah, gugur dari seluruh umat jika telah dilaksanakan oleh sebagian orang. Namun, di banyak tempat, orang yang kompeten dan berani melakukannya semakin sedikit, membuat ilmu ini menjadi amat berharga dan mendesak untuk disebarluaskan.
Pelatihan ini melibatkan dua komunitas masjid yang vital: Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al Huda Lae Pancur dan BKM Al Hidayah Lae Pinang. Keterlibatan aktif dari BKM menunjukkan kesadaran kolektif bahwa tugas merawat jenazah adalah tanggung jawab masjid dan umat, bukan semata-mata tugas petugas khusus. Ini adalah contoh indah kolaborasi antara lembaga pemerintah (KUA) dan lembaga agama masyarakat (BKM) dalam menjaga kemaslahatan umat.
Di balik kemudi pelatihan ini berdiri tegak seorang tokoh yang berdedikasi: Husni Thamrin Rambe, S.Ag, salah satu Penyuluh Agama Islam (PAI) andalan KUA Sidikalang. Dengan pembawaan yang tenang namun penuh wibawa, beliau mewakili semangat pengabdian. Bagi Pak Husni, menyampaikan ilmu Fardu Kifayah bukan sekadar tugas dinas, melainkan panggilan hati untuk memastikan setiap jiwa mendapat perlakuan terakhir yang sesuai syariat.
Berbeda dengan ceramah biasa yang hanya mengandalkan teori, pelatihan PEMAKE ini menerapkan pendekatan yang sangat praktis. Pak Husni Thamrin Rambe tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa serta semua alat-alat fardu kifayah secara lengkap: mulai dari perlengkapan memandikan, sabun khusus, kapas, hingga kain kafan. Langkah ini menegaskan keseriusan dan niat untuk memberikan pengalaman yang se-realistis mungkin kepada para peserta.
Sesi pertama, memandikan jenazah, menjadi inti yang sarat makna. Pak Husni menjelaskan detail etika, mulai dari menutup aurat jenazah, posisi tubuh, hingga tekanan air yang tepat. Peserta diajarkan bahwa proses ini adalah tentang membersihkan, menyucikan, dan memperlakukan jenazah dengan penuh hormat dan kelembutan, seolah-olah almarhum masih hidup dan merasakan sentuhan.
Setelah sesi memandikan, fokus bergeser pada mengkafani. Di sinilah "ilmu mahal" itu terwujud secara visual. Peserta melihat langsung bagaimana lembar demi lembar kain kafan ditata, bagaimana simpul-simpul diikat, dan bagaimana jenazah dibalut dengan cermat dan rapi. Pak Husni menekankan bahwa kain kafan adalah pakaian terakhir yang dibawa menghadap Illahi, sehingga harus dilakukan dengan sangat teliti dan penuh keikhlasan.
Melalui praktik langsung ini, tujuan KUA Sidikalang terlampaui. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menumbuhkan empati. Para peserta menyadari bahwa mengurus jenazah adalah ibadah yang sarat emosi—suatu kesempatan terakhir untuk berbakti kepada sesama Muslim, terlepas dari status sosialnya di dunia. Kehadiran alat-alat nyata menghilangkan ketakutan dan mitos yang sering menyelimuti proses ini.
Di masyarakat, mengurus jenazah kerap dibayangi rasa takut, canggung, atau bahkan takhayul. Inilah yang ingin dipangkas oleh KUA Sidikalang. Dengan demontrasi yang terbuka dan terstruktur, Pak Husni Thamrin menunjukkan bahwa tugas ini adalah tindakan suci yang membutuhkan keberanian berbasis ilmu, bukan keberanian buta. "Fardu Kifayah adalah ilmu yang mengusir ketakutan," adalah pesan tersirat yang kuat.
Inisiatif seperti PEMAKE ini sangat penting untuk menjamin regenerasi. Jika hanya generasi tua yang menguasai ilmu ini, maka siapa yang akan mengurus generasi yang akan datang? Pelatihan ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan kader-kader muda dari BKM yang siap siaga, menggantikan peran yang mungkin sudah diemban oleh para orang tua selama puluhan tahun.
Acara ini secara halus mengingatkan semua yang hadir akan realitas kehidupan yang paling pasti: ajal. Setiba manusia pada ajal, semua harta, jabatan, dan ambisi duniawi tak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah amalan dan perlakuan terakhir dari sesama Muslim. Fardu Kifayah adalah ilmu yang mempersiapkan kita bukan hanya untuk mengurus yang wafat, tetapi juga untuk merenungkan makna hidup itu sendiri.

Dengan terlaksananya PEMAKE, BKM Al Huda Lae Pancur dan Al Hidayah Lae Pinang kini memiliki anggota yang lebih percaya diri dan kompeten. Hal ini akan mengurangi kebingungan, biaya, dan waktu tunggu ketika ada musibah kematian. Mereka telah menjadi lumbung ilmu yang siap melayani komunitasnya, mewujudkan konsep ta'awun (tolong-menolong) dalam bentuk yang paling esensial.
Inisiatif ini menyoroti peran KUA Kecamatan Sidikalang yang meluas melampaui birokrasi. KUA tampil sebagai fasilitator spiritual dan sosial, lembaga yang peduli terhadap aspek-aspek kehidupan Muslim yang sering terabaikan. Ini adalah bukti bahwa KUA modern adalah mitra masyarakat dalam segala urusan, dari awal kehidupan (pernikahan) hingga akhir kehidupan (fardu kifayah).
Kisah sukses PEMAKE di Sidikalang, diinisiasi oleh KUA bersama BKM Al Huda dan Al Hidayah, patut menjadi inspirasi. Ini adalah model yang dapat ditiru oleh daerah lain di seluruh Indonesia: bagaimana mengatasi kelangkaan "ilmu mahal" dengan cara yang praktis, kolaboratif, dan memberdayakan. Ilmu yang dibawa Pak Husni Thamrin Rambe adalah cahaya yang kini menyebar dan siap menerangi praktik ibadah di Sidikalang.
Ahad, 14 Desember 2025, akan dikenang sebagai hari ketika Sidikalang meneguhkan komitmennya pada kemaslahatan umat. Fardu Kifayah bukan sekadar tugas membersihkan, melainkan simbol kepedulian terakhir, pelajaran terbesar tentang kesamaan di hadapan kematian. Melalui inisiatif ini, Jajaran KUA Sidikalang telah menanamkan benih keberanian dan ilmu suci, memastikan bahwa setiap warga Muslim Dairi akan kembali kepada Sang Khaliq dengan penuh kehormatan. (MHS)