Daerah
Menggali Ilmu Mahal Fardu Kifayah: Dedikasi KUA Memuliakan Jenazah
16 Nov 2025 | 53 | Penulis : Humas Cabang APRI Dairi | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, ada ilmu yang perlahan mulai tergerus, namun memiliki nilai kemuliaan tak terhingga: ilmu Fardu Kifayah. Inilah ilmu tentang bagaimana sebuah komunitas menunaikan kewajiban terakhirnya kepada seorang saudara yang telah mendahului. Di Sidikalang, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan mengambil peran proaktif, menjemput bola, untuk memastikan ilmu 'mahal' ini tidak punah. Melalui program pelatihan terpadu bagi bilal jenazah dan jamaah, KUA Sidikalang sedang menanamkan benih-benih Pahlawan Perpisahan Bermartabat.

Kegiatan pelatihan fardu kifayah ini lebih dari sekadar transfer pengetahuan teknis. Ini adalah sebuah dedikasi yang mendalam dan tulus dari para pegawai KUA, khususnya Penyuluh Agama Islam PPPK, untuk melayani masyarakat hingga ke batas akhir kehidupan. Mereka menyadari betul, bagaimana sebuah perpisahan yang dilakukan dengan penghormatan sempurna akan meninggalkan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Dedikasi ini terwujud nyata dalam kesediaan mereka turun langsung ke lapangan, menyelenggarakan pelatihan yang detail dan intensif.
Pelatihan ini menjadi sangat krusial karena menyangkut memuliakan manusia seutuhnya. Tata cara pengurusan jenazah yang benar sesuai syariat bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi tertinggi dari penghormatan dan kasih sayang antar sesama Muslim. Setiap gerakan, mulai dari sentuhan saat memandikan hingga lipatan kain kafan, mengandung makna kehati-hatian dan sikap hormat yang tak terhingga kepada jasad yang telah tiada.
Penyuluh Agama Islam PPPK KUA Sidikalang, Husni Thamrin Rambe, S.Ag., sebagai pemateri utama, menyebut pelatihan ini sebagai pelatihan ilmu 'mahal'. Bukan mahal dalam arti materi, tetapi mahal karena ilmunya kini langka diminati, terutama oleh generasi muda. "Ilmu Fardu Kifayah ini adalah harta karun yang harus kita jaga. Kita sedang berjuang melawan arus, agar jangan sampai suatu hari nanti, di desa-desa kita kehabisan orang yang ikhlas dan cakap mengurus jenazah," ujarnya penuh makna.
Husni Thamrin Rambe menekankan bahwa kelangkaan ini membuat dedikasi para bilal mayit menjadi semakin vital. Mereka adalah garda terdepan komunitas dalam menunaikan tanggung jawab kolektif. Pelatihan ini hadir sebagai suntikan semangat dan pengetahuan, memastikan bahwa tanggung jawab besar ini diemban dengan keahlian yang mumpuni, bukan sekadar perkiraan atau kebiasaan turun-temurun yang keliru.
Di suasana pelatihan, terlihat pemandangan yang mengharukan. Jamaah Masjid Umuri dan Masjid Al Mukminin Sidikalang tampak sangat serius. Mata mereka tak lepas menyimak setiap instruksi, setiap detail gerakan, mulai dari cara memandikan, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan. Ini adalah bukti bahwa ketika disajikan dengan hati dan dedikasi, masyarakat akan menyambut ilmu 'mahal' ini dengan kesungguhan.
Fokus materi sengaja ditekankan pada bagian memandikan dan mengkafani. Kedua proses ini dinilai sarat dengan cara-cara yang detail sesuai aturan fikih jenazah. "Ada cara yang lembut, ada air yang harus didahulukan, ada bagian yang harus ditutupi. Ini semua adalah etika dan aturan suci dalam memuliakan tubuh jenazah," jelas salah satu panitia. Setiap detail yang disampaikan adalah kunci utama untuk menunaikan fardu kifayah dengan sebaik-baiknya.
Para peserta, yang terdiri dari berbagai usia, terlihat mencatat dan mencoba menirukan setiap langkah praktis. Mereka menyadari, pengetahuan yang mereka serap saat ini adalah bekal abadi yang akan mereka gunakan untuk melayani keluarga, tetangga, dan komunitas mereka. Mereka bukan sekadar belajar, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi pelayan umat di saat-saat paling genting.
KUA Sidikalang tidak hanya berhenti pada teori. Panitia telah menyiapkan segala perlengkapan untuk praktik, mulai dari kain kafan, peralatan memandikan, hingga benda peraga. Praktik langsung ini sangat penting untuk menghilangkan keraguan dan membangun kepercayaan diri para calon bilal jenazah di hadapan tugas mulia tersebut.
Dedikasi KUA Sidikalang ini tidak hanya berfokus pada bilal jenazah yang sudah ada, tetapi juga merangkul jamaah masjid secara umum. Tujuannya jelas: menyebar virus kepedulian dan memastikan bahwa pengetahuan ini menjadi milik bersama. Dengan demikian, jika bilal jenazah berhalangan, setiap anggota komunitas memiliki kesiapan untuk mengambil alih tugas.
Nilai inspiratif dari kegiatan ini sangatlah kuat. Ini adalah sebuah pengingat bahwa amal jariyah tidak selalu berbentuk materi besar. Menghabiskan waktu dan energi untuk mempelajari dan mengajarkan cara memandikan jenazah adalah bentuk dedikasi spiritual yang dampaknya terasa hingga ke akhirat. Itu adalah cerminan dari solidaritas sosial yang sesungguhnya.
Keseriusan yang terpancar dari wajah para peserta adalah pengaruh kuat yang diberikan oleh KUA Sidikalang. Ini bukan sekadar ceramah agama, melainkan pelatihan keterampilan hidup dan mati yang dipegang teguh oleh ajaran agama. Mereka pulang membawa ilmu yang bukan hanya berguna, tetapi juga mendatangkan pahala besar.
Program pelatihan ini harus dilihat sebagai investasi jangka panjang KUA dalam membangun ketahanan spiritual dan sosial masyarakat. Mereka memastikan bahwa tradisi keilmuan Islam, khususnya yang berkaitan dengan penghormatan terakhir, tetap hidup dan berjalan sempurna di tengah masyarakat Sidikalang.
Kutipan inspiratif lainnya datang dari Ibu Melfa Sianipar (60) seorang peserta yang terlihat khusyuk dan datang sebagai peserta. "Saya datang karena ingin menghilangkan rasa takut dan ragu. Ini kewajiban kita. Setelah pelatihan ini, saya merasa lebih siap untuk memberikan penghormatan terakhir terbaik bagi siapa pun yang membutuhkan," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan KUA Sidikalang melalui pelatihan fardu kifayah ini adalah sebuah pelayanan yang paripurna. Mereka telah mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menguatkan pondasi komunitas dalam menghadapi kenyataan terbesar dalam hidup. Mereka menciptakan para Pahlawan Perpisahan Bermartabat, para penjaga amanah suci untuk menjamin setiap perpisahan dilakukan dengan kemuliaan abadi yang akan selalu terpatri dalam hati. (MHS/RAM)