Menanam Cahaya Al-Qur'an, Menjaga Asa Generasi Emas Masa Depan : KUA Sidikalang Hadir Untuk Umat
Daerah

Menanam Cahaya Al-Qur'an, Menjaga Asa Generasi Emas Masa Depan : KUA Sidikalang Hadir Untuk Umat

  19 Nov 2025 |   32 |   Penulis : Humas Cabang APRI Dairi |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Di tengah hiruk pikuk tugas rutinnya sebagai Penyuluh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kantor Urusan Agama (KUA) Sidikalang, Sawal Dabutar, S.Sos.I, menemukan panggilan hati yang mendalam. Panggilan itu membawanya ke Balai Kemakmuran Masjid (BKM) Jabal Nur Delleng Amal, sebuah komunitas yang menyimpan tantangan unik: tingginya angka buta aksara Al-Qur'an di kalangan generasi mudanya. Baginya, tugas menyuluh bukan hanya soal formalitas, tetapi sebuah misi suci untuk membawa terang, Selasa sore (18/11). 

Sawal Dabutar menyadari bahwa layanan keagamaan yang paling mendesak di kawasan tersebut adalah fondasi literasi spiritual. Dari kesadaran itu, lahirlah inisiatif tulusnya: program "Berantas Buta Aksara Al-Qur'an" (BBAQ). Program ini dirancang khusus sebagai layanan keagamaan untuk mengatasi jurang pemahaman bacaan kitab suci, memastikan bahwa anak-anak memiliki akses terhadap sumber petunjuk utama mereka.

Fokus utama Sawal adalah anak-anak dengan rentang usia krusial: 10 hingga 14 tahun. Usia ini dianggap sebagai periode emas, di mana daya tangkap mereka masih sangat tinggi, dan kebiasaan yang ditanamkan akan melekat hingga dewasa. Dengan menguasai aksara Al-Qur'an di usia ini, mereka tidak hanya mampu membaca, tetapi juga membuka pintu untuk memahami ajaran Islam secara lebih utuh dan mendalam. Di mata masyarakat, Sawal Dabutar adalah seorang penyuluh berstatus PPPK. Namun, di hati anak-anak Delleng Amal, ia adalah sosok guru dan mentor yang sabar. Setiap sesi mengajar, ia membawa energi yang tidak pernah surut, mengubah ruang belajar sederhana di BKM Jabal Nur menjadi pusat transformasi spiritual yang penuh semangat dan tawa.

Melaksanakan program BBAQ di Delleng Amal bukanlah tanpa hambatan. Tantangan geografis, keterbatasan sarana belajar, hingga latar belakang pendidikan orang tua yang beragam, semuanya menjadi ujian kesabaran. Sawal harus menemukan metode yang kreatif agar anak-anak tidak merasa terbebani, tetapi justru tertarik dan bersemangat untuk datang dan belajar. Sawal tidak menggunakan metode pengajaran konvensional. Ia menggabungkan teknik iqra’ yang terstruktur dengan pendekatan yang lebih interaktif dan personal. Ia memanfaatkan alat bantu visual sederhana, lagu-lagu Islami, dan seringkali memberikan apresiasi kecil untuk setiap kemajuan. Metode ini sukses memecah kebosanan, mengubah sesi belajar menjadi momen yang paling dinantikan.

Setiap peserta didik memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Sawal memahami ini dan berupaya memberikan perhatian individual, memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal. Ia tidak hanya mengajarkan huruf hijaiyah dan tajwid dasar, tetapi juga menanamkan cinta terhadap Al-Qur'an, menjadikannya lebih dari sekadar buku, tetapi sebuah petunjuk hidup.

Dalam beberapa bulan, hasilnya mulai terlihat jelas. Anak-anak yang sebelumnya hanya bisa terdiam saat diajak membaca Al-Qur'an, kini mulai melantunkan ayat-ayat dengan lancar dan percaya diri. Perubahan ini tidak hanya membanggakan bagi Sawal dan orang tua, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pemuda dan tokoh masyarakat lain untuk ikut berkontribusi. Program BBAQ ini memberikan lebih dari sekadar kemampuan membaca; ia menumbuhkan rasa percaya diri spiritual. Anak-anak yang awalnya minder kini berani menjadi imam salat, memimpin doa, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan di BKM Jabal Nur. Ini adalah investasi moral yang tak ternilai harganya bagi masa depan mereka.

Keberhasilan Sawal tidak lepas dari dukungan penuh Balai Kemakmuran Masjid Jabal Nur. Pihak BKM menyediakan tempat, membantu mobilisasi peserta, dan menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara Sawal dan para orang tua. Kemitraan yang solid ini membuktikan bahwa program layanan keagamaan harus menjadi tanggung jawab kolektif umat. Bagi Sawal, melaksanakan program BBAQ adalah cara konkretnya mengabdi sebagai PPPK di bawah naungan Kementerian Agama. Ini adalah wujud nyata dari peran penyuluh sebagai pelayan umat, yang tidak hanya bertugas di kantor, tetapi turun langsung ke akar rumput untuk memecahkan masalah keagamaan yang dihadapi masyarakat.



Kegiatan ini seringkali dilaksanakan di luar jam dinas resmi Sawal, memanfaatkan sore hari atau akhir pekan saat anak-anak luang. Ini menunjukkan tingkat dedikasi yang melampaui deskripsi pekerjaannya. Waktu pribadinya ia relakan demi memastikan bahwa setiap anak di Delleng Amal memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencintai kitab suci mereka.

Kisah Sawal Dabutar di Delleng Amal telah menjadi teladan inspiratif bagi para penyuluh lainnya di Kemenag Dairi. Bahwa dengan kreativitas, keikhlasan, dan keberanian untuk memulai, program layanan keagamaan yang sederhana sekalipun dapat memberikan dampak transformatif yang sangat besar bagi pembentukan karakter generasi muda.

Sawal memandang program BBAQ ini sebagai langkah awal dari sebuah visi jangka panjang: membangun generasi Delleng Amal yang tidak hanya literat Al-Qur'an, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan pemahaman agama yang moderat. Setiap huruf yang diajarkannya adalah benih kebaikan yang akan tumbuh menjadi pohon kebijaksanaan. Melalui tangan dingin dan hati tulus Sawal Dabutar, program Berantas Buta Aksara Al-Qur'an di BKM Jabal Nur Delleng Amal membuktikan bahwa layanan keagamaan Kemenag dapat menjadi kekuatan transformatif yang mengubah nasib spiritual sebuah komunitas. Kisahnya adalah pengingat bahwa tugas penyuluh adalah tugas mulia, tugas menanamkan cahaya di hati setiap generasi muda. (MHS/SD)

Bagikan Artikel Ini

Infografis