KUA Pusaka Bantimurung Angkat Ekoteologi Lewat Tumpeng dalam Rangka HAB Kemenag ke-80
News

KUA Pusaka Bantimurung Angkat Ekoteologi Lewat Tumpeng dalam Rangka HAB Kemenag ke-80

  25 Dec 2025 |   51 |   Penulis : Humas Cabang APRI Sulawesi Selatan |   Publisher : Biro Humas APRI Sulawesi Selatan

KUA Pusaka Bantimurung Maros (Kemenag) — Dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, Kementerian Agama Kabupaten Maros melalui DWP persatuan Kemenag Maros  KUA Pusaka Bantimurung mengikuti  rangkaian kegiatan lomba penyajian Nasi Tumpeng kantin DWP Rabu 24/12/2025


Dalam Kegiatan ini kua pusaka bantimurung mengusung tema nasi tumpeng ekoteologi bagian dari upaya KUA Pusaka Bantimurung untuk menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan yang selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ekoteologi dipahami sebagai pendekatan keagamaan yang menegaskan bahwa iman dan tanggung jawab menjaga alam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Nasi tumpeng yang disajikan dalam kegiatan ini dirancang secara khusus dengan bentuk dua lantai, yang memiliki makna filosofis mendalam. Dua lantai tumpeng melambangkan hubungan yang seimbang antara Tuhan, manusia, dan alam, sekaligus menggambarkan keterkaitan antara dimensi spiritual (iman kepada Tuhan) dan dimensi ekologis (tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi).

Selain itu, tumpeng juga dihiasi dengan berbagai simbol bermakna. Lambang pohon dimaknai sebagai sumber kehidupan, pertumbuhan, serta kewajiban manusia untuk merawat dan melestarikan alam. Aneka sayuran yang digunakan melambangkan keanekaragaman hayati sekaligus mengajarkan pola hidup sederhana dan ramah lingkungan. Sementara itu, telur dimaknai sebagai simbol kehidupan, harapan, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga keberlanjutan generasi mendatang.

Melalui simbolisasi Nasi Tumpeng Ekoteologi ini, KUA Pusaka Bantimurung ingin menyampaikan pesan bahwa nilai-nilai keagamaan harus terwujud dalam sikap nyata menjaga lingkungan. Ekoteologi mengajarkan bahwa pengamalan iman tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi juga tercermin dalam kepedulian terhadap alam dan keberlangsungan hidup seluruh ciptaan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis di lingkungan Kementerian Agama dan masyarakat luas, sejalan dengan semangat HAB Kemenag ke-80 untuk menghadirkan agama yang berdampak, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Reporter : Gammara
Editor alimini

Bagikan Artikel Ini

Infografis