Daerah
Ka KUA Lubuk Pakam Sampaikan Tausiyah pada Perwiridan Akbar: Perkuat Moderasi Beragama dan Akhlak
18 Oct 2025 | 103 | Penulis : Humas Cabang APRI Deli Serdang | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Lubuk Pakam (Humas). Dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lubuk Pakam Jayamin Sinaga, S. Ag. M. Si menyampaikan tausiyah inspiratif pada kegiatan Perwiridan Akbar yang berlangsung di Masjid Nurul Ikhlas Kelurahan Cemara Lubuk Pakam, Sabtu (18/10)
Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai majelis taklim, penyuluh agama Islam, tokoh masyarakat, aparatur pemerintah kecamatan, dan perwakilan organisasi keagamaan.
Dengan mengangkat tema “Perkuat Moderasi Beragama dan Akhlak di Tengah Tantangan Zaman”, acara ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen masyarakat Lubuk Pakam dalam membangun kehidupan beragama yang seimbang, toleran, dan berkeadaban.
Dalam tausiyahnya, Kepala KUA Lubuk Pakam menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan kunci utama dalam menjaga kerukunan umat di tengah masyarakat yang beragam suku, budaya, dan pemahaman. Ia mengajak seluruh jamaah untuk memahami ajaran agama secara utuh dan tidak terjebak pada sikap ekstrem, baik yang bersifat liberal maupun radikal.
“Islam mengajarkan kita untuk berada di jalan tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mengabaikan nilai-nilai agama. Moderasi beragama berarti menegakkan keseimbangan antara akidah yang kuat dan sikap terbuka terhadap perbedaan,” tutur beliau dalam tausiyahnya.
Beliau juga menegaskan bahwa moderasi beragama tidak hanya sebatas konsep, melainkan harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai toleransi, empati, dan saling menghargai harus menjadi napas bersama umat Islam, agar tercipta keharmonisan sosial yang kokoh.
Lebih lanjut, Kepala KUA Lubuk Pakam menekankan pentingnya pembinaan akhlak sebagai pilar utama dalam membangun pribadi dan masyarakat yang beradab. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh membuat umat kehilangan arah moral dan nilai-nilai keislaman.
“Kemajuan zaman harus diimbangi dengan kemajuan akhlak. Akhlak adalah cermin keimanan, dan masyarakat yang berakhlak adalah masyarakat yang akan melahirkan kedamaian, keadilan, dan keberkahan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam membentuk akhlak. Orang tua diharapkan mampu menjadi teladan, menanamkan nilai-nilai agama dan kebajikan kepada anak-anak sejak dini.
Perwiridan akbar ini tidak hanya diisi dengan tausiyah, tetapi juga pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dzikir bersama, doa untuk keselamatan bangsa.
Suasana religius dan penuh keakraban terasa kuat, menggambarkan semangat umat dalam mempererat tali silaturahmi dan memperkuat keimanan.
Sementara itu, Hj. Nurhanijar, SP Ketua Perwiridan Akbar Lubuk Pakam dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas peran KUA Lubuk Pakam yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan pembinaan masyarakat.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Tausiyah yang disampaikan Bapak Kepala KUA menjadi pengingat bagi kita semua agar tetap menjaga keseimbangan dalam beragama dan memperkuat akhlak di tengah derasnya arus perubahan sosial,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari gerakan penguatan moderasi beragama yang terus digalakkan oleh Kementerian Agama di tingkat kecamatan, melalui kerja sama antara KUA, penyuluh agama, dan tokoh lintas ormas keagamaan. KUA Lubuk Pakam berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai lembaga pembina umat yang menebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Menutup kegiatan, Kepala KUA Lubuk Pakam menyampaikan harapan agar perwiridan akbar menjadi sarana memperkokoh ukhuwah Islamiyah serta memperkuat semangat kebersamaan dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.
“Mari kita terus jaga semangat kebersamaan ini. Moderasi beragama dan akhlak yang baik harus menjadi pegangan hidup kita agar Lubuk Pakam menjadi daerah yang damai, religius, dan penuh berkah,” pungkasnya.
Acara diakhiri dengan doa bersama dan ramah tamah antarjamaah, menandai berakhirnya kegiatan yang sarat makna dan penuh kehangatan spiritual.