Pernikahan di Era Modern: Antara Kesakralan Ibadah dan Pergeseran Makna
03 Apr 2026 | 17 | Penulis : Humas Cabang APRI Kota Binjai | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Pernikahan dalam Islam merupakan ibadah yang sangat mulia, bukan sekadar hubungan sosial atau legalitas semata. Namun, di zaman sekarang, makna sakral pernikahan mulai bergeser akibat pengaruh gaya hidup modern, media sosial, dan perubahan pola pikir generasi muda. Banyak pernikahan yang tidak lagi berlandaskan pada nilai-nilai agama, melainkan pada kepentingan duniawi semata seperti status, materi, atau sekadar mengikuti tren.
1. Bergesernya Tujuan Pernikahan
Secara ideal, tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”(QS. Ar-Rum: 21)
Namun realitanya, banyak pasangan menikah bukan untuk ketenangan batin, melainkan karena tekanan sosial, gengsi, atau bahkan pelarian dari masalah hidup. Hal ini menyebabkan pernikahan mudah goyah karena tidak dibangun di atas fondasi iman.
2. Tingginya Ekspektasi, Rendahnya Kesiapan
Di era sekarang, ekspektasi terhadap pasangan sangat tinggi—baik dari segi ekonomi, fisik, maupun gaya hidup. Namun, kesiapan mental, spiritual, dan tanggung jawab justru sering diabaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu (secara fisik dan finansial), maka menikahlah…”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kata “mampu” di sini tidak hanya berarti finansial, tetapi juga kesiapan diri dalam memimpin rumah tangga. Banyak pernikahan gagal karena pasangan belum siap menghadapi realita kehidupan setelah akad.
3. Pengaruh Media Sosial dan Gaya Hidup
Media sosial turut mempengaruhi cara pandang terhadap pernikahan. Kehidupan rumah tangga sering dibandingkan dengan “standar semu” yang terlihat sempurna di dunia maya. Akibatnya, muncul ketidakpuasan, iri hati, bahkan konflik dalam rumah tangga.
Padahal Islam mengajarkan kesederhanaan dan menjaga kehormatan keluarga:
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)
4. Minimnya Pemahaman Agama dalam Rumah Tangga
Salah satu akar permasalahan terbesar adalah kurangnya ilmu agama dalam membangun rumah tangga. Banyak pasangan tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”(HR. Tirmidzi)
Tanpa pemahaman agama, hubungan suami-istri mudah dipenuhi ego, bukan saling melayani dan memahami.
5. Mudahnya Perceraian
Fenomena perceraian yang semakin meningkat menunjukkan rapuhnya komitmen dalam pernikahan modern. Banyak pasangan memilih berpisah tanpa upaya maksimal untuk memperbaiki hubungan.
Padahal dalam Islam, perceraian adalah hal yang dibolehkan tetapi sangat dibenci:
“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak (perceraian).”(HR. Abu Dawud)
Penutup: Kembali ke Hakikat Pernikahan
Permasalahan pernikahan di zaman sekarang pada dasarnya bersumber dari menjauhnya manusia dari nilai-nilai agama. Solusinya bukan sekadar mencari pasangan yang “sempurna”, tetapi memperbaiki diri dan niat dalam membangun rumah tangga.
Pernikahan bukan tentang siapa yang paling membahagiakan kita, tetapi bagaimana kita saling mendekatkan diri kepada Allah. Jika pernikahan dibangun atas dasar iman, maka badai sebesar apa pun akan mampu dihadapi bersama.
Rakhmad Amin Hasibuan, S.Ag. M.Si ( Penghulu / Kepala KUA Binjai Barat )