Optimalkan Sisa Ramadan: Pesan Mendalam CPNS Penghulu KUA Payung di Masjid Agung Karo
Daerah

Optimalkan Sisa Ramadan: Pesan Mendalam CPNS Penghulu KUA Payung di Masjid Agung Karo

  25 Feb 2026 |   17 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Karo, (Humas). Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Kabupaten Karo menjelang waktu berbuka puasa dalam acara Iftar Jama'i, Selasa (24/02). Denni Herdiansyah Nasution, S.H., CPNS Penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Payung, hadir memberikan tausiyah rohani yang menggugah kesadaran jamaah. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya mengoptimalkan nikmat hidup yang sering kali terlupakan, terutama di tengah kemuliaan bulan suci Ramadan.

Mengawali ceramahnya, Denni mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat adab saat berada di rumah Allah dengan melakukan iktikaf. Beliau membimbing jamaah untuk melafalkan niat iktikaf secara bersama-sama guna meraih keberkahan sempurna. Mengutip sebuah riwayat, Denni menjelaskan bahwa selama seseorang berdiam diri di masjid dalam keadaan suci dan berniat iktikaf, para malaikat tak henti-hentinya memanjatkan doa “Allahummaghfirlahu allahummarhamhu”—memohonkan ampunan dan rahmat bagi hamba tersebut.

Memasuki inti materi, Denni menegaskan bahwa kesehatan dan umur panjang merupakan kenikmatan luar biasa yang sering kali dianggap remeh oleh manusia yang masih hidup. Ia memberikan perenungan tajam bahwa nikmat hidup adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh para penghuni kubur, mulai dari zaman Nabi Adam hingga saat ini. Baginya, berada di bulan Ramadan dalam keadaan bernapas adalah sebuah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Lebih lanjut, Denni menyitir pemikiran filosofis dari Imam Al-Ghazali mengenai hakikat waktu. Beliau mengingatkan jamaah tentang jawaban Sang Imam atas pertanyaan mengenai apa yang paling jauh dari manusia di dunia ini. Jawabannya bukanlah ufuk timur atau barat, melainkan masa lalu. Hari dan waktu yang telah terlewati, meskipun hanya sedetik, tidak akan pernah bisa ditarik kembali atau diulang untuk diperbaiki.

Refleksi ini kemudian dikerucutkan pada perjalanan Ramadan yang tengah berlangsung. Denni menyebutkan bahwa enam hari pertama Ramadan yang telah dilalui kini telah bertransformasi menjadi "tabungan" di sisi Allah SWT. Apakah tabungan amal tersebut tercatat secara sempurna atau masih penuh dengan kekurangan, semuanya telah tertutup rapat dan menjadi sejarah yang tidak bisa diubah kembali oleh siapa pun.


Sadar akan keterbatasan waktu tersebut, Denni menghimbau dengan sangat agar jamaah tidak terjebak dalam penyesalan di kemudian hari. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat yang hadir untuk memasang strategi ibadah yang lebih kuat dalam menghadapi 23 hari sisa Ramadan ke depan. Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas interaksi dengan Al-Qur'an serta memperbanyak amal saleh sebagai bentuk syukur atas napas yang masih diberikan.

Bagi Denni pribadi, kesempatan memberikan wawasan agama di Masjid Agung Kabupaten Karo merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan membanggakan. Meski masa pengabdiannya di "Tanah Turang" (sebutan akrab daerah Karo) belum genap satu tahun sebagai CPNS Penghulu, kepercayaan untuk berdiri di mimbar masjid kabupaten adalah amanah besar yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan kariernya di bawah naungan Kemenag.

Kegiatan Iftar Jama'i ini pun ditutup dengan doa bersama dan berbuka puasa dalam suasana kekeluargaan yang erat. Kehadiran tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta antusiasme jamaah menunjukkan bahwa pesan-pesan spiritual yang disampaikan mampu menyentuh hati. Hal ini sekaligus mempertegas peran strategis penyuluh dan penghulu dalam membina mentalitas keagamaan masyarakat hingga ke tingkat kabupaten. (MHS/DHN)

Bagikan Artikel Ini

Infografis