Menjemput Takdir PNS dari Jendela Bus Listrik: Kisah Dua CPNS Penghulu Kemenag Deli Serdang dan Spiritualitas Transportasi Publik
22 May 2026 | 39 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Medan, (Humas). Pagi itu, Kamis (21/05/2026), langit Kota Medan menggantungkan rona fajar yang teduh. Di dalam kabin sebuah bus listrikyang senyap dan ber-AC dingin, dua pemuda duduk berdampingan. Pakaian mereka tampak mencolok namun sarat wibawa: kemeja batik KORPRI biru khas abdi negara, dipadukan dengan celana kain hitam dan songkok yang sesekali mereka pegang dengan khidmat.
Mereka bukan penumpang biasa yang sedang terburu-buru mengejar jam kantor rutin. Kedua pemuda itu adalah Muhammad Tarmizi, S.H. dan rekan sejawatnya, Aja Muhammad Alvie Syahri, S.H. Keduanya adalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Penghulu yang masing-masing bertugas di ujung tombak pelayanan keagamaan: KUA Kecamatan Bangun Purba dan KUA Kecamatan Galang, di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Hari itu adalah hari bersejarah. Hari di mana huruf “C” di depan gelar abdi negara mereka akan resmi ditanggalkan melalui prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) penuh di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara. Namun, alih-alih memilih menggunakan kendaraan pribadi yang mentereng demi genggaman prestise, keduanya memilih sebuah rute perjuangan yang sunyi namun sarat pesan moral: menaiki moda transportasi umum massal.
Perjalanan menjemput optimisme baru ini dimulai dari Terminal Amplas. Menggunakan bus listrik ramah lingkungan, mereka menyusuri koridor rute Stasiun Bus Listrik Pusat Kota Medan menuju arah Lapangan Merdeka - Pinang Baris, untuk kemudian turun tepat di depan Kantor Kanwil Kemenag Sumut.
Guncangan lembut bus listrik yang minim polusi suara itu seolah menjadi ritme yang mengiringi refleksi batin mereka atas perjalanan panjang masa percobaan CPNS yang telah dilewati. Menembus kepadatan lalu lintas Medan dengan transportasi publik bukan sekadar urusan efisiensi waktu atau menghemat biaya perjalanan bagi Tarmizi dan Alvie. Ini adalah sebuah pernyataan sikap, sebuah kampanye bisu namun tajam tentang bagaimana seharusnya seorang ASN modern berperilaku.
"Kami ingin memulai hari penuh berkah ini dengan cara yang membumi. Bus listrik ini adalah simbol masa depan—bersih, tertib, dan efisien. Sebagai Penghulu muda, kami memikul tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan. Memilih transportasi umum adalah cara kami mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan sekaligus meruntuhkan sekat eksklusivitas antara birokrat dan masyarakat," ujar Muhammad Tarmizi, S.H., dengan tatapan mata yang penuh binar optimisme.
Di sepanjang rute perjalanan, kehadiran dua Penghulu muda berseragam lengkap ini menarik perhatian beberapa penumpang lain. Tak jarang, senyum ramah dan anggukan hormat dilemparkan oleh sesama pengguna bus. Di sinilah esensi humanis dari birokrasi itu hidup; ketika pelayan masyarakat berada di satu ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan bergerak bersama rakyat yang nantinya akan mereka layani.
Bagi Aja Muhammad Alvie Syahri, S.H., momen berada di dalam bus listrik menjelang pelantikan memiliki filosofi kedalaman spiritual tersendiri. Menurutnya, transportasi publik mengajarkan tentang kesabaran, toleransi, dan kesetaraan—tiga pilar utama yang wajib dimiliki oleh seorang Penghulu ketika berhadapan dengan beragam karakter masyarakat di KUA Galang kelak.
"Meja akad nikah di KUA dan kursi di dalam bus listrik ini memiliki satu kesamaan filosofis: keduanya tidak memandang status sosial. Siapa saja berhak mendapatkan pelayanan terbaik. Pelantikan hari ini di Kanwil Kemenag Sumut bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan garis start sesungguhnya. Dari jendela bus ini, kami melihat wajah-wajah masyarakat yang menaruh harapan besar pada pundak kami sebagai penegak hukum perkawinan dan moral keagamaan," ungkap Alvie sembari membenarkan letak pecinya.
Ketika bus perlahan mendekati kawasan Jalan Gatot Subroto, tempat Kantor Kanwil Kemenag Sumut berdiri kokoh, detak jantung kedua pemuda ini kian berdegup penuh semangat. Langkah kaki mereka saat turun dari pintu bus listrik tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ada rona bangga, ada rasa syukur yang membuncah, dan yang terpenting: ada integritas yang telah dipupuk bahkan sebelum sumpah jabatan diucapkan di hadapan kitab suci.
Kisah Tarmizi dan Alvie menyadarkan kita bahwa menjadi seorang aparatur sipil negara di era modern tidak melulu soal fasilitas dan kenyamanan korporat. Ini tentang bagaimana menempatkan diri sebagai bagian dari solusi bangsa, termasuk dalam mendukung transformasi energi hijau dan gerakan tertib beraspirasi melalui fasilitas publik. (MHS/MZI/AJA)
Tags: