Menjaga Niat, Makna yang Hilang Dalam Rutinitas
Opini

Menjaga Niat, Makna yang Hilang Dalam Rutinitas

  04 Feb 2026 |   10 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Ada perasaan lelah yang tidak bisa hilang meski sudah tertidur, itu saat tubuh terus dipaksa berjalan tapi hati terasa tertinggal jauh di belakang. Kita seringkali merasa asing di dalam kehidupan sendiri, berjuang melawan waktu dan menguras tenaga hanya untuk angka-angka di rekening, sampai akhirnya kita tidak sadar lagi bahwa kita terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Kita terus bergerak, bekerja dan memaksakan senyum hanya untuk terlihat baik di mata orang lain.

Kita melakukan banyak hal besar tetapi kehilangan semangat di dalamnya, sehingga hari-hari terasa seperti beban yang semakin berat. Padahal dalam setiap tarikan nafas seorang mukmin, terdapat sebuah rahasia yang sunyi namun besar, yang mampu mengubah debu menjadi permata dan mengubah setiap peluh menjadi jembatan menuju langit yaitu niat.

Bayangkan jika lelah yang kamu rasakan setiap menempuh perjalanan jauh dengan menggunakan sepeda motor menuju kantor tidak langsung hilang dan berubah menjadi rasa penat. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Jika kita berjuang hanya demi dunia, mungkin dunia itu bisa kita dapatkan, tetapi hati tetap akan merasa kurang. Namun ketika kita berbisik dalam hati, "Ya Allah, aku mencari rezeki Mu untuk menjaga amanah Mu” maka pada saat itu juga pekerjaan yang membosankan berubah menjadi rangkaian sujud yang panjang. Itulah keajaiban niat, ia seperti kompas dalam hati yang memastikan setiap langkah kita tidak hanya melangkah di bumi tetapi juga sampai ke langit.

Menata niat sejati adalah cara untuk melibatkan Allah ke dalam hal-hal yang dianggap biasa dan tidak begitu penting. Ia bukan hanya doa yang panjang dan dibaca di atas sajadah setelah shalat tetapi juga sebuah kesadaran yang muncul di tengah kejujuran saat melayani dan kesabaran saat memberikan penjelasan administrasi kepada masyarakat bahkan dalam kejernihan hati saat membantu rekan kerja yang bahkan tidak sempat berterima kasih. Saat niat karena Allah telah teratur, kita tidak lagi menjadi hamba yang bergantung pada pujian orang lain.

Kita tidak akan cepat runtuh karena kritik yang pedas dan tidak akan terlalu pusing karena pujian yang sangat tinggi. Karena kita tahu, pengawas sejati kita adalah Allah, yang bisa melihat ke dalam hati yang paling dalam, tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh mata manusia termasuk orang terdekat kita sendiri. Inilah hakikat sejati dari firman-Nya dalam Surah Al-An'am ayat 162 :
                                                                    قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Terkadang kita merasa iri melihat orang lain yang selalu beramal dan beribadah, sedangkan kita hanya sibuk dengan urusan kantor dan perjalanan. Namun islam memberikan keadilan yang sangat baik berkat tujuan yang dibawa. Bisa jadi, seseorang yang hanya duduk diam dan merawat ibunya yang sakit dengan niat mencari kebahagiaan dari Allah memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan orang yang berdiri lama di depan mimbar hanya ingin dihormati. Niat yang benar adalah niat yang tulus, yang menghilangkan perbedaan tingkat kebaikan amal. Di hadapan Allah, yang penting bukanlah seberapa besar bentuk amalnya, melainkan seberapa tulus tujuan di baliknya. Inilah yang membuat hidup kita sangat berarti, setiap detiknya tidak sia-sia asal hati kita selalu terhubung denganNya.

Namun, menjaga niat bukanlah pekerjaan sekali jadi. Hati manusia disebut qalb karena sifatnya yang selalu berubah-ubah. Pagi hari kita mulai bekerja dengan tulus, tapi ketika sudah mulai siang keinginan untuk dipuji mulai datang perlahan. Pagi hari kita melakukan hal yang baik, tapi ketika malam kita merasa sedih karena baik itu tidak direspons dengan cara yang adil.

Di sinilah kita butuh perjuangan yang terus-menerus. Membetulkan niat bukan hanya saat awal melakukan sesuatu, tetapi juga di tengah dan di akhir prosesnya. Kita harus terus-menerus membersihkan debu-debu riya yang ingin dipuji dan ingin didengar, yang sering kali menempel tanpa kita sadari. Karena itu, hanya amal yang tulus dan jujur yang bisa naik ke hadapan Allah SWT.

Di tengah dunia yang sering membuat kita kecewa, keikhlasan adalah satu-satunya yang bisa melindungi kita dari rasa putus asa. Ketika rencana kita gagal sepenuhnya atau kebaikan kita dibalas dengan luka yang dalam, niat yang tulus akan menghangatkan dan berbisik, "Tenanglah, Allah sudah mengenang niatmu, dan itu sudah cukup." Tidak ada kebaikan yang tidak berbuah manfaat selama ia muncul dari hati yang benar-benar jujur.

Hidup yang bermakna tidak tergantung pada seberapa besar panggung yang di atasnya kita berdiri atau seberapa banyak orang yang mengakui kita, melainkan pada seberapa jelas alasan kita berada di sana. Kita tahu bahwa berhasil itu adalah cara untuk berterima kasih dan gagal adalah kesempatan untuk mengevaluasi diri sendiri tanpa harus terlalu sedih atau menyesal terhadap nasib.

Pada akhirnya, perjalanan hidup ini hanyalah proses kepulangan. Segala yang kita kejar di dunia baik jabatan harta dan pujian akan kita tinggalkan di pintu liang lahat. Hanya satu yang akan tetap menemani yaitu amal yang lahir dari niat yang lurus. Mari kita mulai belajar untuk tidak hanya memoles apa yang tampak di mata manusia, tapi terus-menerus membasuh apa yang dilihat oleh Allah. Jangan sampai kita membawa tumpukan amal yang menggunung di akhirat nanti, namun semuanya musnah seperti debu yang diterbangkan angin karena niatnya bukan karena Allah.

Biarlah setiap langkah kita menjadi saksi bahwa kita hidup bukan untuk memuaskan ego sendiri, melainkan untuk mencari satu-satunya hal yang paling abadi, yakni ridha Allah SWT. Sebab, hanya pada hati yang tuluslah ketenangan sejati akan bertamu dan menetap selamanya.

Penulis: Dafiq Iman Hakim MS, S.H. (Penghulu Ahli Pertama – KUA Gunungsitoli Utara, Kantor Kemenag Kota Gunungsitoli)

Bagikan Artikel Ini

Infografis