Manisnya Pelayanan di KUA Medan Perjuangan: Suguhan Kue Lebaran yang Mencairkan Sekat Birokrasi
Daerah

Manisnya Pelayanan di KUA Medan Perjuangan: Suguhan Kue Lebaran yang Mencairkan Sekat Birokrasi

  26 Mar 2026 |   22 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Medan, (Humas). Aroma mentega dan manisnya gula halus masih terasa lamat-lamat di ruang tunggu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Perjuangan, Kamis (26/03). Alih-alih disambut dengan wajah kaku di balik meja kerja, setiap warga yang datang justru disambut dengan senyuman hangat dan stoples-stoples berisi aneka kue khas Idulfitri. Suasana pasca-libur Lebaran yang biasanya identik dengan tumpukan berkas yang membosankan, disulap menjadi momen silaturahmi yang penuh kehangatan.

Langkah ini bukanlah tanpa alasan. Di balik deretan nastat dan putri salju yang tersaji rapi, terdapat filosofi pelayanan yang ingin dibangun oleh instansi di bawah naungan Kementerian Agama ini. KUA Medan Perjuangan mencoba memecahkan stigma bahwa kantor pemerintahan adalah tempat yang kaku dan menegangkan. Sebaliknya, mereka ingin setiap tamu merasa seperti sedang berkunjung ke rumah kerabat sendiri.

Kepala KUA Medan Perjuangan, H. Ramlan, MA, tampak duduk bersahaja di sela-sela kesibukannya menunggu tamu. Dengan raut wajah yang teduh, ia sesekali menyapa warga yang baru masuk dan mempersilakan mereka mencicipi kudapan yang tersedia. Baginya, pelayanan publik bukan sekadar urusan administratif, melainkan tentang bagaimana menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat yang mereka layani.

“Kami ingin mengoptimalkan layanan pasca-libur ini dengan sesuatu yang berbeda. Menyajikan kue Lebaran adalah cara sederhana kami agar masyarakat merasa lebih dekat dengan KUA. Kami ingin membangun kedekatan emosional, sehingga tidak ada lagi rasa sungkan atau canggung saat berurusan di sini,” ujar H. Ramlan dengan nada bicara yang rendah hati.

Pria yang dikenal progresif ini menekankan bahwa visi KUA Medan Perjuangan saat ini adalah menjadi tempat yang nyaman, ramah, dan inklusif bagi semua pihak. Menurutnya, setiap warga—apapun tujuannya datang ke kantor tersebut—berhak mendapatkan perlakuan yang memuliakan. Kue-kue di atas meja itu adalah simbol bahwa pintu KUA terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang status.

Dalam menjalankan misi "manis" ini, H. Ramlan tidak sendirian. Ia didampingi oleh sejumlah staf yang bertugas dengan semangat yang sama. Para staf tidak hanya sigap dalam memeriksa kelengkapan dokumen pernikahan atau konsultasi keagamaan, tetapi juga luwes dalam menjamu warga. Sinergi antara pimpinan dan staf inilah yang membuat atmosfer kantor terasa jauh lebih hidup dan humanis.

Inisiatif unik ini pun mendapat respon positif dari pengunjung yang hadir. Banyak dari mereka yang awalnya datang dengan wajah serius, perlahan mencair setelah ditawari secangkir minuman dan penganan kecil. Hal ini membuktikan bahwa sentuhan personal dalam pelayanan publik mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap wajah birokrasi yang selama ini dianggap rumit.

"Sajian kue lebaran yang diberikan KUA ini menurut saya sangat inspiratif, selain mendekatkan KUA kepada masyarakat, saya melihat KUA hari ini adalah wajah instansi pemerintah yang dekat, melekat kepada masyarakat, apalagi langsung bersentuhan terhadap tugas-tugas keummatan. Saya berharap layanan ini paling tidak senantiasa ada, tidak hanya momen lebaran saja," jelas Fatma, salah satu catin yang mengurus pernikahan di KUA. 

H. Ramlan meyakini bahwa dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, proses komunikasi antara petugas dan warga akan berjalan lebih efektif. Masalah-masalah yang dikonsultasikan warga pun dapat diselesaikan dengan kepala dingin karena diawali dengan suasana yang santai. KUA bukan lagi sekadar tempat pencatatan nikah, melainkan ruang solusi bagi persoalan umat.

Lebih jauh, semangat inklusivitas yang diusung bertujuan untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat. KUA Medan Perjuangan bertekad menghilangkan sekat-sekat pembatas yang selama ini mungkin dirasakan oleh warga. Dengan keramahan yang tulus, kantor ini bertransformasi menjadi rumah bagi semua, di mana setiap orang yang masuk akan keluar dengan perasaan yang lebih ringan.

Sore itu, di tengah hiruk-pikuk pelayanan pasca-Lebaran, KUA Medan Perjuangan telah memberikan pelajaran berharga. Bahwa profesionalisme kerja bisa berjalan beriringan dengan kehangatan tradisi. Sebuah stoples kue mungkin terlihat sederhana, namun di sana tersimpan pesan besar tentang bagaimana melayani dengan hati, menjadikan birokrasi terasa jauh lebih manis dan membumi. (MHS) 

Bagikan Artikel Ini

Infografis