Malam ke-19 Ramadhan, Muhammad Idris Sampaikan Tausiah ”Membangun Rumah Tangga SAMAWA”.
09 Mar 2026 | 15 | Penulis : Biro Humas APRI Riau | Publisher : Biro Humas APRI Riau
Pekanbaru (Humas), Pada malam ke-19 Ramadhan 1447 H, di masjid Al-Hijrah Jl. Srikandi Kelurahan Delima Kecamatan Binawidya, Muhammad Idris, S.Ag, M.Pd.I sampaikan materi tentang “ Membangun Rumah Tangga Yang SAMAWA”. Senin (09/03/2026).
Mengawali tausiahnya ustadz terangkan pengertian judul, kata Samawa yang merupakan singkatan dari Sakinah, Mawaddah Warohmah. “setiap orang yang berkeluarga sudah pasti menginginkan rumah tangganya bahagia. Ujar Idris
Untuk membangun rumah tangga yang bahagia itu diawali dengan pencarian pasangan (jodoh) yang banar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW “ Dinikahi wanita itu karena empat sebab, karena hartanya, karena cantik, karena keturunannya dan karena agamanya. Maka nikahilah karena agamanya.
Setidaknya ada 3 yang dapat mempengaruhi dalam membangun kebagiaan sebuah rumah tangga, Pertama Perwinan yang resmi (tercatat), Terkait dengan ini Dirjen Bimas Islam telah menghimbau dengan SE No. 6 / 2026 Tentang Gerakan Sadar (GAS) Pencatatan Nikah. Ungkap ustad yang keseharian bekerja sebagai Penghulu pada KUA Kecamatan Payung Sekaki.
Kedua : Keluarganya ; Ayah sebagai muttaqina imama, isteri dan anak menjadi Qurrota a’yun (yang menyenangkan). Ketiga : Rezekinya tidak jauh dari tempat tinggalnya, kalau tinggalnya di Pekanbaru rezekinya (kerjanya) di Medan maka akan sulit bahagia karena terpisah, Ungkap Ustadz.
Terkait dengan tipe rumah tangga (Pasangan jhidup) setidaknya ada empat yang diceritakan dalam al-Qur’an.; suami baik istri tidak baik (contohnya Nabi Nuh), Isteri baik suami tidak baik (Asiyah dan Fir’un), Suami baik isteri baik (Nabi Ibrahim) dan Suami dan isteri tidak baik (Abu Lahab) dari empat tipe ini hanya pasangan yang baik saja yang mendapatkan keturunan yang pula. Tutup ustadz.
Mengakhiri tausiahnya ustadz Muhammad Idris memberikan pertanyaan kepada anak-anak yang mencacat. Usai tausiah acara ditutup oleh protokol Ainun, kemudian dilanjutkan dengan shalat tarawih berjama'ah yang diimani oleh ustadz Dayat dan bilal oleh ustadz Rahmat. (humas).