Daerah
KUA Lumban Julu Rutin Gelar Pemberantasan Buta Huruf Hijaiyah Bagi Generasi Muda di Masjid Asy-Syuhada Binangalom
03 Jun 2026 | 4 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Lumban Julu, (Humas). Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Lumban Julu, Muhammad Ali Pakpahan, secara konsisten melaksanakan program pemberantasan buta huruf hijaiyah khusus untuk kalangan anak-anak. Kegiatan pendidikan Al-Qur’an ini digelar setiap hari Ahad di Masjid Asy-Syuhada Binangalom, Desa Hatinggian, Kecamatan Lumban Julu, dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB.
Program ini dikhususkan bagi anak-anak usia 6 sampai 12 tahun, mulai dari kelas 1 SD/MI hingga kelas 6 yang belum lancar membaca huruf hijaiyah. Pembelajaran menggunakan metode Iqra’ jilid 1 sampai 6 dengan sistem klasikal, kelompok, dan bimbingan individual. Setiap anak mendapatkan pendampingan sesuai kemampuan. Tahapan materi dimulai dari pengenalan 28 huruf hijaiyah, cara membaca harakat fathah, kasrah, dhammah, tanwin, sukun, hingga hukum tajwid dasar seperti idzhar, ikhfa, dan idgham.
Muhammad Ali Pakpahan menyampaikan bahwa penentuan peserta khusus anak-anak didasari pada pentingnya pembentukan fondasi agama sejak dini. “Usia anak adalah masa emas untuk menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Jika mereka lancar membaca Al-Qur’an sejak kecil, maka ibadah, akhlak, dan pola pikirnya akan terbentuk sesuai tuntunan Islam. KUA Lumban Julu berkomitmen memastikan tidak ada anak di Desa Hatinggian yang buta huruf Al-Qur’an,” jelasnya.
Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan literasi Al-Qur’an anak-anak Desa Hatinggian, mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, dan menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat pendidikan anak. Selain praktik membaca, anak-anak juga dibekali adab terhadap mushaf, doa sebelum dan sesudah membaca Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek juz 30, serta kisah singkat para nabi untuk menanamkan nilai keteladanan.
Agar pembelajaran tidak membosankan, suasana kelas dibuat interaktif dan menyenangkan. Muhammad Ali Pakpahan menggunakan metode bernyanyi huruf hijaiyah, permainan kartu huruf, kuis cepat, dan pemberian reward berupa stiker bintang bagi anak yang rajin dan hafalannya lancar. Metode ini membuat anak-anak semangat datang setiap Ahad meskipun bertepatan dengan hari libur sekolah.
Ketua BKM Masjid Asy-Syuhada Binangalom, Bapak Abdul Rohiman Samosir, memberikan dukungan penuh terhadap program KUA. Pihak masjid menyediakan ruang khusus untuk belajar anak, papan tulis, dan rak tempat buku Iqra’. “Alhamdulillah masjid kami jadi ramai setiap Ahad pagi. Anak-anak berebut datang paling awal. Kami siap bersinergi dengan KUA agar program ini terus berjalan dan melahirkan qari-qariah cilik dari Desa Hatinggian,” ujarnya.
KUA Lumban Julu menargetkan seluruh peserta dapat khatam Iqra’ dan mulai membaca Al-Qur’an dengan tartil dalam waktu maksimal satu tahun pembinaan. Ke depan, Muhammad Ali Pakpahan berencana menambah sesi tahsin lanjutan bagi anak yang sudah khatam, serta melibatkan remaja masjid sebagai kakak pembimbing. Langkah ini diharapkan mempercepat capaian target sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab generasi muda terhadap Al-Qur’an.
Melalui program rutin setiap Ahad khusus anak-anak ini, KUA Lumban Julu ingin menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an harus dimulai sejak usia dini. Pemberantasan buta huruf hijaiyah menjadi langkah awal untuk mewujudkan masyarakat Desa Hatinggian yang religius, cinta Al-Qur’an, dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. (RB)