News

KUA Lau Angkat Konsep Ekoteologi dalam Tradisi Assikalaibineng untuk Calon Pengantin
04 Dec 2025 | 44 | Penulis : Humas Cabang APRI Sulawesi Selatan | Publisher : Biro Humas APRI Sulawesi Selatan
Lau — Upaya mengintegrasikan nilai religius dengan kepedulian lingkungan kini mulai mendapat ruang baru di level pelayanan masyarakat. Hal itu tampak dalam kegiatan bimbingan perkawinan di Kantor Urusan Agama (KUA) Lau pada Rabu (3/12/25), ketika Penghulu KUA Lau Syamsir Nadjamuddin, memperkenalkan konsep Ekoteologi kepada empat pasangan calon pengantin.
Pendekatan tersebut disampaikan melalui filosofi lokal Assikalaibineng, sebuah tradisi Bugis yang selama berabad-abad menjadi panduan etika, tata krama, dan tata batin dalam memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam kegiatan itu, sang penghulu menjelaskan bahwa Kementerian Agama saat ini sedang mendorong penerapan Ekoteologi sebagai simbolisasi penanaman bibit pohon oleh setiap pasangan catin, sebuah gerakan yang menghubungkan ikatan pernikahan dengan tanggung jawab terhadap keberlanjutan alam.
Dalam sesi pemaparan singkat, Penghulu KUA Lau menekankan bahwa inti dari Assikalaibineng bukan sekadar nasihat perkawinan, tetapi sebuah proses spiritual untuk mengenali asal muasal diri yang satu. Calon pengantin diajak melihat kembali bahwa sebelum menjadi dua individu yang berbeda, mereka memiliki kesadaran yang sama, berasal dari sumber yang sama, dan akan bersatu dalam visi yang sama.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang sering dipandang sebagai jurang pemisah, justru dalam tradisi Bugis dianggap sebagai bentuk pluralitas yang mendewasakan. “Pluralitas itu seperti keberagaman unsur alam—ada tanah, air, udara, dan api. Semuanya tampak berbeda, tetapi justru melalui perbedaan itulah keseimbangan tercipta,” ujarnya.
Konsep Ekoteologi yang kini digagas Kementerian Agama tidak hanya bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberikan makna teologis baru dalam pernikahan. Penanaman pohon bagi calon pengantin diartikan sebagai tanda bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, melainkan lahirnya sebuah keluarga yang akan berinteraksi dengan alam.
“Ibarat meramu pluralitas ekologi untuk mencapai hakikat teologi, begitu pula rumah tangga memerlukan keselarasan antara dunia batin, moral, dan lingkungan,” kata Penghulu KUA Lau.
Ia menambahkan bahwa pohon yang ditanam para catin nantinya akan menjadi simbol perjalanan rumah tangga mereka—bertumbuh, menghadapi musim, dan memerlukan perawatan berkelanjutan. “Jika alam saja harus dijaga, apalagi hubungan suami istri,” tambahnya.
Empat pasangan catin yang hadir mengaku tidak menyangka bimbingan pernikahan dapat dipadukan dengan nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal. Mereka menilai pendekatan tersebut “lebih membumi”, relevan dengan kondisi lingkungan masa kini, dan memberikan makna baru bahwa membangun keluarga juga berarti ikut bertanggung jawab menjaga bumi.
Program integrasi Ekoteologi di KUA Lau dianggap sebagai langkah inovatif yang dapat dicontoh di wilayah lain. Dengan memanfaatkan tradisi Assikalaibineng dan pendekatan lokal yang kuat, upaya pelestarian lingkungan menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Kegiatan ini juga menegaskan bahwa modernisasi layanan keagamaan tidak harus menanggalkan akar budaya. Justru dengan memadukan keduanya, nilai-nilai yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Reporter Syamsir N
Editor : Alimin