Daerah
KUA Biru-Biru dan Penyuluh Agama Tunjukkan Keteguhan Layanan, Meski Ban Bocor di Tengah Perkebunan
20 Sep 2025 | 95 | Penulis : Humas Cabang APRI Deli Serdang | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Biru-Biru, (Humas). Keteguhan hati dan semangat pengabdian jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Biru-Biru kembali diuji dalam perjalanan pulang usai melaksanakan kegiatan penyuluhan di pelosok Desa Penen, Jumat (19/09). Musibah tak terduga terjadi saat ban kendaraan yang ditumpangi rombongan bocor di tengah perkebunan warga, tepat pada waktu maghrib.
Suasana senja yang mulai gelap, diiringi suara adzan maghrib yang berkumandang dari ponsel, seolah menjadi saksi ketabahan para penyuluh agama. Bukannya larut dalam kepanikan, rombongan memilih untuk tetap tenang, saling menguatkan, dan menjaga semangat kebersamaan.
Turut serta dalam perjalanan penuh ujian itu, Penyuluh Agama Islam Eri Yanto, S.HI., M. Rizky Fadly Jaya, S.Sy., dan Murnisah, S.Ag., didampingi langsung oleh Kepala KUA Kecamatan Biru-Biru, Zulkifli Lubis, S.Ag., bersama Penghulu Ahli Pertama Khairul Abdi, S.H., serta staf administrasi KUA, Harianti, S.H. dan Lailatul Husna.
“Ini bagian dari pengabdian kami. Meski ada kendala ban bocor, kami tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersama umat. Jalan yang sulit sekalipun tidak boleh menghentikan semangat dakwah,” ungkap Eri Yanto, dengan penuh ketulusan.
Senada dengan itu, Zulkifli Lubis, S.Ag., Kepala KUA Kecamatan Biru-Biru yang turut mendampingi langsung perjalanan tersebut, menegaskan bahwa tantangan di lapangan bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi peneguh komitmen.
“Kami sadar, medan menuju pelosok desa tidak selalu mudah. Tapi inilah wujud nyata bahwa KUA hadir untuk melayani masyarakat tanpa mengenal lelah. Semoga apa yang kita lalui bersama ini menjadi penguat semangat pengabdian,” tegas Zulkifli.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bahwa tugas seorang penyuluh agama tidak semata berdiri di atas mimbar atau menyampaikan tausiyah di majelis taklim. Mereka juga harus siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan, dari medan yang berat hingga keterbatasan fasilitas. Namun semua rintangan itu diterima dengan penuh keikhlasan, karena niat utama adalah melayani umat hingga ke pelosok.
Lebih dari sekadar insiden, pengalaman ban bocor di tengah perkebunan ini memberikan pelajaran penting tentang arti kebersamaan, kesabaran, dan keikhlasan dalam berdakwah. Di balik rasa lelah dan gelapnya hutan, tersimpan semangat besar yang terus menyala: KUA Biru-Biru akan selalu hadir untuk masyarakat, apa pun rintangannya.
Kehadiran KUA hingga pelosok menjadi bukti nyata bahwa layanan keagamaan tidak hanya sebatas urusan administrasi, tetapi juga menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat. Dari pencatatan nikah, pembinaan keluarga sakinah, hingga penyuluhan di pedesaan, semua dilakukan dengan tulus tanpa membeda-bedakan tempat dan medan yang harus dilalui.
Maka, perjalanan pulang yang penuh cobaan itu pada akhirnya tercatat sebagai kisah inspiratif. Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa di balik setiap pelayanan KUA terdapat dedikasi, pengorbanan, dan keikhlasan. Dan selama semangat itu tetap terjaga, KUA Biru-Biru akan terus menjadi garda terdepan dalam mendampingi umat, kapan pun dan di mana pun.