KIN-FTRA: KUA Tuhemberua Perdalam Isu Ekoteologi
Daerah

KIN-FTRA: KUA Tuhemberua Perdalam Isu Ekoteologi

  24 Jul 2026 |   8 |   Penulis : Humas Cabang APRI Nias Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Tuhemberua (Humas). Kantor Urusan Agama (KUA) Tuhemberua terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai forum ilmiah nasional. Kali ini, KUA Tuhemberua diwakili oleh Penghulu, Betha Nugraha Pratama, S.Sos., mengikuti SAGA#5 Konferensi Ilmiah Nasional Fasilitator dan Trainer (KIN-FTRA) Tahun 2027 Edisi I yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Denpasar secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis pagi (23/07).

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., selaku Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peningkatan kompetensi fasilitator dan trainer sebagai motor penggerak transformasi pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan zaman, termasuk isu-isu lingkungan yang semakin mendesak.

Pada kesempatan tersebut, Betha Nugraha Pratama bergabung di Room 2yang mengangkat tema Ekoteologi. Sesi ini menghadirkan berbagai narasumber yang membahas keterkaitan antara nilai-nilai keagamaan, pelestarian lingkungan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendekatan ilmiah dan praktik berkelanjutan.

Narasumber pertama, Ferunika, S.E., M.Si., memaparkan materi berjudul "Integrasi Design Thinking dan Ekoteologi untuk Penguatan Green Human Resource Management (GHRM) dalam Inovasi Hijau." Materi ini menjelaskan pentingnya mengintegrasikan pendekatan desain berpikir dengan nilai-nilai ekoteologi guna mendorong lahirnya inovasi yang ramah lingkungan dalam pengelolaan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia.

Selanjutnya, Donald Qomaidiasyah Tungkagi menyampaikan materi "Moderasi Beragama yang Ekologis: Tiga Pilar Ekoteologi Nasaruddin Umar untuk Penyusunan Modul Pelatihan Fasilitator." Paparan tersebut menegaskan bahwa moderasi beragama tidak hanya berorientasi pada harmoni sosial, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari amanah keagamaan.

Sementara itu, narasumber ketiga, Dr. Ni Made Widiastuti, S.E., M.M., membawakan materi "Saat Pohon Disapa: Refleksi Ekoteologi melalui Tumpek Wariga di Desa Adat Kesiman Petilan untuk Krisis Lingkungan Modern." Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak memahami bagaimana kearifan lokal dan tradisi keagamaan dapat menjadi inspirasi dalam membangun kesadaran ekologis serta memperkuat upaya pelestarian lingkungan di tengah tantangan krisis iklim global.

Betha menyampaikan bahwa materi yang diperoleh dari konferensi ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, konsep ekoteologi dapat menjadi salah satu pendekatan strategis dalam memperkuat moderasi beragama sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas kepenghuluan, penyuluhan agama, serta berbagai program pembinaan masyarakat di wilayah kerja KUA Tuhemberua. (MHS/BNP)

Bagikan Artikel Ini

Infografis