Daerah
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Penghulu KUA Kabanjahe Soroti Durhaka Kepada Orang Tua dan Memutus Silaturahmi dan Mudah Membenci
23 Mar 2026 | 7 | Penulis : Humas Cabang APRI Karo | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Kabanjahe (Humas). Penghulu KUA Kecamatan Kabanjahe, Ahmad Yani, M.Kom.I, menyampaikan khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Masjid Agung Kabupaten Karo dengan penuh khidmat di hadapan ratusan jamaah. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi juga dari akhlak kepada keluarga. Suasana haru tampak ketika jamaah menyimak pesan-pesan moral yang disampaikan. Khutbah tersebut mengangkat tema larangan durhaka dan pentingnya menjaga silaturrahmi.
Dalam salah satu bagian khutbahnya, Ahmad Yani menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar yang sangat dibenci Allah SWT. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang sejajar dengan syirik kepada Allah. “Jangan sampai ibadah kita selama Ramadhan menjadi sia-sia karena masih menyakiti hati orang tua,”jelasnya pada Sabtu (21/03).
Ia juga mengingatkan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Oleh karena itu, setiap anak wajib menjaga tutur kata dan sikap kepada ayah dan ibu.
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga, khususnya terkait hubungan suami dan istri.
Dalam khutbahnya disebutkan bahwa seorang istri dilarang durhaka kepada suami, dan sebaliknya suami wajib amanah dalam memimpin keluarga. Ia menyampaikan, “Rumah tangga yang tidak dilandasi amanah dan saling menghormati akan jauh dari keberkahan.”
Hal ini sejalan dengan pesan-pesan keagamaan yang menekankan pentingnya menjaga hubungan keluarga sebagai bagian dari ibadah. Jamaah diingatkan agar saling menunaikan hak dan kewajiban dalam keluarga.
Ahmad Yani juga menyoroti larangan memutus tali silaturrahmi yang menjadi salah satu dosa besar dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa hubungan persaudaraan harus terus dijaga, terutama setelah Ramadhan yang penuh dengan nilai persatuan. “Idul Fitri adalah momentum untuk saling memaafkan dan menyambung kembali hubungan yang sempat terputus,” katanya.
Ia menegaskan bahwa orang yang memutus silaturrahmi akan kehilangan banyak keberkahan dalam hidupnya. Pesan ini disampaikan agar masyarakat semakin peduli terhadap hubungan sosial di tengah kehidupan modern.
Sejalan dengan itu, Kepala KUA Kabanjahe, Nasrun, S.Pd.I., MA, menyampaikan apresiasi atas khutbah yang disampaikan oleh Ahmad Yani. Ia menyatakan bahwa pesan-pesan yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
"Kami berharap khutbah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua, pasangan, dan sesama,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat Ramadhan dapat terus terjaga sepanjang tahun. (ays)