Daerah
Ka KUA Pegajahan Catatkan Akad Pernikahan di RS, Haru Saat Wali Nikah Terbaring Sakit
09 Apr 2026 | 27 | Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Pegajahan, (Humas). Di tengah hembusan angin sepoi ruang rawat inap Rumah Sakit Melati Perbaungan, Serdang Bedagai. Terjadi momen yang begitu mengharukan pada Kamis, 2 April 2026 pukul 14.30 WIB. Akad nikah antara Nabila Aulia Putri dan Rizki Ramadhani berlangsung sederhana namun penuh makna di tepi ranjang pasien. Ayah kandung Nabila Bapak Widodo, yang menjadi wali nikah, terbaring lemah karena sakit. Meski tubuhnya rapuh, sorot matanya berbinar melihat putrinya melangkah ke pelaminan cinta. Keluarga memilih rumah sakit sebagai saksi suci, agar ayah Nabila bisa menyaksikan secara langsung tanpa harus berpindah tempat. Suasana ruangan dipenuhi doa dan isak tangis haru dari kerabat yang hadir. Momen ini menjadi bukti bahwa cinta sejati mampu menembus batas fisik dan waktu.
Muhammad Fatris, S.HI, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Pegajahan, memimpin langsung akad pernikahan tersebut dengan penuh khidmat. "Alhamdulillah, hari ini kita menyaksikan ikatan suci yang lahir dari ketabahan dan kasih sayang. Semoga Allah SWT merestui rumah tangga Nabila dan Rizki, serta memberikan kesembuhan cepat untuk wali nikahnya," ujar Pak Kua Fatris dengan suara bergetar.
Beliau membacakan ijab kabul dengan teliti, memastikan setiap kata mengalir sempurna di antara suara monitor jantung yang berdetak pelan. Rizki Ramadhani, calon pengantin laki-laki, mengucapkan qabul dengan tegas, meski air matanya menetes melihat kondisi ayah mertuanya. Nabila Aulia Putri, sang calon mempelai wanita, tampak anggun dalam gamis sederhana, memegang tangan ayahnya erat. Acara ini tak hanya memenuhi syarat agama, tapi juga menjadi obat penyemangat bagi pasien ruang rawat.
Ayah Nabila, Bapak Widodo, tak bisa berdiri tegak seperti wali nikah biasa. Dengan bantuan infus, ia tetap mengawasi proses akad dari ranjang rumah sakit. "Saya rela apa saja demi melihat Nabila bahagia. Ini mimpi saya yang jadi kenyataan, walau di saat tubuh ini lemah," katanya lirih sebelum akad dimulai.
Putrinya, Nabila, menahan isak sambil mencium tangan ayahnya berulang kali. Rizki, yang telah lama menanti momen ini, berlutut di sisi ranjang untuk meminta restu. Keluarga besar berkumpul di sekitar, membentuk lingkaran doa yang hangat. Kehadiran ayah sebagai wali menjadi simbol pengorbanan tak ternilai, membuat semua yang hadir terpaku dalam emosi mendalam. Rumah sakit seolah berubah menjadi masjid kecil penuh berkah.
Dua saksi hadir secara resmi untuk menyempurnakan akad dari masing – masing pihak serta disaksikan anggota keluarga. Mereka duduk mengelilingi ranjang, menyaksikan ijab kabul dengan hati yang pilu namun bahagia. "Kami semua terharu. Ini pelajaran bahwa pernikahan bukan soal kemewahan, tapi ikhlas," kata Bapak Rahmat sebagai saksi utama. Saksi-saksi ini tak hanya menandatangani dokumen, tapi juga berdoa bersama agar ayah Nabila segera sembuh. Rizki dan Nabila saling pandang, mata mereka basah oleh air mata kebahagiaan. Kehadiran mereka memperkuat validitas akad sesuai hukum Islam. Momen ini direkam secarik demi kenangan abadi bagi keluarga.
Ibu Nabila menangis tersedu melihat suaminya memberi restu, sementara adik-adik Nabila memeluk kakaknya erat. Rizki berjanji di depan semua, "Saya akan jaga Nabila dan keluarganya seperti milik sendiri." Suasana haru menular, membuat koridor rumah sakit sejenak hening oleh kumandang takbir. Acara selesai dengan sholat berjamaah singkat di sudut ruangan. Ini menjadi cerita yang akan dikenang selamanya oleh semua yang hadir.
Akad di Rumah Sakit Melati ini bukan sekadar formalitas, melainkan kisah cinta yang menggetarkan hati. Nabila akhirnya bersatu dengan Rizki, seorang petani muda yang setia menunggu. Meski tanpa pesta mewah, kebahagiaan mereka nyata terpancar. Pak Kua Fatris menambahkan, "Pernikahan seperti ini mengajarkan kita tentang qadha dan qadar Allah. Semoga menjadi inspirasi bagi pasangan lain." Keluarga berharap ayah Nabila lekas pulih untuk menghadiri walimah sederhana nanti. Kisah ini menyebar cepat di media sosial, menyentuh hati netizen. Cinta mereka membuktikan, tak ada tempat yang salah untuk memulai babak baru hidup.
Setelah akad usai, semua hadir berpelukan dan berdoa bersama. Bapak Widodo tersenyum lemah, berkata, "Terima kasih semuanya. Ini hadiah terbaik untuk saya." Nabila dan Rizki berfoto sederhana di sisi ayahnya, dengan buku nikah KUA di tangan. Pak Kua Fatris menutup acara dengan doa panjang agar rumah tangga mereka dilimpahi barokah.
"Semoga Allah berikan umur panjang dan kesehatan untuk semua," tuturnya. Keluarga pulang dengan hati penuh syukur, meninggalkan ruang rawat yang kini terasa lebih cerah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik ujian, ada keindahan yang tak tergantikan. Selamat menempuh hidup baru, Nabila dan Rizki!