Daerah

Harmoni Adat dan Syariah : Marton Abdurrahman Dijemput Genderang Menuju Mimbar Idul Adha di Masjid Al Muhajirin Kota Tengah
27 May 2026 | 26 | Penulis : Biro Humas APRI Gorontalo | Publisher : Biro Humas APRI Gorontalo
KOTA TENGAH – Pagi ini Rabu (27/05/26), heningnya udara jelang sholat Ied di Kecamatan Kota Tengah pecah oleh dentuman ritmis Hantalo (genderang adat). Suara khas yang membangkitkan. semangat itu bukan sekadar hiburan, melainkan panggilan agung yang menandai dimulainya prosesi penyambutan pemimpin shalat Idul Adha 1447 H.
Di Masjid Besar Al Muhajirin, ratusan jamaah yang telah berkumpul sejak dini hari terkejut sekaligus takjub. Dari kejauhan, terlihat rombongan "Tauwa Lo Lipu" (pemimpin masyarakat/ulama) berjalan kaki dengan khidmat, diiringi alunan genderang yang dipimpin oleh Juni Kasim. Di barisan terdepan, tampak Kepala KUA Kecamatan Kota Tengah, H. Marton Abdurrahman, S.Ag., M.HI., yang bertindak sebagai Khatib, serta Imam Shalat, Muhammad Farid Abdurrahman.
Prosesi Adat: Menghormati Ulama, Merawat Tradisi
Penyambutan ini merupakan wujud nyata dari filosofi "Adat Bersendikan Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah". Rombongan khatib dan imam dijemput langsung dari rumah kediaman salah satu jamaah masjid untuk menuju tempat pelaksanaan shalat.
Hi.Yusuf Panigoro, selaku perwakilan Lembaga Adat Gorontalo (Bate lo Kota Tengah), menjelaskan makna mendalam di balik tradisi ini.
"Penyambutan genderang ini merupakan bagian dari prosesi adat tradisi dalam shalat Idul Adha. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi masyarakat Gorontalo terhadap para ulama dan pemimpin agama yang akan membimbing kita dalam ibadah. Suara Hantalo yang dipukul dengan semangat oleh saudara kita Juni Kasim, adalah simbol kegembiraan hati umat dalam menyambut hari Raya," ujar Yusuf, Rabu (27/5/2026).
Selain Yusuf Panigoro (Bate), prosesi ini juga melibatkan Karmin Delatu (Wu'u lo Kota Tengah)) dan Juni Kasim sebagai penabuh genderang. Langkah kaki mereka yang mantap menuju masjid disaksikan oleh seluruh jamaah yang berdiri memberi jalan, menciptakan pemandangan haru nan megah.
Khutbah Menyentuh Hati : Ikhlas Lebih Berharga
Setiba di Masjid Al Muhajirin, shalat Idul Adha dilaksanakan dengan khusyuk. Bertindak sebagai Imam adalah Muhammad Farid Abdurrahman, sementara H. Marton Abdurrahman menyampaikan khutbah berjudul "Hati yang Ikhlas Lebih Berharga dari Segalanya".
Dalam khutbahnya, Marton menekankan bahwa esensi Idul Adha bukan terletak pada mahal atau besarnya hewan qurban, melainkan pada ketulusan hati saat melepaskannya demi Allah SWT.
"Allah tidak melihat daging dan darah qurban kita, tetapi Dia melihat ketakwaan dan keikhlasan hati kita. Seperti prosesi adat pagi ini yang dilakukan dengan sepenuh hati, demikian pula seharusnya kita berqurban. Hati yang ikhlas adalah modal utama seorang hamba untuk diterima amal ibadahnya," tutur Marton di hadapan jamaah.
Kehadiran Forkopimcam: Simbol Persatuan
Shalat Idul Adha tahun ini dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kota Tengah, termasuk Camat Kota Tengah, Sutami Suratinoyo, beserta Kapolsek dan Danramil. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap kegiatan keagamaan dan pelestarian budaya lokal.
Camat Sutami Suratinoyo mengapresiasi kolaborasi antara pihak masjid, lembaga adat, dan instansi pemerintah.
"Ini adalah contoh indah bagaimana agama dan adat bisa berjalan beriringan tanpa saling mendominasi, melainkan saling melengkapi. Prosesi penyambutan dengan genderang ini memperkaya khazanah budaya Gorontalo dan memperkuat ukhuwah islamiyah maupun wathaniyah," kata Sutami.
Penutup
Usai shalat dan khutbah, suasana semakin hangat dengan saling bersalaman antara jamaah, tokoh adat, dan pejabat. Dentuman genderang yang tadi pagi menggema kini berganti dengan gema takbir dan tahmid yang membahana, mengantar umat Islam di Kota Tengah memasuki hari raya dengan jiwa yang bersih dan hati yang lapang.
Melalui momen ini, Masjid Besar Al Muhajirin dan masyarakat Kota Tengah kembali membuktikan bahwa melestarikan adat bukanlah hal yang bertentangan dengan syariat, justru menjadi sarana untuk memuliakan ajaran agama dengan cara yang santun dan bermartabat.
Tags:
Pengorbanan yang Agung
27 May 2026