Jembatan Bahasa di Meja Akad: Kisah Inspiratif Penghulu KUA PSP Utara Menyatukan Dua Benua
13 Apr 2026 | 23 | Penulis : Humas Cabang APRI Kota Padang Sidempuan | Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara
Padangsidimpuan, (Humas). Suasana khidmat menyelimuti prosesi sakral yang berlangsung pada Ahad (12/04) di Kota Padangsidimpuan. Di hadapan meja akad, duduk seorang pria berkebangsaan Turki, Ferdi Basaran, yang tampak tegang namun penuh harap untuk mempersunting belahan jiwanya, Hafni Nur Insan. Pernikahan lintas negara ini bukan sekadar pertemuan dua insan, melainkan pertemuan dua budaya yang menuntut ketelitian administratif sekaligus kehangatan komunikasi agar esensi dari janji suci tersebut dapat tersampaikan dengan sempurna.
Momen krusial pun tiba saat prosesi pendaftaran dan pemeriksaan rukun nikah dimulai. Di tengah perbedaan bahasa yang biasanya menjadi sekat, Muhammad Hanapi Siregar, S.H.I, Penghulu pada KUA Padangsidimpuan (PSP) Utara, hadir membawa warna berbeda. Dengan pembawaan yang tenang dan penuh percaya diri, Hanapi mulai memandu sang mempelai pria menggunakan bahasa asing. Kefasihan bahasa Inggris yang mengalir dari lisan sang penghulu seketika memecah ketegangan, memberikan rasa nyaman bagi Ferdi yang menempuh perjalanan jauh dari Turki demi cintanya.
Kecakapan Hanapi dalam berbahasa Inggris bukanlah sekadar formalitas, melainkan bentuk pelayanan prima yang ia berikan kepada masyarakat. Ia dengan telaten menjelaskan setiap alur prosedur pencatatan nikah, hak, serta kewajiban suami istri dalam perspektif hukum Indonesia dan agama Islam. Kepiawaiannya menjembatani kendala komunikasi ini membuat Ferdi Basaran tidak hanya mengangguk paham secara administratif, tetapi juga menghayati setiap prosesi yang sedang ia lalui di tanah rantau.
Di balik seragam dinasnya, tersimpan rekam jejak profesional yang menjadi akar dari kepiawaiannya berkomunikasi. Sebelum mendedikasikan diri di bawah naungan Kementerian Agama, Hanapi adalah seorang pegawai di salah satu bank swasta terkemuka. Pengalaman bertahun-tahun di dunia perbankan telah menempanya menjadi pribadi yang adaptif, mampu melayani nasabah dari berbagai latar belakang dengan pola komunikasi yang terukur dan santun. Kemampuan menangani beragam karakter manusia itulah yang kini ia transformasikan ke dalam layanan publik di KUA.
Kini, setelah setengah daswarsa mengabdi sebagai penghulu, Hanapi membuktikan bahwa latar belakang korporat bukanlah hal yang sia-sia. Ia membawa standar service excellence atau pelayanan prima perbankan ke dalam birokrasi keagamaan. Baginya, melayani pasangan pengantin bukan sekadar mencatat angka di buku nikah, melainkan memastikan setiap warga negara—termasuk warga negara asing—merasa dihormati dan dilayani dengan standar profesionalitas yang tinggi.
Pemandangan Hanapi yang dengan luwes beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris menjadi bukti bahwa aparatur sipil negara saat ini kian berkembang mengikuti tuntutan zaman. Di era globalisasi ini, keberadaan penghulu yang melek bahasa asing menjadi aset berharga, terutama di wilayah yang mulai banyak didatangi oleh warga mancanegara. Kehadirannya memastikan bahwa tidak ada lagi dinding pemisah antara regulasi pemerintah dan pemahaman subjek hukum yang dilayani.
Pelaksanaan akad nikah antara Ferdi dan Hafni pun berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Kejelasan informasi yang disampaikan Hanapi membuat seluruh prosesi, mulai dari pemeriksaan berkas hingga pembacaan Sighat Taklik, dipahami sepenuhnya oleh sang mempelai pria. Riuh rendah ucapan syukur dari pihak keluarga pun pecah saat kata "sah" menggema, menandai dimulainya perjalanan baru bagi pasangan beda kewarganegaraan tersebut.
Bagi Hanapi sendiri, setiap pernikahan internasional memberikan tantangan sekaligus kepuasan tersendiri. Ia menyadari bahwa citra institusi KUA berada di pundaknya saat berhadapan dengan warga asing. Melalui dedikasinya, ia ingin menunjukkan bahwa Kantor Urusan Agama adalah tempat yang ramah, modern, dan diisi oleh sumber daya manusia yang kompeten serta mampu bersaing secara intelektual di level internasional.
Kisah Muhammad Hanapi Siregar pada Ahad itu menjadi pengingat bahwa dedikasi dan keterampilan komunikasi adalah kunci dalam pelayanan publik. Di tangan seorang penghulu yang memiliki visi dan kecakapan bahasa, meja akad nikah berubah menjadi jembatan diplomasi budaya yang indah. Sebuah inspirasi dari sudut Padangsidimpuan Utara, di mana cinta dua benua dipadukan dengan layanan yang menyentuh jiwa dan melampaui batas-batas bahasa. (MHS/HNP)