Dialog Hangat Ekoteologi di KUA Lau: H. Nurdin Tekankan Risalah Nabi sebagai Rahmat bagi Seluruh Ciptaan
News

Dialog Hangat Ekoteologi di KUA Lau: H. Nurdin Tekankan Risalah Nabi sebagai Rahmat bagi Seluruh Ciptaan

  10 Feb 2026 |   26 |   Penulis : Humas Cabang APRI Sulawesi Selatan |   Publisher : Biro Humas APRI Sulawesi Selatan

Perbincangan hangat bernuansa reflektif berlangsung antara Penghulu KUA Lau, Syamsir N, dan PLT Kepala KUA Lau Maros, H. Nurdin, membahas pemahaman ekoteologi dalam perspektif Islam. Dialog tersebut mengaitkan hubungan manusia, alam, dan Tuhan dalam konteks diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Dalam pemaparannya, H. Nurdin menjelaskan bahwa ekoteologi tidak bisa dilepaskan dari misi kenabian Rasulullah Saw yang membawa kasih sayang tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh ciptaan Allah. Menurutnya, Islam sejak awal telah mengajarkan keseimbangan relasi antara manusia, lingkungan, dan dimensi spiritual.
Ia mengulas bahwa anjuran berbuat baik kepada sesama ciptaan—baik manusia, hewan, maupun alam—berakar dari kesadaran tauhid. Ketika manusia memahami kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, maka sikap ramah terhadap alam dan makhluk lain akan tumbuh secara alami.

Lebih lanjut, H. Nurdin menyinggung fenomena gangguan makhluk halus yang kerap dialami sebagian manusia. Ia menilai hal tersebut sering kali bukan semata persoalan mistik, melainkan akibat lemahnya pemahaman spiritual manusia terhadap posisi dirinya sebagai hamba Allah yang hidup berdampingan dengan ciptaan lain.

“Ketika manusia lupa bahwa Allah Maha Hadir dan Maha Mengatur seluruh alam, maka keseimbangan batin terganggu. Dari situlah ketakutan, kegelisahan, bahkan gangguan-gangguan nonfisik sering muncul,” ujarnya.

"Nabi Muhammad Saw diutus bukan hanya untuk manusia, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jika kita memahami itu, maka berbuat baik kepada sesama ciptaan adalah bagian dari iman, dan gangguan batin sering muncul ketika manusia lupa akan kehadiran Allah dalam hidupnya.” imbuhnya.

Dialog tersebut menjadi ruang refleksi penting tentang perlunya membangun kesadaran spiritual dan ekologis secara bersamaan. Dengan pemahaman yang utuh, manusia diharapkan mampu menjalani kehidupan yang harmonis, penuh empati, serta selaras dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Reporter Syamsir N
Editor: @limin

Bagikan Artikel Ini

Infografis