Antara WFA dan Bakti Tanpa Jeda: KUA Medan Perjuangan Kawal Bimwin Pasca Libur Lebaran
Daerah

Antara WFA dan Bakti Tanpa Jeda: KUA Medan Perjuangan Kawal Bimwin Pasca Libur Lebaran

  26 Mar 2026 |   15 |   Penulis : Biro Humas APRI Sumatera Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Medan, (Humas). Sisa-sisa kemeriahan Lebaran masih terasa di sudut-sudut Kota Medan, namun di sebuah ruangan sejuk di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Perjuangan, denyut pengabdian tidak pernah benar-benar berhenti. Di saat sebagian orang masih menikmati momen santai berkumpul bersama keluarga, H. Ramlan, MA, Kepala KUA Medan Perjuangan, justru tampak bersemangat memberikan wejangan. Tak ada gurat lelah di wajahnya, hanya ada binar dedikasi saat ia menatap pasangan calon pengantin (catin) yang siap mengarungi bahtera rumah tangga.

Pagi itu, perhatian Ramlan tertuju pada Riri Khuntary dan Mei Riki Syaputra. Pasangan ini tampak khusyuk menyerap setiap butir materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang disampaikan secara lugas namun menyentuh. Bagi Ramlan, memberikan bekal bagi para catin bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan ketahanan keluarga yang kokoh di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ramlan menekankan bahwa Bimwin adalah fondasi penting sebelum ijab kabul diucapkan. Komunikasi, kesabaran, dan pemahaman hak serta kewajiban menjadi menu utama yang ia sajikan dengan gaya bicara yang mengayomi. "Menikah itu bukan hanya soal hari H yang megah, tapi tentang bagaimana menjaga api cinta tetap menyala setelah pesta usai," tuturnya di sela-sela pemaparan materi yang disambut anggukan mantap dari Riri dan Mei Riki.

Komitmen KUA Medan Perjuangan untuk tetap beroperasi secara optimal di masa transisi pasca-libur Lebaran memang patut diacungi jempol. Ramlan menegaskan bahwa kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang sedang berlaku tidak menjadi alasan untuk mengendurkan pelayanan kepada publik. "Kami pastikan layanan KUA, walau di tengah ada kebijakan WFA ini tetap melayani masyarakat dengan baik dan setulus hati," jelas Ramlan dengan nada bicara yang penuh keyakinan.

Suasana hangat di ruang bimbingan itu berlanjut saat pasangan berikutnya, Muhammad Nurhadi dan Puja Apriani, masuk untuk mendapatkan sesi yang sama. Interaksi yang terjalin tidak kaku; Ramlan memosisikan dirinya sebagai orang tua sekaligus mentor yang siap mendengar kekhawatiran pasangan muda ini. Pendekatan humanis inilah yang membuat KUA Medan Perjuangan terasa seperti rumah yang ramah bagi setiap warga yang datang.

Kepuasan pun terpancar jelas dari wajah para calon pengantin. Muhammad Nurhadi mengaku terkejut sekaligus kagum dengan kesigapan petugas KUA meskipun suasana libur Lebaran belum sepenuhnya usai. "Awalnya kami pikir akan sepi atau layanannya melambat karena masih suasana Lebaran dan ada sistem WFA, tapi ternyata kami dilayani dengan sangat cepat dan sangat ramah. Materi yang diberikan Pak Ramlan juga sangat membuka pikiran kami," ungkap Nurhadi yang diamini oleh Puja Apriani.

Bagi Ramlan dan staf KUA Medan Perjuangan, testimoni positif dari masyarakat adalah "tunjangan" batin yang tak ternilai harganya. Mereka membuktikan bahwa birokrasi bisa tampil wajah yang lebih manis dan responsif. Tidak ada berkas yang dibiarkan menumpuk, tidak ada warga yang dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Semangat "setulus hati" bukan sekadar jargon, melainkan napas kerja yang mereka hembuskan setiap harinya.

Layanan Bimwin pasca-Lebaran ini akhirnya menjadi potret nyata dari sebuah institusi yang bertransformasi. KUA Medan Perjuangan telah berhasil menunjukkan bahwa pelayanan publik yang berkualitas bermula dari integritas pemimpin dan ketulusan para stafnya. Di balik gedung sederhana itu, tersimpan harapan besar agar setiap pasangan yang melangkah keluar dari sana tidak hanya membawa buku nikah, tetapi juga membawa kemandirian dan kebahagiaan dalam membangun keluarga sakinah. (MHS) 

Bagikan Artikel Ini

Infografis