Pos Keagamaan Kemenag Hadir untuk Penyintas Longsor Situkung: Evakuasi, Doa Bersama, hingga Trauma Healing
20 Nov 2025 | 98 | Penulis : APRI mBanjar | Publisher : Biro Humas APRI Jawa Tengah
Banjarnegara — Bencana tanah longsor yang melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum pada Minggu (16/11) meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari tiga jam, menyebabkan lereng curam yang sudah retak sejak musim kemarau akhirnya runtuh. Material tanah dan batuan meluncur cepat sejauh hampir satu kilometer, menghantam permukiman warga dan menimbun puluhan rumah dalam hitungan menit. Hingga Rabu (19/11), tercatat 3 warga meninggal dunia dan 25 orang masih belum ditemukan, sementara ratusan lainnya terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak parah atau hilang tertimbun.
Dalam situasi darurat ini, Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara turut hadir sejak hari pertama melalui pendirian Pos Keagamaan di kawasan pengungsian. Pos keagamaan tersebut tidak hanya memberikan layanan rohani dan dukungan psikologis, tetapi juga ikut membantu proses evakuasi warga dari permukiman terdampak ke titik aman serta mendampingi keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya. Penyuluh agama Kemenag bersama tim relawan setempat menjadi bagian dari unsur yang mengevakuasi warga lanjut usia, anak-anak, dan ibu-ibu yang terjebak di rumah saat longsor terjadi.
Setibanya para penyintas di pengungsian, Pos Pelayanan Keagamaan langsung difungsikan sebagai pusat pelayanan rohani, ruang pemulihan batin, dan tempat konseling psikososial. Penyuluh agama memberikan bimbingan ibadah, memimpin doa bersama untuk korban meninggal dan mereka yang belum ditemukan, serta memberikan penguatan iman dan kesabaran kepada warga yang mengalami kehilangan. “Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga anggota keluarga. Pendampingan spiritual menjadi kebutuhan yang sangat penting di tengah rasa trauma dan kebingungan,” ungkap salah satu penyuluh yang bertugas.
Upaya trauma healing menjadi fokus utama pos keagamaan. Kegiatan diberikan secara terstruktur, terutama kepada anak-anak yang mengalami shock akibat melihat langsung proses longsor ataupun kehilangan anggota keluarga. Melalui permainan edukatif, dongeng keagamaan, mewarnai, dan aktivitas ceria lainnya, tim berupaya mengembalikan rasa aman dan suasana hati mereka. Sementara bagi para ibu dan lansia, ruang curhat dan pendampingan emosional dibuka setiap hari untuk membantu mereka memproses kesedihan dan kecemasan.
Pos Keagamaan juga menyediakan perlengkapan ibadah darurat, imam dan pembimbing rohani, hingga layanan pemulasaraan jenazah bagi korban yang ditemukan. Tim turut terlibat dalam mengatur tata ibadah dan pelaksanaan doa bersama di beberapa titik pengungsian. Semua kegiatan berjalan beriringan dengan layanan medis, dapur umum, dan operasi SAR yang dikoordinasikan oleh BPBD, Basarnas, TNI–Polri, serta puluhan unsur relawan lainnya.
Plt Kepala Kantor Kemenag Banjarnegara menegaskan bahwa pendampingan ini tidak hanya untuk masa tanggap darurat. Kemenag akan terus hadir hingga masa pemulihan melalui konseling lanjutan, bimbingan keluarga, kajian pascabencana, dan pembinaan rohani berkelanjutan. “Kami berkomitmen mendampingi masyarakat Pandanarum hingga mereka benar-benar pulih. Ini adalah bagian dari tugas kemanusiaan yang harus dijalankan dengan penuh empati dan ketulusan,” ujarnya.
Dengan hadirnya Pos Pelayanan Keagamaan di tengah para penyintas, diharapkan warga yang terdampak dapat memperoleh ketenangan, kekuatan, dan pengharapan baru untuk bangkit kembali setelah bencana besar yang meluluhlantakkan wilayah Situkung.