Daerah
Penghulu Naik Kelas: Humanisme, Profesionalisme, dan Integritas Menggema di Gorontalo
07 Apr 2026 | 33 | Penulis : Biro Humas APRI Gorontalo | Publisher : Biro Humas APRI Gorontalo
Gorontalo — Semangat perubahan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kembali bergelora dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Penghulu Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bimas Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Selasa (7/4/2026), bertempat di Grand Q Hotel Gorontalo.
Di tengah denyut zaman yang terus bergerak maju, para penghulu hadir bukan sekadar sebagai pencatat akad, melainkan penjaga nilai, penenun harmoni, dan pelita dalam bahtera rumah tangga umat. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus akselerasi, mengasah kapasitas penghulu agar tetap relevan, adaptif, dan berwibawa dalam menghadapi tantangan sosial keagamaan yang kian kompleks.
Ketua APRI Wilayah Provinsi Gorontalo, Hasan Dau, bersama jajaran turut ambil bagian aktif dalam kegiatan ini. Bahkan, beliau tampil sebagai pemateri dengan mengusung tema inspiratif: “Penghulu Humanis, Profesional, dan Berintegritas.”
Dalam penyampaiannya, Hasan Dau menegaskan bahwa penghulu masa kini harus mampu menghadirkan wajah pelayanan yang ramah, berempati, namun tetap teguh dalam aturan dan nilai.
“Penghulu bukan hanya saksi akad, tetapi saksi peradaban. Ia hadir dengan hati yang lembut, pikiran yang cerdas, dan sikap yang lurus,” ungkapnya penuh makna.
Materi yang disampaikan tidak hanya menggugah nalar, tetapi juga menyentuh rasa—mengajak para penghulu untuk menata kembali orientasi pengabdian, dari sekadar tugas administratif menuju penguatan nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Di sela-sela kegiatan, Humas APRI Wilayah melakukan wawancara eksklusif dengan Ketua Tim Kepenghuluan Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo, Bapak Rizan Adam. Dalam wawancara tersebut, ia menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sebagai fondasi utama dalam menciptakan pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya.
Kegiatan ini berlangsung dalam suasana yang hangat namun sarat makna—di mana diskusi mengalir, gagasan bertaut, dan harapan dirajut bersama. Seolah setiap kata yang terucap menjadi benih perubahan, dan setiap langkah yang diayun menjadi jejak menuju pelayanan yang lebih bermartabat.
Di ruang itu, para penghulu belajar bukan hanya tentang regulasi, tetapi juga tentang rasa.Tentang bagaimana menjadi hadir, bukan sekadar terlihat.Tentang bagaimana melayani, bukan sekadar menjalani.
Dan dari Gorontalo, gema itu pun berangkat—mengalun lirih namun pasti, bahwa penghulu Indonesia akan terus tumbuh, menjadi lebih humanis, lebih profesional, dan tetap berintegritas.
💬 Komentar Pembaca
C
Cod
07 Apr 2026 14:22
Joss jlemmm
KUA Marga Tiga Sosialisasikan Nikah Sah Resmi
07 Apr 2026