Sya’ban: Mengurai Makna 5 Huruf, Jembatan Spiritual Menuju Ramadan
Opini

Sya’ban: Mengurai Makna 5 Huruf, Jembatan Spiritual Menuju Ramadan

  23 Jan 2026 |   10 |   Penulis : Humas Cabang APRI Nias Utara |   Publisher : Biro Humas APRI Sumatera Utara

Dalam penanggalan kalender Hijriah, kaum Muslimin kini berada pada bulan kedelapan, yaitu bulan Syaban. Meskipun keutamaannya tidak sebanding dengan bulan Ramadhan, Syaban tetap memiliki nilai spiritual yang sangat penting sebagai fase peningkatan kualitas iman dan amal seorang hamba.

Secara etimologis, kata Sya’ban berasal dari bahasa Arab “syaba” yang bermakna berpisah atau bercabang. Makna ini memberi isyarat bahwa Syaban adalah masa transisi, yakni bulan persiapan sebelum memasuki Ramadhan yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW pun menjadikan Syaban sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, karena pada bulan inilah peluang membersihkan diri dan pendalaman iman terbuka sangat luas.

Keistimewaan bulan Syaban semakin tampak karena posisinya yang berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan. Selain itu, Syaban menyimpan keunikan tersendiri yang dapat kita renungi melalui lima huruf penyusunnya, yaitu Syin, ‘Ain, Ba, Alif, dan Nun, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Abdurrahman As-Syafuri dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais.

Letak Syaban yang tepat sebelum Ramadhan menjadikannya waktu yang sangat strategis untuk melakukan persiapan lahir dan batin. Pada bulan ini, seorang Muslim dapat melatih jiwanya, membersihkan hatinya, serta meluruskan niat agar ketika Ramadhan datang, ia telah siap secara iman dan mental dengan matang. 

Al-Imam Abdurrahman As-Syafuri dalam kitab karyanya yang berjudul Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais menjelaskan bahwa kata Syaban (شعبان) merupakan rangkaian makna yang bernilai yang tercermin dari setiap hurufnya, yang sekaligus menjadi panduan sikap dan amalan selama bulan ini. 

Huruf pertama, Syin (ش), bermakna Asy-Syaraf  (الشَّرَفُ) atau kemuliaan. Hal ini menunjukkan bahwa Syaban adalah bulan penuh kehormatan, waktu yang tepat untuk menjaga martabat diri sebagai hamba Allah dengan memperbaiki akhlak, menjaga lisan, serta meningkatkan ketaatan. Terlebih pada bulan ini, amal perbuatan manusia diangkat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ahmad yang artinya “Itu (Sya’ban) bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa”.

Huruf kedua, ‘Ain (ع), dimaknai sebagai Al-‘Uluw (العُلُوُّ), yaitu ketinggian derajat dan kemuliaan kedudukan. Syaban menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan melalui ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, seperti puasa sunnah, memperbanyak shalawat, serta mempererat hubungan dengan Al-Qur’an. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”  

Kemudian Huruf ketiga, Ba (ب), bermakna Al-Birr (البِرُّ) atau kebaikan. Syaban mengajarkan kita untuk memperluas makna kebajikan, tidak hanya dalam bentuk ibadah personal, tetapi juga melalui kepedulian sosial, membantu sesama, dan menebar manfaat di tengah masyarakat. Terlebih di tengah berbagai musibah, bencana, dan konflik yang terjadi di berbagai penjuru dunia, nurani kita dipanggil untuk hadir dan peduli. Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi setiap kebaikan yang dilakukan, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An‘am ayat 160 yang artinya: “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).”  

Huruf keempat, Alif (ا), dimaknai sebagai Al-Ulfah (الأُلْفَة), yaitu kasih sayang dan keharmonisan. Ini menegaskan bahwa Syaban adalah waktu yang tepat untuk mempererat persaudaraan, memperbaiki hubungan yang selama ini renggang, serta menumbuhkan sikap saling memaafkan. Nilai ini selaras dengan ciri orang bertakwa yang disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 134, yang artinya “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”   

Huruf terakhir, Nun (ن), bermakna An-Nur (النُّوْرُ) atau cahaya. Cahaya ini menjadi simbol petunjuk Ilahi yang menenangkan jiwa dan menjernihkan hati. Setiap amal yang kita lakukan di bulan Syaban semoga berubah menjadi sinar yang membimbing langkah hidup, sekaligus menjadi bekal berharga untuk menyongsong Ramadhan dengan keimanan yang semakin kuat dan hati yang semakin suci.

Sebagai akhir dari pembahasan ini, marilah kita memanfaatkan bulan Syaban dengan sungguh-sungguh melalui peningkatan amal kebajikan, mempererat kembali hubungan antar sesama, serta menumbuhkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jangan biarkan bulan Syaban berlalu tanpa kesan dan perubahan. Jadikanlah Syaban sebagai masa pembinaan ruhani, agar ketika bulan Ramadhan hadir, kita telah siap menyambutnya dengan hati yang bersih, iman yang kokoh, dan semangat ibadah yang semakin meningkat.

*Penulis : Betha Nugraha Pratama, S.Sos., (Penghulu Ahli Pertama, KUA Tuhemberua, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Utara)

Bagikan Artikel Ini

Infografis